
"Apa-apaan kamu Satria! Kenapa kamu malah ingin menampar istri kamu di hadapan para karyawan? Apa kamu tidak malu sama mereka?" Herman datang mencegah putranya.
"Maaf, Pah, tadi Satria benar-benar khilaf dan Satria sedang tidaj enak badan," ucap Satria menunduk sejenak, lalu dia melihat para karyawannya berbisik-bisik membicarakannya.
"Pak Satria suka KDRT juga ya sama istrinya,"
"Iya, jadi takut ih,"
"Kalian boleh bekerja kembali, rapat hari ini di tutup!" ujar Satria pada mereka yang masih duduk di kursi rapat. Dia juga melihat Anggraini yang langsung pergi begitu saja.
"Baik, Pak," ucap semuanya serempak lalu pergi.
Satria malu menatap wajah ayahnya. Dia sesekali menunduk, lalu melirik Khalisa yang matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku Khalisa, tadi aku sudah keterlaluan padamu," ucap Satria meskipun berat mengucapkannya karena dia merasa tidak bersalah.
"Iya, sayang, tapi kamu janji ya, tidak akan seperti itu lagi," Khalisa menjatuhkan dirinya dalam pelukkan Satria membuat Herman terenyum lega melihatnya.
"Iya," sedangkan Satria merasa kikuk juga malu di peluk di depan ayahnya. Dia mencoba melepaskan tangan Khalisa yang mengerti akan hal itu.
__ADS_1
"Nah, begitu dong, kalian akur lagi, jangan berantem-berantem terus apalagi main tangan, malu di lihat orang!" kata Herman.
"Iya, Pah," ucap keduanya.
"Ayok kita duduk dulu, Papah mau bicara sama kalian!" Herman duduk di kursi tempat Satria tadi duduk.
Sedangkan Satria dan Khalisa duduk di samping kanan dan kirinya.
"Apa yang mau Papah bicarakan?" tanya Khalisa.
"Papah mau kamu tinggal di rumah kami untuk sementara waktu ya, Papah kasihan melihat ibu kamu Satria, semenjak kejadian beberapa minggu lalu, dia jadi sering melamun terus. Kalau ada kalian, kalian bisa bantu menghibur dia, apalagi kamu Khalisa, mamah kan sangat dekat sama kamu, jadi dia pasti tidak akan banyak melamun kalau ada kamu di rumah kam," kata Herman menoleh pada Khalisa.
"Tentu saja aku mau Pah, lagi pula di rumah juga aku kesepian, Satria selalu saja pulang larut malam terus, aku setuju untuk tinggal di rumah Papah dan mamah, bagaimana dengan kamu Satria?" Khalisa tampak antusias berbeda dengan Satria yang masih melamun.
"Satria!" panggil Herman pada Satria yang berada di sampingnya membuat putranya itu langsung tersadar.
"Iya, Pah?"
"Kamu sama saja seperti mamah kamu, selalu saja melamun akhir-akhir ini, sebenarnya ada apa sih di antara kalian berdua ini? Kenapa kalian sering melamun terus sekarang?" Herman begitu penasaran juga khawatir pada keadaan mereka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pah, Satria hanya sedang tidak enak badan saja, Satria mau ke rumah sakit dulu, Papah lanjutkan saja bicaranya sam Khalisa!" Satria bangkit membuat Khalisa dan Herman mengernyitkan dahi mereka.
"Tapi Sat...,"
"Biarkan dia menenangkan diri, dia memang selalu seperti itu jika sedang tidak enak badan, biarkan dia memeriksakan diri ke dokter, biar kondisinya lebih baik," cegah Herman pada Khalisa yang bangkit hendak menyusul suaminya.
"Eu...baik, Pah," Khalisa masih tak enak hati melihat Satria yang begitu berjalan gontai meninggalkan ruangan.
Dalam hati ingin sekali Khalisa memeluk suaminya. Dia juga merasa heran dengan Satria yang akhir-akhir ini selalu saja murung seperti tidak ada semangat untuk hidup.
"Duduklah Khalisa, masih ada hal yang ingin Papah bicarakan sama kamu,"
"Iya, Pah,"
******
Satria hanya ingin pergi ke rumah sakit sendiri, tanpa jasa supirnya juga. Dia mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah sakit dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Bagaimanapun Arla masih tetap membuat pikirannya tidak tenang. Hatinya menangis setiap hari memikirkan Arla yang dia rindukan. Baru saja mengecap kebahagiaan hidup menjadi sepasang suami istri, mereka kini sudah terpisah lagi, entah kapan waktu akan kembali mempertemukan merek.
__ADS_1
"Arla, dimana kau,,dimana kau sekarang,, aku sangat merindukanmu saat ini, selama ini aku selalu menunggumu, dua tahun aku meninggalkanmu menikah dengan orang lain, dan saat kita bertemu, mengapa semuanya menjadi rumit?" ucap Satria dengan air mata yang tak hentinya mengalir.
Satria juga seorang manusia, meskipun laki-laki dia juga memiliki perasaan yang begitu sensitif. Wajar saja jika kali ini dia menangis karena merindukan istri keduanya yang bahkan dia tidak ketahui sama sekali keberadaannya.