
Malam ini mereka tidur bersama di rumah sederhana milik orang tua Arla. Keduanya masih terlihat canggung karena merasa pernikahan itu terlalu mendadak sekali.
Tanpa meminta ijin terlebih dulu, Arla segera tidur memunggungi Satria yang kini sudah menjadi suaminya. Melihat hal itu Satria hanya tersenyum, kelakuan jahilnya kembali meronta-ronta.
Satria memeluk Arla dari belakang, dia tidak masalah jika malam ini Arla tak bisa melayaninya ataupun Arla belum siap melakukannya lagi. Satria hanya ingin memeluk pujaan hati yang selama ini dia inginkan.
"Selamat tidur sayang," ucapnya berbisik di telinga Arla yang merasa geli.
PLAK!
Arla menampar wajahnya dengan tangan yang satunya lagi.
"Aw! Kenapa menamparku?" Satria langsung duduk.
"Jangan macam-macam!" kata Arla ketus, dia menutup wajahnya dengan selimut agar Satria tak bisa melihatnya.
Lagi-lagi Satria tersenyum geli melihat kelakuan istri keduanya yang dia anggap begitu menggemaskan.
"Jika bukan malam ini, masih ada malam lain kan?" katanya.
Tak ada jawaban dari Arla, Satria kembali tidur terlentang dengan matanya yang kini mulai terpejam.
******
Pagi hari beberapa tetangga terdengar riuh menggosipkan ada sebuah mobil mewah terparkir di pekarangan rumah Yani. Mereka membicarakan hal yang belum pasti terjadi, sampai pada akhirnya Pak penghulu yang baru saja datang menjelaskan semuanya.
"Apa?! Jadi semalam Arla menikah bersama laki-laki kaya Pak?" tanya seorang ibu berrambut sebahu.
"Iya, saya yang menikahkan mereka semalam, baguslah jika mereka menikah bukan begitu kan ibu-ibu?" tanya Pak penghulu sambil menyantap gorengan di tangannya.
"Bagus bagaimana Pak, mereka pasti sudah berbuat sesuatu, makannya di nikahkan malam-malam begitu, mana kita gak ada yang di undang lagi!" balas seorang ibu berambut panjang.
"Yang penting mereka sudah menikah dan sudah memperbaiki kesalahannya menebus kesalahan dengan cara menikah ibu-ibu, dari pada tidak menikah sama sekali? Iyakan?" jawab Pak penghulu lagi.
"Tapi kan tetap saja mereka mencemarkan nama baik kampung ini, apa kata orang kalau di kampung kita ini ada orang yang menikah malam-malam karena sudah berjinah?"
"Sudahlah ibu-ibu, jangan pada sibuk mengurusi kehidupan orang lain, yang terpenting kita harus mendidik anak dan cucuk kita dengan baik, agar tidak terjadi hal seperti ini lagi!" kata Pak penghulu.
__ADS_1
Mereka tidak mau mendengar penjelasan Pak penghulu, pada akhirnya mereka semua mengusir Arla dan juga Satria dari kampung.
Satria dan Arla menurut saja, mereka merasa perbuatan ibu-ibu tadi memang wajar saja karena kedatangan mereka secara tiba-tiba dengan sebuah masalah yang besar akan membuat siapa saja merasa jijik.
"Maaf," ucap Satria lagi di tengah mengemudikan mobil mewahnya.
Arla terdiam sambil memandang ke arah jendela. Dia tak ingin menjawab apapun lagi.
Melihat sikap sikap Arla seperti itu Satria tak ingin berbicara apapun lagi. Dia sesekali melirik Arla sambil mengemudikan mobilnya.
"Berhenti di sini!" kata Arla sambil menepuk bahu Satria, dia merasa mual saat mencium aroma bau di mobil.
"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Satria cemas, dia segera menghentikan mobil.
Karena rasa mual yang semakin tak bisa dia tahan, Arla membuka pintu mobil lalu pergi begitu saja membuat Satria terkejut dan langsung menyusulnya.
"Hei, mau kemana?!" teriak Satria saat melihat Arla seolah kabur lagi darinya.
Arla berlari ke belakang pohon muntah-muntah. Perutnya terasa sakit sekali, apalagi pagi ini dia belum makan sama sekali.
Setelah selesai, dia memandang ke arah pohon yang kini dia pegang. Ternyata pohon mangga muda. Matanya berbinar saat melihat ada beberapa mangga muda yang setengah matang dengan lebatnya menggantung di pohon.
"Kenapa tersenyum? Apa ada yang lucu?" tanya Satria.
