Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Arla Di Culik


__ADS_3

Khalisa yang ketakutan oleh ancaman ibunya tak lagi berbicara. Dia hanya menangisi nasib buruk jika nanti Satria juga akan pergi meninggalkannya.


Arla dan Satria kini sedang berada di dalam mobil. Mereka akan melakukan perjalanan ke suatu tempat yang indah. Satria sudah menelpon Sekertarisnya untuk mengatur jadwal hari ini. Semua meeting dengan klien di undur sampai besok. Dia ingin menikmati hari-harinya bersama Arla dengan berwisata ke tempat yang indah.


"Kita mau kemana?" tanya Arla pada suaminya.


"Nanti kamu akan tahu sendiri sayang," jawab Satria sambil mencium punggung tangan istri keduanya yang tak pernah dia lepas.


Senyum selalu terukir di bibir keduanya. Mereka kini sudah bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hubungan yang selama ini mereka inginkan.


"Aku lapar, aku mau makan," pinta Arla pada Satria yang menurut membelokkan mobilnya ke sebuah restauran terdekat.


"Baiklah honey, kita makan dulu sekarang," jawab Satria.


Mereka turun dari mobil, tanpa sadar juga seseorang tengah mengintai dari belakang.


Hap!


Seorang pria bertubuh maskulin dengan penampilan seperti preman menagkap tubuh Arla sambil menodongkan senjata tajam pada Satria. Arla menjerit ketakutan.

__ADS_1


"Jangan bergerak, atau orang ini akan ku tembak!" katanya, satu orang temannya juga datang mencoba menodongkan senjata tajam.


Satria terlihat panik, dia hendak melawan, tapi Arla mencegahnya.


"Siapa kalian?! Lepaskan istriku! Atau aku akan laporkan kalian ke polisi!" teriak Satria.


DOR! DOR! DOR!


Laki-laki itu menembak ke angkasa membuat semua orang berlarian sambil menjerit meninggalkan tempat kejadian.


"Jangan berani melawan kami! Ayok pergi!" kata pria itu pada temannya yang berjalan mundur sambil menodongkan benda itu pada Satria yang akan mengikuti mereka.


"Mundur kau! Atau ku tembak sekarang juga!" ujarnya sambil memasuki mobil.


Melihat Arla yang menangis dalam genggaman orang asing yang kejam, membuat air mata Satria meleleh. Dia begitu kecewa terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa melawan mereka.


"Aarrghhh!" teriak Satria menendang sebuah botol di depannya.


Dia tak ingin ketinggalan jalan, segera memasuki mobil, baru saja menyetir sambil memperhatikan mobil yang membawa istrinya pergi, handphoennya berdering.

__ADS_1


Nomor tak di kenal yang kini menelponnya. Segera Satria mengangkatnya sambil fokus menyetir.


"Hallo, siapa ini?!"


"Hahahaha..., kau tidak tahu aku?" tanya suara laki-laki yang tak asing lagi.


"Frans!" ujar Satria kesal.


"Yap! Pintar sekali, kau benar, aku Frans, sahabat terbaikmu!" jawab Frans kemudian tertawa lagi.


"Kenapa kau menelponku hah? Ada urusan apa?!"


"Tenganlah, jangan terbawa emosi dulu, aku menelponmu karena aku mempunyai kabar penting yang sekarang kau butuhkan,"


"Jangan bertele-tele, cepat katakan apa itu?!"


"Kau memang tak bisa sabar, Arla sedang bersamaku sekarang, dan kau tidak perlu khawatir tentang istrimu yang cantik dan seksi ini, aku akan selalu menjaganya, bahkan aku akan selalu menemaninya saat dia tidur. Hahahaha...," kata Frans dengan tawanya yang menggelegar.


"Kurang ajar kau! Ternyata kau yang sudah menyuruh orang tadi untuk menculik Arla, aku tidak akan membiarkanmu menyentuh istriku secuilpun, aku akan melaporkanmu ke polisi!" balas Satria tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Silahkan saja kau lapor ke polisi jika kau mau istrimu semakin tersiksa!" ancam Frans yang langsung menutup telpon begitu saja.


"Frans!" panggil Satria lantang tapi sayangnya Frans sudah menutup telpon.


__ADS_2