
Satria dan Arla lanjut menyantap sarapan pagi mereka. Tak hentinya Satria memandang Arla yang makan rakus karena sejak tadi mereka belum sarapan dari rumah orang tua Arla.
Setelah sarapan Arla buru-buru mengupas mangga karena sudah tidak tahan ingin segera memakannya.
"Pelan-pelan, nanti tanganmu terluka!" Kata Satria.
"Iya," Arla terus mengupas mangga muda itu lalu melahapnya secara langsung membuat suaminya ngeri melihatnya.
"Kenapa setiap ibu hamil selalu ngidam mangga muda?" tanya Satria penasaran.
"Tidak tahu," jawab Arla dengan terus saja memakan mangga muda dengan lahapnya.
Melihat hal itu Satria tersenyum manis. Dia senang karena sudah bisa mengabulkan keinginan istrinya yang mungkin selama ini di pendam.
"Hari ini aku akan bekerja ke kantor, jadi kau istirahat saja disini ya, jangan kemana-mana. Ingat! Jangan pergi sebelum aku pulang!" perintah Satria.
"Iya, aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap di sini," jawab Arla.
Cup!
Satria mengecup puncak kening Arla setelah dia berdiri. "Jaga dirimu baik-baik ya, jangan nakal, oke?"
Arla tertawa mendengarnya. "Oke, Bos!" balasnya.
"Kalau begitu aku akan segera pergi ke kantor, jaga diri baik-baik ya!" kata Satria lagi seolah berfirasat buruk tentang istrinya.
Arla hanya tersenyum sambil mengangguk membalasnya. Dia masih duduk di atas meja makan sambil memandang punggung Satria yang baru saja berlalu.
__ADS_1
Dia baru ingat dengan Rianti yang menelponnya malam itu. Arla berjalan menuju kamarnya untuk mengambil Handphone.
sudah ada panggilan tak terjawab beberapa kali dari Rianti yang tidak dia ketahui. Arla hendak kembali menelpon Rianti, tapi suara bel berbunyi membuatnya urung lalu dia pergi untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, terlihat Frans yang kini tengah berdiri memandangnya. Dengan terkejut Arla segera menutup pintu, tapi Frans menahannya. Tenaga mereka sungguh jauh berbeda, Arla tak bisa menahannya dengan kuat karena tenaga Frans lebih besar darinya. Pintu kembali terbuka dengan lebar.
Perasaan Arla begitu ketakutan, jantungnya berdetak dengan cepat karena beberapa bayangan buruk diantara mereka kembali terlintas dalam benaknya.
"Dari mana saja? Aku mencarimu kemana-mana dan ternyata kau ada disini!" kata Frans membuat Arla semakin takut, dia mundur beberapa langkah.
"Jangan mendekat! Aku mohon tolong pergi dari sini Dokter Frans!" teriak Arla.
Frans tersenyum. "Aku tidak akan macam-macam, kenapa kau tidak mau aku nikahi Arla? Padahal aku berniat baik padamu, kenapa kau malah memilih untuk pergi bersama Satria? Dia sudah memiliki keluarga dan kau hanya akan menambah bebannya saja!" jelas Frans yang membuat Arla berpikir keras merasa apa yang di katakan Frans itu benar.
Mendengar ucapan dari Frans membuat Arla merenung. Dia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika Khalisa atau keluarga Satria sampai tahu tentang status mereka yang sudah menikah.
Arla memang tifikal orang yang suka memikirkan perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Lama dia merenung karena ucapan Frans barusan cukup membuat hatinya terganggu.
"Jika kau sudah menikah, apa aku tidak bisa memilikimu? Masih ada waktu untuk kita bisa bersama Arla. Aku adalah seorang yang lajang, sedangkan Satria orang yang sudah beristri, jika kau hidup bersamaku kau tidak akan memiliki saingan dan kau tidak akan merasa terbebani dengan keadaan seperti ini!" bujuk Frans lagi-lagi menghasut Arla mengatasnamakan beban.