Mendengar suara suamimya, Arla segera menyudahi aksinya yang ketahuan Satria. Dia tak ingin Satria sampai mengetahui kehamilannya, lalu Arla berpura-pura biasa saja tak ingin mengucapkan hal yang sebenarnya terjadi.
"Mangganya kelihatan enak," ucap Arla.
"Iya, ini kan mangga punya orang, punya orang emang suka kelihatan enak, jangan menyuruhku mengambilnya, kita beli saja nanti di Mal sambil membeli baju untukmu, ayok pergi!" Satria menarik tangan Arla yang membuat jantung gadis itu berdetak kencang seolah baru pertama saja mereka bersentuhan.
Terpaksa Arla harus menurut saja untuk mengikuti suaminya, padahal dalam hati, dia ingin sekali memakan buah itu yang di petik suaminya langsung dari pohon.
"Jangan pegang!" Arla menepis tangan Satria sampai terlepas, masih saja dia merasa gengsi pada Satria.
"Kenapa gak boleh pegang? Kita kan sudah menjadi suami istri sekarang?" tanya Satria.
"Aku tidak mau bersentuhan lagi denganmu!" jawab Arla sambil berjalan lebih dulu ke mobil.
__ADS_1
"Tapi, kita sudah pernah bersentuhan kan?" goda Satria yang berbisik di telinga Arla setelahnya dia terkekeh.
Dengan kesal Arla mendelikkan matanya, kini kedua pipinya merah merona menahan malu setelah mengingat kejadian memalukan waktu itu. Buru-buru dia masuk ke mobil karena kesal dengan kelakuan Satria.
Satria hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Arla memang masih pemalu seperti dulu saat mereka masih pacaran. Sifatnya tidak jauh berubah, dia polos, baik dan juga lugu serta menggemaskan. Itulah yang membuat Satria tak bisa melupakannya walaupun dia sudah menikah palsu dengan Khalisa.
Setelah cukup lama berkendara, Satria menepikan mobilnya di sebuah tempat yang sepi, dengan berniat ingin mengistirahatkan tangannya yang pegal.
Drt..drt..
Suara panggilan telpon berkali-kali masuk sejak tadi pagi membuatnya terpaksa mengangkat telpon itu.
"Hallo?"
"Kau ada dimana Satria? Semalman aku menelponmu tapi kenapa kau tidak mengangkatnya? Aku khawatir kenapa sampai siang ini kau belum pulang juga ke rumah?" Khalisa tak hentinya bertanya membuat Satria merasa jengah.
Dia melirik Arla yang kini tengah memandangnya."Aku sedang ada pekerjaan di luar kota, tanya saja pada Andi, dia tahu kalau aku sedang ada pekerjaan di luar kota meeting mengenai bisnis Papahku!" jawab Satria.
"Benarkah? Sekarang aku sedang bersama Andi di hotel, kau pikir aku akan percaya begitu saja padamu Satria, dimana kau sebenarnya, aku khawatir!"
Dahi Satria mengernyit saat mencerna ucapan Khalisa yang mengatakan dirinya sedang ada di hotel bersama Andi. "Di hotel?" tanyanya.
"Eu..., maksudku, kita sedang berada di kantor, ya, di kantor, maaf aku terlalu khawatir sampai aku salah berbicara, Satria, pulanglah sekarang, ada yang harus aku bicarakan padamu di rumah," kata Khalisa yang suaranya melembut tidak seperti tadi.
"Baiklah sayang, aku akan segera pulang," jawab Satria sengaja ingin membuat Arla cemburu.
Padahal Arla tak melihat lagi ke arahnya, dia memandang jendela mobil untuk menikmati suasana di luar yang memanjakan matanya.
"Iya, sayang, bye!" Khalisa menutup telpon lalu dia segera membalikkan badan pada Andi yang kini tengah mengenakan pakaian.
"Hampir saja kita ketahuan Andi!" kata Khalisa mendekat ke arah kekasihnya.
"Jangan ceroboh sayang, jika Satria tahu tentang perselingkuhan ini, dia pasti akan menceraikanmu!" jawab Andi yang kini sudah selesai memakai bajunya.
"Andi, ada yang ingin aku bicarakan, tapi ini bukan tentang si wanita sialan itu, ini tentang kita," Khalisa duduk di tepi ranjang di samping Andi yang memandangnya penuh dengan rasa penasaran.
"Apa yang ingin kau bicarakan Khalisa, kenapa sepertinya serius sekali?" tanya Andi.
__ADS_1
"Andi, sebenarnya aku..., aku sudah hamil!" kata Khalisa yang membuat mata Andi melotot mendengarnya.