Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Flashback


__ADS_3

"Kamu Arla kan?" tanya seorang perempuan berusia separuh baya yang wajahnya terlihat awet muda karena perawatan yang sering di lakukannya.


"Iya, Bu, saya Arla, apa kabar bu?" Arla hendak mencium punggung tangan perempuan itu tapi dengan cepat perempuan itu menepis tangannya.


"Tidak perlu cium tangan segala, kamu bukan siapa-siapa saya! Lagi pula sekarang Satria sudah menikah dengan wanita kaya, jadi saya harap kamu jangan pernah mengganggu dia lagi. Kalian hanya di takdirkan tidak untuk bersama, kita beda kasta!" kata perempuan itu yang membuat ekspresi Arla menjadi sendu.


"Dan ingat! Jangan coba-coba kamu dekati anak saya lagi! Kalau tidak, kamu akan tahu sendiri akibatnya! Saya dengar, dulu kamu bekerja di perusahaan milik keluarga Sanjaya, jadi saya tidak mau sampai Khalisa tahu jika kamu mantannya Satria, saya harap kamu mengerti!" Perempuan yang ternyata ibu Satria itu hendak menyebrang jalan, karena dia terburu-buru, dia tidak melihat kanan-kiri jalan.


Dari samping kanan sebuah motor sport melaju dengan kencang. Arla yang mengetahui hal itu langsung bangkit, berlari sekuat mungkin mendorong tubuh perempuan yang baru saja melukai hatinya.


BRAK!!


Tubuhnya terhempas melayang di udara saat sebuaah motor yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata itu menghantamnya beberapa meter dari tempat kejdian.


"Arla!" teriak perempuan itu lalu dia pingsan karena tak sengaja melihat darah segar yang bercucuran menutupi wajah cantik Arla yang terkena aspal.


Bukan hanya pada wajahnya saja, tubuh Arla yang lain juga di penuhi luka dan darah yang mengalir di aspal. Beberapa orang berlairian ke arahnya. Suasana menjadi riuh dan begitu mengharukan.


Jeritan dan tangisan beberapa perempuan yang melihat tubuh Arla yang tak sadarkan diri membuat seseorang terketuk hatinya untuk membawa Arla ke rumah sakit.


"Astaga! Lihat darahnya begitu banyak!" kata seorang ibu.


"Ya ampun..ya Alloh! Wajahnya di penuhi darah, siapapun tolong wanita ini, tolong bawa dia ke rumah sakit!" teriak seorang lagi sambil menangis.

__ADS_1


Seorang laki-laki bertubuh gempal datang menerobos kerumunan. Dia adalah Herman, ayah Satria. Laki-laki itu terkejut saat melihat istrinya yang terbaring lemah dalam kerumunan orang. Pandangannya juga tertuju pada kerumunan jauh beberapa meter dari tempat itu.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanyanya pada seorang petugas parkir.


"Tadi ada kecelakaan Pak, ibu ini hampir ke tabrak motor, tapi gadis cantik yang di sana menolongnya, dia parah sekali pak!" jawab tukang parkir itu.


"Baik, Pak, terimakasih," Herman menepuk bahu petugas parkir itu lembut lalu dia berjalan cepat menerobos kerunan karena dia rasa istrinya sedang pingsan biasa saja.


"Maaf, saya mau lihat," katanya.


Orang-orang memberi jalan. "Astaga! Ya ampun! Bapak-bapak, cepat bawa gadis ini ke dalam mobil saya, tolong saya angkat dia, saya akan membawanya ke rumah sakit!" kata Herman dengan perasannya yang begitu cemas dan khawatit. Jantungnya berdetak kencang dengan tangannya yang gemetaran.


*******


Karena tak mendapat jawaban, dia menoleh ke arah istrinya. "Mah, Mamah kenapa melamun terus?" tanyanya mendekat lalu memegang bahu istrinya membuat perempuan itu tersadar.


"Eh, iya Pah? Apa kata Papah tadi?" tanya Diana pada suaminya.


"Tuh, kan mamah pasti melamun tadi, jangan melamun terus ah, Papah tadi bilang sama Mamah, Mamah jangan shoping terus, istirahat saja di rumah."


"Oh, iya Pah," jawabnya singkat lalu kembali melamun.


"Mah! Kan Papah sudah bilang...,"

__ADS_1


"Iya, Pah, Mamah tahu, lebih baik Papah berangkat bekerja sekarang saja, nanti telat,"


"Iya, Papah berangkat sekarang, Mamah jaga diri baik-baik, jangan keluyuran terus, nanti Papah akan minta Khalisa untuk datang kesini temani mamah ya,"


"Iya, Pah!"


*******


Satria kini tengah mengadakan rapat bersama para karyawannya. Sesekali dia memegang kepalanya karena merasa pusing. Hampir saja Satria terjatuh, jika dia tidak berpegangan pada meja.


Para karyawan terkejut juga khawatir pada kondisi Satria.


"Apa Bapak baik-baik saja?" tanya seorang karyawati sambil menahan tubuh Satria.


Kebetulan Khalisa datang, dia melotot melihat suaminya tengah di berdekatan dengan perempuan lain, Khalisa segera berjalan cepat mendorong tubuh karyawannya sampai membentur tembok.


"Hei! Dasar pelakor! Berani-beraninya kamu memeluk suami saya ketika sedang bekerja! Mulai hari ini kamu saya PECAT!!" teriak Khalisa yang seketika membuat riuh gaduh ruangan.


"Khalisa! Apa-apaan kau! Kenapa kau malah memecat Anggraini? Dia menolongku yang akan terjatuh tadi, kamu keterlaluan Khalisa!" bentak Satria yang merasa geram pada istrinya.


"Apa kau bilang? Aku keterlaluan? Wajar saja jika aku cemburu padamu Satria, bagaimana aku tidak cemburu saat melihat wanita rendahan ini memelukmu di depan mataku!"


"Kau benar-benar ....," Satria hendak melayangkan sebuah tamparan, tapi seseorang mencegahnya.

__ADS_1


__ADS_2