
Frans kembali menoleh pada Khalisa. Dia memandang Khalisa bersiap menjawab ucapan perempuan yang di anggapnya jahat tersebut.
"Kerja sama seperti apa yang kau inginkan?" tanya Frans.
Khalisa tersenyum mendengarnya karena kali ini Frans mau menerima tawarannya.
*******
Setelah pulang dari rumah sakit Satria hanya merenung memikirkan Arla yang sampai saat ini belum bisa dia hubungi. Satria sudah mencoba menghubungi Arla melalui panggilan telpon atau pesan. Tapi, istri keduanya itu enggan memberi respon.
"Dimana kamu Arla? Aku khawatir padamu, aku cemas, bagaimana jika yang ada di rumah sakit itu benar-benar kamu?" ucap Satria bermonolog sendiri.
Sekarang dia tengah berada di rumah kediamannya bersama Arla yang beberapa jam lalu baru saja menjadi saksi kebahagiaan mereka berdua. Namun sayang, baru saja menikmati kebahagiaan mereka harus kembali menerima pil pahit kehidupan dan lagi-lagi karena kesalah pahaman.
Drt..drt..
Bunyi panggilan pada Handphone Satria membuat laki-laki berparas tampan itu segera bersemangat mengambil Handphone yang terletak di atas nakas.
__ADS_1
Semangatnya mendadak hilang karena itu bukan panggilan dari Arla melainkan dari Khalisa istri pertamanya.
"Hallo?" Satria mengangkat telpon dengan lemas.
"Satria, kemana saja kamu dari tadi? Kenapa tidak mengangkat telpon dariku? Dan lagi, kenapa kamu gak memberitahu aku kalau Mamah ada di rumah sakit?" cecar Khalisa pada Satria yang sangat malas meladeninya.
"Aku sibuk dan tidak mau di ganggu!" jawab Satria yang langsung saja menutup panggilan lalu menonaktifkan Handphonenya karena tahu jika Khalisa akan kembali menelponnya.
Dia kembali bersandar, lalu kembali merenung memikirkan nasib istri keduanya yang entah berada di mana.
"Arla, cepatlah pulang...aku rindu," ucapnya.
Perlahan matanya yang sudah lelah dan mengantuk itu terpejam dengan sendirinya. Satria tertidur di atas ranjangnya.
*******
"Hei bangun! Ini sudah pagi!" seorang laki-laki bertubuh tinggi besar menendang kaki seseorang secara kasar.
__ADS_1
"Bangun!" teriak laki-laki yang satu lagi.
Wanita yang kini baru membuka matanya itu perlahan melihat ke arah sekelilingnya. Dia melihat dua orang berkepala plontos memandang ke arahnya yang tidak berdaya.
"Siapa kalian? Dan apa tujuan kalian menyekapku di sini?!" tanya wanita itu.
"Hahahaha...kau tidak perlu tahu kami siapa wanita cantik, yang terpenting sekarang kau sudah bersama kami!" jawab Rudi.
"Hahaha...kau akan mendatangkan banyak uang untuk kami. Jadi, tetap disini dan jangan coba untuk melarikan diri karena kami tidak akan segan untuk melakukan hal yang lebih buruk lagi ke padamu!" kata Rusman dia tertawa bersama kembali dengan Rudi.
Wanita itu hanya memandang sendu mereka meratapi nasibnya yang buruk yang harus menjadi tawanan dua orang jahat di tempat tertutup. Tangan dan kakinya juga di ikat kuat oleh tambang membuatnya tak bisa lolos begitu saja.
"Ya Tuhan...bagaimana ini? Bagaimana aku bisa melarikan diri dari mereka jika tanganku saja di ikat seperti ini?" batinnya.
*******
Sudah satu minggu lebih Satria mengunjungi perempuan yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit. Dia selalu mengunjungi perempuan itu setelah pulang bekerja. Satria tak berani menyentuh perempuan itu karena dia takut jika itu bukan istri keduanya.
__ADS_1
Satria hanya memandang wajah yang masih di penuhi dengan perban. Dia masih berharap perempuan itu bukan Arla. Setiap hari dia juga selalu berharap ada kabar baik dari Arla.