
"Habis darimana saja kamu?" tanya Khalisa pada Arla yang begitu gugup.
"Eu..., aku tadi habis dari taman Nyonya," jawab Arla jujur.
Khalisa mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan."Dimana suamiku? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanyanya berwajah judes.
Tak tahu harus menjawab apalagi Arla merasa kebingungan. Tidak mungkin dia berkata jujur kalau Satria baru saja sudah berbicara dengannya di taman. Sepertinya Khalisa tidak mendengar apapun tentang pembicaraan mereka, dia terlihat santai saja.
"Hallo, sayang," Satria tiba-tiba muncul di tengah ketegangan.
"Hallo juga sayang," Khalisa mengecup bibir Satria yang melotot di buatnya.
Sedangkan Arla berpura-pura tak melihat saja dari pada harus merasakan hatinya panas terbakar api cemburu. Cemburu?
Ya, Arla sendiri bingung dengan perasaannya saat ini, kenapa dia harus merasa cemburu saat melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Padahal dia hanya seorang pembantu, lebih tepatnya lagi statusnya kini sudah menjadi mantan Satria.
"Darimana aja sayang, aku kangen banget sama kamu," tanya Khalisa memeluk suaminya dengan manja.
"Aku habis dari luar, cari udara segar," Satria terlihat risih pada perlakuan Khalisa yang tak seperti biasaya.
Karena tak ingin merasa cemburu lagi, Arla memutuskan untuk pergi. Tapi Khalisa mencegahnya.
"Mau kemana kamu?!"
"Aku mau ke belakang dulu Nyonya," jawab Arla sambil melirik ke arah Satria yang masih dalam pelukkan istrinya.
"Ambilkan aku camilan, setelah itu pijit kakiku, jangan lama-lama ambilnya, aku lapar! Kakiku juga pegal sekali," suruhnya pada Arla yang mengangguk lalu pergi.
Tak hentinya Khalisa mengerjai Arla degan sejumlah pekerjaan. Dia sengaja mengerjai Arla sebagai bentuk hukuman untuk wanita itu karena sudah berani menggoda suaminya.
Sampai saat ini Khalisa belum pernah di sentuh oleh Satria. Hal yang paling dia inginkan itu harus pupus begitu saja karena Satria selalu membuat alasan agar dia tak melakukan kewajibannya.
Hatinya mendadak mendidih saat mengetahui sebuah fakta mengejutkan dari Andi tentang apa yang di lihatnya tadi pagi. Dia akan menghukum siapa saja orang yang telah berani menjadikan dirinya sebagai saingan untuk mencuri hati Satria, terutama Arla.
*****
__ADS_1
Dua minggu sudah berlalu, waktu seakan cepat berlalu bagi orang yang sedang merasa bahagia. Tapi, berbeda sekali dengan yang di rasakan oleh Arla maupun Satria. Hari demi hari rasanya lama sekali untuk di lewati.
Di malam hari Satria tak bisa tidur. Perkataan Arla beberapa hari yang lalu cukup menguras pikirannya, membuat hatinya tak enak dan terus saja memikirkan kejadian malam panas mereka.
Bayang-bayang wajah Arla tak pernah luput dari ingatannya. Tangisan gadis itu membuat perasannya merasa bersalah atas apa yang sudah dia perbuat. Kini, Satria bertekad akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan.
Tak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya, dia tetap bertekad akan menikahi Arla meski tanpa restu dari kedua orang tuanya.
Khalisa terbangun dari tidurnya, dia melihat ke arah Satria yang masih melamun.
"Kenapa kamu melamun sayang?" Khalisa mendekat lalu memeluk Satria yang melepas tangannya.
"Aku haus, aku mau ke dapur dulu ambil air," kata Satria sambil pergi meninggalkan Khalisa yang terlihat kesal.
"Selalu saja bersikap begitu kalau lagi berdua!" ujarnya kesal.
Saat baru saja akan memasuki dapur, Satria mengernyitkan dahi karena mendengar suara seseorang muntah-muntah dari balik toilet pembantu.
Dia berjalan cepat karena sudah tahu pasti orang yang tengah muntah-muntah itu adalah Arla.
"Arla, apa yang terjadi? Apa kamu masuk angin?" tanya Satria menghampiri Arla yang kini sudah keluar dari toilet.
