
Satria sudah berada di rumah sakit menjenguk ibunya yang masih tak sadarkan diri. Dia duduk di samping ibunya sambil mencium tangan wanita tua itu.
"Mamahmu tadi ke tabrak motor Satria, dia syok sekali sampai pada akhirnya dia pingsan. Untung saja dia hanya mendapat luka ringan saja karena seseorang sudah menyelamatkannya, dan orang itu sekarang sedang di tangani oleh Dokter. Papah tak tahu harus bagaimana, dia terlihat kritis saat di bawa ke rumah sakit. Apalagi saat melihat darah bercucuran pada betisnya, Papah tidak sanggup melihatnya." Jelas Herman pada putranya.
"Siapa yang sudah menyelamatkan Mamah, Pah? Apa dia perempuan muda?" tanya Satria mendongak ke pada Ayahnya karena teringat dengan Arla yang sejak tadi tidak dia temukan keberadaannya.
"Iya, dia perempuan muda yang cantik sekali, tubuhnya kurus dan agak pendek, rambutnya lurus hitam. Kasihan perempuan itu, sungguh mulia hatinya menyelamatkan nyawa orang lain sampai nyawanya sendiri kini terancam." Jawab Herman lagi.
"Aku akan pergi sebentar, nanti aku kesini lagi Pah," kata Satria segera bangkit lalu bergegas pergi menuju suster rumah sakit.
Dia bertanya tentang nama pasien yang baru saja kecelakaan. Setelah suster memberitahu, saat ini pasien masih dalam penanganan Dokter. Jadi, Satria tidak bisa langsung melihatnya.
Dengan perasaan gelisah dan rasa cemas yang tidak bisa dia sembunyikan lagi, Satria terus saja mondar-mandir di depan ruang oprasi menunggu Dokter keluar untuk memberi informasi.
Perasaanya gundah, tak enak duduk dan berdiripun rasanya sama. Lama dia menunggu, Dokter belum juga keluar untuk memberi informasi mengenai pasien.
"Semoga saja itu bukan kamu Arla...," air mata Satria menetes lolos begitu saja karena dia tak bisa membayangkan jika orang itu adalah istri keduanya.
********
Andi meninggalkan Khalisa sendirian di restauran. Dia sudah muak dengan segala rencana jahat Khalisa yang selalu memanfaatkannya agar bisa menguasai harta Satria. Khalisa sendiri selalu menyalahkannya atas hal itu, karena tak tahan lagi, dia pergi meninggalkan Khalisa sendirian yang menangis.
"Khalisa!" panggilan lantang dari seorang perempuan membuat Khalisa yang tengah menangis mendongak ke arahnya.
"Mamah!" Khalisa terkejut saat mendapati ibunya kini berdiri sambil menatapnya nyalang.
__ADS_1
"Mamah mau bicara sama kamu di rumah!" ujarnya dengan nada kesal.
Khalisa mengangguk. "Iya, Mah," jawabnya sambil bangkit kemudian mengikuti langkah ibunya.
Yulia tampak masih kesal dengan putri semata wayangnya. Dia ingin segera sampai di rumah untuk menumpahkan segala kekesalannya.
Mereka memasuki mobil yang sudah siap akan segera melaju. Khalisa duduk bersama ibunya di bagian belakang.
"Apa yang mau Mamah bicarakan?" tanya Khalisa.
"Kenapa kamu bodoh sekali hah?! Apa kamu gak punya otak?!" bentak Yulia yang sudah tak tahan menahan amarah.
"Apa maksud Mamah?"
"Jujur sama Mamah, sekarang kamu lagi hamil anaknya Andi kan?"
"Mamah minta kamu berkata jujur sekarang juga!" bentak Yulia lagi.
Ragu sekali Khalisa menjawab pertanyaan itu, tapi dia tak bisa menyembunyikan lagi kehamilannya dari ibunya.
"Iya, Mah," jawab Khalisa tak perlu berbohong lagi karena dia rasa percuma saja jika ibunya sudah tahu hal itu.
PLAK!!
"Kenapa kamu bodoh sekali Khalisa?! Bagaimana jika Satria tahu hal ini? Kita tidak akan pernah mendapatkan apapun darinya!"
__ADS_1
"Kenapa Mamah hanya terus saja menjadikan aku sebagai robotmu! Aku butuh kebebasan, dan aku juga butuh cinta dan kasih sayang yang tulus dari seseorang, kenapa Mamah selalu saja tidak pernah peduli dengan keadaanku yang kesepian? Selama ini Satria hanya sibuk dengan hidupnya sendiri, dan Mamah juga Papah selalu saja sibuk dengan dunia kalian sendiri tanpa memikirkan kehidupan dan perasaanku yang hancur!" bentak khalisa sambil menangis.
"Dasar anak gak tahu diri dan gak tahu di untung kau! Kau pikir kami melakukan ini hanya untuk kesenangan kami saja hah?! Ini juga untuk kesenanganmu, jika anak dari keluarga Dirgantara itu tiba-tiba muncul membongkar semuanya, kita akan jatuh miskin lagi Khalisa!" Yulia menjeda ucapannya untuk sekedar bernafas berat.
"Dan kau! Kau malah hamil benihnya Andi si miskin itu! Bodoh kau Khalisa! Gugurkan bayi itu sekarang juga!" tak hentinya Yulia memaki Khalisa putrinya.
Mata Khalisa membulat mendengarnya. Meski dia sudah mencintai Satria dari pada Andi kekasihnya. Khalisa tak ingin serta merta menuruti perkataan ibunya untuk melenyapkan cabang bayi hasil dari hubungan gelapnya bersama Andi.
"Tidak aka Mah, Khalisa tidak akan menggugurkan bayi ini! Khalisa akan tetap mempertahanannya!" tolak Khalisa.
PLAK!!
"Berani ya kamu melawan Mamah sekarang!" Yulia menampar lagi putrinya dengan penuh amarah.
"Kenapa memang Mah? Kenapa Mamah menyuruhku untuk menggugurkan bayi ini? Padahal aku akan menjadikannya sebagai umpan agar Satria jatuh cinta padaku, aku akan bilang bayi ini putranya, dengan itu dia bisa menerimaku sebagai istri dan kami akan hidup bahagia!" jelas Khalisa.
Pikiran Yulia tiba-tiba terang sekali. Ada benarnya juga apa yang di katakan Khalisa, dengan menyebut janin itu benih dari Satria, otomatis cucunya nanti akan menjadi satu-satunya pewaris tahta perusahaan.
"Ada benarnya juga ucapanmu, tapi ingat! Jangan sampai Satria tahu semuanya, bisa gagal semua rencana kita!" kata Yulia kemudian lalu dia tersenyum licik.
********
"Aku harus bisa memanfaatkan Khalisa sekarang, apalagi sekarang dia sedang mengandung, enak saja selama ini dia terus saja memanfaatkanku untuk memuaskan n*fsunya, sekarang giliranku untuk memanfaatkannya. Sudah cukup selama ini aku bersembunyi di balik topengku!" kata Andi yang kini tengah mengemudikan mobilnya.
Dia mengambil Handphone dari saku celana, lalu menekan kontak bernama "Khalisa" untuk melakukan panggilan.
__ADS_1
Beberapa kali Andi mencoba memanggil Khalisa. Tapi panggilannya di abaikan begitu saja oleh si penerima. Karena kesal, dia melempar Handphonenya.
"Awas saja kau Khalisa, suatu saat kau akan tahu siapa aku sebenarnya!" ujar Andi dengan tatapan tajam ke arah depan sambil terus mengemudi.