
"Arla, tidak bisakah kau mengerti keadaanku? Aku masih mencintaimu, dan aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah ku lakukan, jadi, jangan banyak bicara lagi!" Satria menggendong tubuh Arla membuat wanita itu teringat dengan kejadian sepasang suami istri tadi.
Arla diam saja saat Satria menggendongnya. Dia memandang ke arah Satria yang wajahnya sudah basah terkena air hujan.
Setelah memasukan Arla ke dalam mobil, Satria segera mengambil sebuah jaket yang selalu tersedia di mobilnya. Dia memakaikannya ke pada Arla yang sedari tadi menggigil kedinginan.
"Maafkan aku, aku sudah membuatmu menderita," ucap Satria.
Lalu dia melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalan meninggalkan kota Jakarta yang kini sudah mulai sepi karena malam sudah mulai larut.
"Kita mau kemana?" tanya Arla.
"Kita akan menikah!" ucap Satria santai.
"Apa?! Kau akan membawaku kemana?" tanya Arla lagi.
"Aku sudah bilang kita akan menikah!"
Tak ingin bertanya lagi, Arla kini terdiam. Sesekali dia menguap karena merasa kantuknya mulai datang, perutnya yang mual dia tahan sebisa mungkin. Akhirnya Arla terlelap tidur karena sudah tak bisa menahan kantuk.
Sesekali Satria meliriknya. Dia tersenyum merasa bangga karena telah menemukan pujaan hatinya tanpa di ketahui oleh siapapun. Beberapa panggilan telpon dari Khalisa dia abaikan begitu saja karena itu bukanlah hal yang penting lagi baginya.
Setelah cukup lama berkendara, akhirnya Satria sampai di sebuah kota tempat kelahiran Arla. Dia tak tega membangunkan Arla yang masih tertidur pulas. Karena itu, Satria berjalan sendiri menuju rumah sederhana milik orang tua Arla.
Tok
Tok
Tok
Pintu di ketuknya beberapa kali, tapi tak ada satupun orang yang muncul. Siapa juga orang yang akan menanggapi kedatangannya selarut itu.
Setelah lama menunggu sambil melihat keadaan Arla dari kejauhan, akhirnya pintu terbuka.
"Siapa sih malam-malam begini...," