Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Ungkapan Cinta


__ADS_3

"A-aku...," belum saja Arla menjawab Satria sudah kembali memeluknya.


"Terimakasih selama ini sudah selalu menungguku, maaf selama ini aku tidak tahu," ucap Satria sambil menangis di pelukkan Arla.


Tak tahu harus berkata apalagi, Arla kebingungan antara harus kembali berbohong atau mengakuinya. Tapi, dia kembali berpikir sebelum pada akhirnya membalas memeluk Satria dengan eurat.


"Aku merindukanmu Satria, ini aku Arla. Aku masih istrimu, selama ini kita selalu bersama tapi aku tidak bisa menggapaimu," ucap Arla sambil menangis.


Ada rasa haru juga kebahagiaan dalam hati keduanya. Satria memegang kedua pipi Arla, menciumnya bertubi-tubi sambil terus menangis.


"Kali ini kita tidak akan terpisah lagi Arla, aku tidak ingin kamu pergi lagi daariku. Jadi, jangan pernah pergi, jangan pernah tinggalkan aku," pintanya yang di balas anggukkan oleh Arla.


"Berjanjilah untuk tetap bersamaku apapun yang terjadi, sebentar lagi aku akan menceraikan Khalisa," sambungnya lagi.


Semyum Arla tiba-tiba sirna, dia mengingat kejadian tadi yang membuatnya terus saja kepikiran.


"Kenapa kamu ingin menceraikan Khalisa? Bukankah dia sedang hamil? Tadi aku lihat dia pendarahan," jawab Arla.


"Iya, dia memang sedang hamil tapi itu bukan bayiku!"


"Maksudmu?"


Satria mulai menceritakan semua kejadian yang di alaminya bersama Khalisa, terutama pernikahan kontrak yang selama ini sudah dia jalani bersama Khalisa.


Arla mengerti, dia paham sekali jika mereka sama sekali belum pernah berhubungan badan. Arla juga menceritakan semua yang sudah di alaminya selama ini, terutama wajahnya yang sudah berubah. Semua itu adalah ulah Diana ibunda Satria sendiri.


Mendengar hal itu Satria terkejut, dia memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya yang begitu jahat pada Arla. Dia juga berencana akan mencari tahu tentang kehamilan Khalisa, dia sangat penasaran dengan siapa Ayah dari bayi yang tengah di kandung Khalisa.


"Mulai sekarang, kita harus berpura-pura seperti biasa, agar tidak ada seorangpun yang curiga oke, aku akan merencanakan sesuatu dan mencari tahu tentang rahasia Khalisa juga ibuku, sabar ya sayang, mulai sekarang kita tidak akan pernah terpisah lagi," ucap Satria sambil mencium pipi istrinya.

__ADS_1


"Iya, semoga kita tidak akan terpisah lagi," balas Arla sambil tersenyum pada suaminya.


"O, ya, bagaimana dengan bayi kita?" tanya Satria sumrimgah sekali.


Lagi, wajah Arla kembali sendu saat mendengar pertanyaan itu. Luka di hatinya kembali muncul. Air mata berjatuhan membasahi pipinya.


"Kenapa? Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Satria memegang pipi istrinya dengan lembut.


"Aku keguguran saat kecelakaan itu, maafkan aku Satria, bukannya aku tak menjaganya dengan baik, ini semua terjadi begitu saja. Aku tidak mungkin membiarkan Mamah Diana tertabrak motor," kata Arla dengan air mata yang terus mengalir.


"Tidak apa Arla, jangan menangis, jangan bersedih lagi, aku mengerti, ini semua bukan kesalahanmu, justru aku sangat berterimakasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawa ibuku," baals Satria.


Mereka kembali berpelukkan, malam itu menjadi malam yang sangat mengharukan sekaligus membahagiakan bagi keduanya.


*************


Pagi hari Arla sudah menyiapkan sarapan untuk Satria, meskipun para pelayan di sana mencegahnya, dia tetap ingin memasak agar bisa menghidangkan makanan untuk pertamakalinya untuk Satria.


Arla tersenyum mendengar itu, dia melirik ke arah Satria sambil terus menyusun makanan di atas meja makan. Satriapun meliriknya sambil tersenyum juga.


"Hmmmhh..., wangi sekali, siapa yang masak?" tanya Andri sambil duduk di kursi meja makan bersamaan Satria.


"Aku yang masak, Pah." Jawab Arla.


"Ooo..., jadi kamu yang masak nih Andini, memangnya kamu bisa masak?" tanya Andri setengah mengejek.


"Tentu saja Pah, bahkan dulu aku pernah menjadi pemenang lomba memasak saat masih bersekolah SMP tapi itupun karena tidak ada saingan saat lomba di mulai, hanya aku saja pesertanya." Jawab Arla lagi yang membuat Ayah dan anak itu tertawa terbahak-bahak mendengar cerita humor Arla.


"Wkwkwk..., tentu saja kamu akan menang kalau hanya kamu saja peserta lombanya, kalau begitu, sekarang Papah dan Satria yang akan menilai masakanmu. Kalau masakanmu enak, Papah akan memberimu hadiah, bagaimana?" kata Andri pada Arla.

__ADS_1


"Kalau kalah, akan ku kasih hukuman!" ancam Satria sambil tersenyum.


"Baiklah, silahkan di mulai penjuriannya, kalau enak, aku juga akan kasih hukuman untuk kalian. Yaitu, kalian tidak boleh makan lagi, hahaha...," balas Arla membuat mereka bertiga kini tertawa bersamaan.


Setelah selesai urusan di meja makan, mereka memutuskan untuk pergi berangkat bekerja bersama seperti biasa. Diana masih menginap di rumah sakit menemani Khalisa sang menantu kesayangan yang kini tengah di rawat di sana.


"Silahkan masuk, tuan putri," ucap Satria membukakan pintu untuk Arla yang tersenyum.


"Terimakasih," ucap Arla memasuki mobil mewah itu di bagian depan.


Begitu manis sikap mereka yang baru saja melepas rindu semalam. Setelah menasuki mobilnya di bagian kemudi, Satria memasangkan sabuk pengaman terlebih dahulu pada Arla, kemudian dia memakainya sendiri.


Sebuah senyuman manis tak pernah lepas dari bibirnya. Dia melajukan mobil, perlahan meninggalkan kediamannya.


"Sebagai hadiah karena sudah memenangkan lomba memasak tanpa saingan tadi, nanti sore aku akan mengajakmu jalan-jalan ke suatu tempat," kata Satria berguyon mengejek Arla.


PLAK!


"Selalu saja mengejek!" ketus Arla kesal tapi kemudian dia tersenyum.


"Jangan marah honey," kata Satria sambil mengelus pipi istrinya.


"Honey?"


"Iya, honey, panggilan seperti saat kita bertemu kembali malam itu," Satria kembali usil setelah sekian lama keusilannya pudar.


"Kau ini!" wajah Arla memerah saat mengingat malam panas mereka.


Reflek Satria memegang tanganya, lalu mencium punggung tangan munggil milik istrinya. "Aku mencintaimu," ucapnya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Satria," balas Arla sambil melempar senyum pada suaminya.


*************


__ADS_2