
Dengan perasaan cemas Satria kembali menyetir mobilnya. Dia juga bingung entah harus bagaimana. Menelpon polisi sama saja akan mengancam nyawa istrinya.
"Bagaimana ini? Baru saja kita kembali menjalin kasih, kenapa selalu saja ada pengganggu hubungan ini?!" ujar Satria kesal.
Dia berpikir keras sambil terus menyetir. Tak lama kemudian sebuah ide muncul, sekarang Satria tahu siapa yang seharusnya dia pinta bantuan.
"Hallo, Andi, tolong aku sekarang," kata Satria setelah telpon tersambung.
"Minta tolong apa Pak?" tanya Andi dari sebrang sana.
Satria menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Andi. Setelah mendengar semuanya, Andi bersedia membantu Satria agar bisa cepat menemukan keberadaan Arla.
...****************...
Di rumah sakit Khalisa sudah berdiri hendak pergi. Tapi, ibu mertuanya menahannya.
"Khalisa, kamu mau kemana? Bukankah kamu masih dalam proses pemulihan?" tanya Diana.
"Khalisa mau di rawat di rumah saja Mah, di sini tidak nyaman," jawab Khalisa.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, tunggu dulu di sini, nanti Mamah panggilkan para perawat agar kamu naik kursi roda," kata Diana sambil pergi.
Sepeninggal ibu mertuanya Khalisa malah merenung sendiri. Hatinya sadar atas apa yang dia lakukan selama ini menjadi budak dan di manfaatkan oleh orang tuanya itu sangat berakibat fatal apalagi jika semua orang mengetahui benih yang di kandungnya itu bukan milik Satria. Dia pasti akan segera di tendang dari keluarga Satria. Bahkan mungkin akan di asingkan.
Dua orang perawat datang membawa kursi roda. Khalisa duduk di atasnya, setelahnya mereka mendorong kursi roda itu keluar dari rumah sakit.
Diana juga dua perawat itu membantu Khalisa masuk ke dalam mobil. Sebelumnya Diana juga sudah berbicara dengan Dokter yang menangani Khalisa bahwa menantunya ingin dia merawatmya di rumah. Setelah mendapat persetujuan dari Dokter, Khalisa di perbolehkan di rawat di rumah lalu mereka pun pulang.
"Sayang, lain kali kamu hati-hati ya, sekarang kan kamu sedang hamil, jadi kamu harus banyak istirahat, sebagai ganti pesta perayaan ulang tahunmu yang batal, Mamah akan memberikanmu kejutan spesial yang sudah Mamah persiapkan tadi," kata Diana saat mereka duduk bersampingan di mobil.
"Iya, Mah," jawab Khalisa lemas.
"Khalisa capek Mah,"
"Kalau begitu kamu tidur saja, nanti Mamah bangunkan kalau sudah sampai ya,"
"Iya, Mah,"
Sesampainya di rumah Khalisa sudah bangun. Dia juga di bantu oleh supir menggunakan sepeda roda.
__ADS_1
"Surprise!" teriak beberapa orang saat pintu terbuka.
Raut wajah Khalisa sama sekali tak terlihat bahagia. Dia malah terlihat ingin menangis mendapat surprise dari orang-orang tersayang.
"Ada apa? Kenapa kamu malah murung Khalisa?" tanya Keponakan Satria yang bernama Alma.
"Tidak apa-apa," jawab Khalisa lemas.
Mereka bertiga serta Diana saling berlirikkan. Padahal sudah ada beberapa dekorasi mewah yang terpasang untuk merayakan kehamilannya. Tetapi Khalisa tetap tak merasa bahagia karena benih yang dia kandung milik kekasih gelapnya.
"Mungkin Khalisa sedang kecapekan, nanti saja kita adakan acara penyambutan lagi ya, Bagus, bawa ibu ke kamarnya!" suruh Diana pada sopirnya.
"Baik, bu," jawab Bagus sambil mendorong kursi roda ke bagian tangga.
Ketiga keponakan Satria hanya mendengkus kesal. Akhirnya mereka duduk kembali dengan rasa kecewa.
"Tahu gitu, buat apa tadi kita buru-buru menyiapkan semua ini!" kata Alma kesal pada kedua saudaranya.
"Benar, yang ada hanya buang-buang waktu saja!" balas Indri.
__ADS_1
"Sudahlah, mungkin dia memang sedang kecapekan dan tidak mau di ganggu!" Regi menimpali dengan santai.