"Tolong pergi sekarang juga Dokter Frans!" usir Arla secara lembut.
Frans terdiam, dia memandang Arla begitu dalam. Dari kemarin Frans sudah mengikuti arah mereka. Saat di kampungpun Frans sengaja menyewa sebuah kontrakan kosong untuk mengintai mereka selama satu malam.
Pagi harinya dia malah mendapat kabar buruk tentang pernikahan Arla dan juga Satria dari beberapa tetangga yang begitu ramai membicarakan mereka.
Dari sana Frans memutuskan untuk terus mengikuti Satria dan juga Arla yang baru saja di usir oleh warga kampung. Dia terus saja mengikuti mobol Satria demi mengetahui kemana pria itu akan membawa pujaannya.
__ADS_1
Setelah mobil Satria sudah jauh, Frans keluar dari persembunyiannya. Dia memasuki gerbang tanpa penjaga, laki-laki tampan itu memencet bel pintu agar Arla segera menghampirinya.
"Arla, apa kau yakin tidak ingin pergi bersamaku?" tanya Frans memandang Arla penuh harap.
Seolah pria itu tahu betul dengan firasat buruknya yang akan menimpa Arla, dia terus saja membujuk Arla agar pergi bersamanya, meskipum dia tahu jika ibunya tidak akan pernah merestui hubungan mereka.
Frans yakin lambat laun ibunya akan menyetujui hubungan mereka. Maka dari itu, dia ingin membantu Arla untuk segera pergi dari hidup Satria, karena dia sendiri juga yakin Arla tidak akan pernah bahagia dengan sikap buruk dan juga mulut tajam mertuanya nanti.
Cintanya pada Arla bukanlah hanya tumbuh saat pertama kali melihat gadis itu di rumah Satria saja. Frans baru ingat jika Arla adalah seorang waiters yang pernah dia taksir dulu.
Setiap kali mengunjungi kaffe tempat Arla bekerja, Frans selalu saja mencuri pandang pada Arla yang selalu sibuk bekerja. Menurutnya, Arla semakin terlihat cantik jika sedang sibuk bekerja mengelap beberapa meja di dalam kaffe.
Ingin rasanya dia menegur atau sekedar menyapa Arla, tapi mentalnya seolah menciut tak berani melakukannya. Ya, Frans memang tifikal cowok dingin yang cuek terhadap wanita, makannya sampai saat ini, di usianya yang sudah memasuki 29 tahun dia belum juga memiliki pasangan.
"Saya bilang tolong pergi sekarang juga Dokter Frans, saya tidak akan menerima tawaran apapun dari anda!" tegas Arla menjeda ucapannya.
"Dan tolong, jangan pernah menemui saya lagi karena saya sudah memiliki suami!" sambungnya lagi.
Mendengar ucapan Arla membuat perasaan Frans terasa sakit. Menjadi pengagum rahasia Arla selama ini tak lantas membuatnya dengan mudah bisaencuri hati Arla begitu saja. Apalagi kini Arla sudah menikah dengan Satria sahabatnya.
Frans berjalan gontai merasa kecewa terhadap penolakkan itu, dia meninggalkan Arla sendiri yang masih memandang punggunnya dari dalam rumah. Dengan cepat Arla menutup pintu lalu bersandar.
"Kenapa hidupku semakin rumit?" Arla meneteskan air mata karena merasa kembali terancam dengan kedatangan Frans.
********
Di kantor sebuah perusahaan Elgi Group milik keluarga Khalisa Satria duduk termenung di atas meja kerjanya. Tak hentinya dia memikirkan hal buruk yang mungkin akan terjadi kepada Arla, mengingat beberapa jam lalu Arla selalu menghindar bahkan pergi darinya.
__ADS_1
"Sayang...ini aku bawakan jus mangga kesukaanmu," ucap Khalisa yang baru saja datang sambil membawa jus mangga dengan tersenyum manis pada suaminya.
"Iya, terimakasih Khalisa," ucap Satria langsung saja meneguk minuman itu tanpa menunggu terlalu lama membuat Khalisa tersenyum licik