Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Kedekatan Satria Dan Arla


__ADS_3

Kembali Satria melajukan mobilnya menuju sebuh Mal. Sesampainya di sana dia menghentikan mobilnya, turun bersama Arla.


Mereka membeli beberapa baju untuk bisa di pakai di acara pesta nanti malam juga beberapa baju untuk bisa Arla kenakan nantinya.


"Yang ini cocok untukmu," ucap Satria sambil menyodorkan sebuah dress berwarna hijau muda.


"Warnanya tidak cocok, aku tidak suka warna hijau muda, yang aku suka warna merah maroon," jawab Arla.


Kembali Satria mengingat Arla yang masih selalu mengisi otaknya. Dia ingat betul warna kesukaan Arla, makanan yang wanita itu suka, juga apapun yang tidak di sukai.


"Hei, kenapa melamun?" Arla melambaikan tangannya membuat Satria tersadar.


"Oh, enggak, ayok kita makan dulu, nanti kita pilih lagi baju yang akan kamu beli, aku akan mentraktirmu hari ini, semuanya gratis!" Satria tersenyum setelah mengucapkannya.


"Gratis karena aku sudah bersedia menjadi asistenmu untuk selamanya," balas Arla sambil terkekeh.


Melihat tawa Arla Satria merasa mengingat sesuatu. Suara itu sangat mirip dengan seseorang yang dia rindukan.


"Apa lagi? Kenapa bengong terus?"


"Ah, tidak, suaramu mirip dengan suara temanku," jawab Satria.


"Kalau begitu, anggap saja aku ini temanmu, agar kamu tidak merasa sedih kehilangannya," jawab Arla berharap Satria akan mengiyakan.


"Hahaha..., kau ini adikku, dan aku hanya akan menganggapmu sebagai seorang adik, tidak lebih dari itu," Satria mengacak rambut Arla membuat senyum Arla sirna.


"Ayok kita makan dulu," ajaknya lagi.

__ADS_1


Arla mengangguk mengikuti Satria sambil membenarkan rambutnya. Mereka duduk bersebrangan di kursi.


Setelah seorang pelayan menghampiri, mereka memesan makanan. Sembari menunggu menu makanan tiba, kembali keduanya saling bercerita mengenai masa lalu.


"Apa kau mempunyai seseorang spesial di masa lalu?" tanya Arla pada Satria.


"Tentu saja,"


"Siapa dia?"


Sejenak Satria diam mempertimbangkan jawaban yang akan dia ucapkan. Maklum saja, dia belum terlalu lama dekat dengan Arla yang kini menyamar sebagai Andini. Dia pikir tak baik menceritakan masa lalu pada orang yang baru.


"Jangan beri aku pertanyaan tentang masa lalu, aku sulit menjawabnya." Kata Satria.


"Kalau begitu, tentang masa depan saja, bagaimana?"


"Wkwkwk..., kau memang lucu sekali Satria," Arla tertawa di ikuti Satria di hadapannya.


Mereka sama sekali tak menyadari Frans yang kini tengah duduk memeperhatikan tingkah keduanya dari kejauhan. Frans sudah mengatur rencana akan mendekati Arla kembali. Tapi, dia masih butuh waktu untuk melakukan rencananya itu.


"Sebentar lagi aku akan memilikimu Arla, kau akan hidup bahagia bersamaku!" ucap Frans yang matanya tak ingin lepas memandang Arla.


Pesanan sudah datang, mereka segera menyantap makan sore bersama. Arla menyuapi Satria, membuat laki-laki tampan itu tak merasa canggung lagi. Mereka selalu tertawa di tengah menikmati santapan makanan.


"Aku ke toilet sebentar," kata Arla setelah selesai makan.


"Iya, jangan lama, nanti aku tinggalkan kau di sini sendiri," goda Satria.

__ADS_1


"Awas kau!" Arla mengepalkan tangannya mengancam Satria.


Perasaannya hari ini begitu senang. Dia sudah bisa lebih dekat lagi dengan Satria, tidak apa hanya di anggap sebagai adik juga. Asalkan mereka bisa selalu berdekatan dan selalu bertemu setiap hari.


BRAK!


Frans sengaja menabrak tubuh Arla membuatnya hampir jatuh. Dengan cepat Frans menagkap tubuh Arla lalu memeluknya.


"Anda baik-baik saja?" tanya Frans.


Deg!


Jantung Arla berdegup karena merasa kaget bertemu Frans kembali.


"Eu..., i-iya, aku baik-baik saja Dokter, terimakasih," ucap Arla melepas diri.


"Kamu masih ingat sama saya?"


"Iya, anda Dokter Frans kan?" Arla berputa menyelidik.


"Iya, namamu Arla kan?" jawab Frans sengaja memancing Arla agar terkejut.


Arla terdiam karena ketakutan jika Frans mengetahui yang sesungguhnya.


"Oh, maaf, maksudku, namamu Andini kan? Pasien rumah sakitku waktu itu?"


"Iya, Dok,"

__ADS_1


__ADS_2