Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Permasalahan Dengan Andi


__ADS_3

Sampai di kantor keduanya masih saling mengobrol. Sambil terus bekerja dengan semangat, Arla memijat bahu Satria yang juga semakin semangat bekerja.


Senyuman selalu terukir di bibir mereka. Melihat Arla yang selalu ada di depan mata, membuat Satria tak merasa cemas sekarang. Tidurnya semalam lebih nyenyak karena dia tidur sambil memeluk istrinya.


"Kenapa?" tanya Arla yang sedang membereskan berkas menoleh sejenak ke arah suaminya yang tak pernah lepas menatapnya sambil tersenyum.


"Kamu cantik sekali," ucap Satria.


"Hmm..., benarkah?" Arla mendekat ke arahnya yang masih duduk di singagah sana kebanggaan.


"Iya, tapi sayang...," ucapan Satria terjeda membuat dahi Arla mengernyit.


"Tapi apa?"


"Tapi sayangnya kamu cengeng hahaha...," keusilan Satria kembali muncul.


Kepala Arla menggeleng sambil tersenyum karena dia sudah hapal betul dengan kelakuan suaminya.


"Kau juga tampan, tapi sayangnya manja wlo," balas Arla sambil menjulurkan lidahnya.


"Kalau manja kan itu cuma sama kamu, kamu juga suka kan kalau aku manja-manja?"

__ADS_1


"Sudahlah, ayok lanjutkan pekerjaanmu Satria, satu jam lagi kita akan mengadakan meeting dengan klien," kata Arla.


Satria malah menunjuk bibirnya sendiri. "Hah?" Arla kurang fokus menanggapinya.


Karena istrinya tak mengerti, dia bangkit lalu berjalan mendekati Arla untuk kemudian mengecup bibir ranum milik perempuan cantik itu.


Cup!


Arla terpaku mendapat perlakuan mesra itu, tapi dia sangat menyukainya.


"Nanti malam, kamu tidur di kamarku," ucap Satria kemudian.


"Gampang, itu bisa di atur, kita tidur di kamarmu saja," jawab Satria sambil tersenyum.


"Gampang?! Kau ini, bagaimana kalau kita ketahuan?" karena kesal Arla menepuk lengan suaminya.


"Tidak akan, kita tidak akan ketahuan, percayalah padaku, kalaupun itu terjadi bagus dong, kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi seperti ini, benarkan?"


"Satria!" Arla mulai kesal lagi mendengar Satria begitu mudah berkata seperti itu di saat dia tengah memikirkan perasaan orang lain yang mungjin akan begitu sakit saat mengetahui kebenaran hubungan mereka.


"Apa sayang?" goda Satria sambil mengelus pipi istri keduanya itu.

__ADS_1


"Jangan bercanda, aku serius!"


"Aku juga serius sayang, biarpun itu terjadi, kita akan tetap bersama, aku akan mencerailan Khalisa setelah mendapat bukti perselingkuhannya bersama orang lain. Lagi pula, dia juga tidak menginginkan hubungan ini," jelas Satria lebih serius.


"Tapi...,"


"Sutttt..., jangan terlalu memikirkannya, dan jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain, tapi hatimu sendiri terluka, kamu harus bisa membahagiakan dirimu sendiri bersamaku, orang yang selama ini kau sayang."


Sebuah quotes cinta yang terlontar dari bibir Satria membuat Arla tersenyum manis. Dia menggenggam tangan suaminya, lalu mencium tangan kekar itu dengan lembut.


"Terimakasih susah menenangkan aku Satria," ucap Arla.


Satria menunduk untuk mencium kembali istrinya, tapi sebuah suara pintu terbuka membuat keduanya salah tingkah. Mereka saling memberi jarak.


"Ehem, Pak, saya ingin melaporkan data bulanan yang Bapak minta tadi pagi, ini laporan saya. O, ya, ada kejanggalan dalam data yang baru saya lihat tadi. Bapak sebelumnya mempercayakan proyek bulan lalu ke pada Andi kan?" Seorang perempuan tinggi berkaca mata memberikan sebuah map berwarna biru pada Satria yang langsung mengambilnya.


"Iya, memang benar, aku mempercayakan semuanya pada Andi, memangnya kenapa? Apa ada dataan yang salah atau...,"


"Andi sudah mencuri uang perusahaan yang seharusnya untuk biaya proyek, mungkin saja dia sengaja resign agar Sekertaris barulah yang akan di salahkan dalam hal ini,"


"Astaga! Benar-benar orang itu! Aku percaya padanya karena dia sudah lama bekerja denganku, bahkan aku dengan bodohnya mempercayai orang itu tanpa memberikan pekerjaan ke pada ahlinya. Andi pintar di bagian proyek, dia pintar mengelolanya makannya aku ingin dia yang menangani proyek ini," jelas Satria dengan rasa kecewanya.

__ADS_1


__ADS_2