Arla mengangguk saja, dia berjalan tapi hendak jatuh. Untung saja Satria sigap menahan tubuhnya. "Hati-hati, pasti tubuhmu lemas kan? Biar aku panggilkan Dokter saja untuk memeriksa kamu," kata Satria.
"Tidak usah, lagi pula ini cuma masuk angin biasa," jawab Arla sambil melepaskan tangan Satria yang merangkulnya.
"Jangan bendel! Mumpung belum terlalu malam, aku akan telpon Dokter Frans agar dia segera memeriksa keadaanmu, jika terus di biarkan itu tidak baik!" kata Satria tegas.
Arla hanya memandang wajah tampan Satria lalu dia berlari kembali menuju toilet karena rasa mualnya semakin menjadi saja saat dia memandang wajah mantannya.
"Padahal aku ganteng loh, kok baru liat muka aku aja dia lamgsung muntah lagi?" gumam Satria sambil menoleh ke arah Arla yang berada di toilet.
Dia segera berlari menuju kamar untuk mengambil Handphone. Setelah tiba di kamar, Khalisa sudah berdiri di hadapan pintu dengan mengenakan pakaian seksi.
"Ada apa sayang? Kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya Khalisa yang ikutan panik.
__ADS_1
"Arla, eh, maksudku Juminten harus segera di periksa, dia muntah-muntah terus, mungkin saja dia masuk angin karena tadi pagi kamu menyuruhnya membersihkan kolam renang sambil hujan-hujanan, aku mau telpon Frans biar dia perilsa Juminten sekarang," jelas Satria yang hendak pergi.
"Gak perlu di periksa juga kali! Dia cuma masuk angin biasa Satria! Kamu kenapa sih, kok perhatian banget sama pembantu sialan itu?!" Khalisa menahan tangan kekar Satria dengan tatapan nyalangnya.
"Dia memang hanya seorang pembantu Khalisa, tapi seharusnya kita juga bisa mengobati dia saat sedang sakit, bukannya cuma butuh tenaganya saja!" jawab Satria sambil pergi dengan melepas tangan Khalisa.
"Sialan! Kurang ajar tuh pembantu, bisa-bisanya aku bersaing dengan pembantu kampungan kayak dia, bisa-bisanya juga Satria begitu perhatian sama dia, apa sih istimewanya pembantu itu? Awas saja kau Juminten, aku tidak akan tinggal diam!" Khalisa bermonolog semdiri mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Hallo, Frans, lo bisa kesini sekarang kan? Gue butuh lo sekarang, bawa alat Dokter lo biar periksa pembantu gue disini, dia lagi sakit sekarang, cepat! Jangan lama-lama datangnya!" ucap Satria saat panggilan telpon sudah tersambung.
"Ngomong kok gak ada nafasnya nih orang, nyerocos terus dari tadi, baru aja pembantu sakit udah panik, apalagi kalau yang sakit itu istri lo, gue kesana sekarang, jangan minta cepat! Gue bukan jin ataupun malaikat yang bisa ngilang dan langsung datang kapan aja!" jawab seseorang bernama Frans di sebrang sana sambil menutup telpon.
"Iya, maksud gue..., yah, di tutup!" Satria segera berjalan menuju kamar Arla yang sudah tertutup.
Tok
Tok
Tok
"Apa kamu belum tidur?" tanya Satria setelah mengetuk pintu.
Dia sama sekali tak menyadari jika Khalisa sejak tadi memperhatikannya dari jauh sambil melipat tangan.
"Buka pintunya! Sebentar lagi Dokter Frans akan datang untuk memeriksamu!" kata Satria sambil mengetuk pintu.
"Arla! Apa kau tidak mendengarku?! Aku bilang buka pintu...,"
"Kenapa kau selalu saja menggangguku?! Aku sedang solat isya tadi, seharusnya kau tunggu aku keluar tadi, kenapa malah teriak-teriak segala!" bentak Arla setelah membuka pintu.
Setelahnya Arla melotot karena melihat Khalisa sudah berdiri di belakang Satria menatap keduanya nyalang dari kejauhan.
"Maaf Tuan, saya tadi berkata kasar pada tuan, saya pikir tuan itu Aryo, maaf atas ucapan saya barusan," ucap Arla menunduk membuat Satria merasa heran.
Kenapa tiba-tiba Arla jadi bersikap lembut?
__ADS_1
Batin Satria bertanya-tanya melihat sikap perubahan Arla yang perubah seratus delapan puluh derajat.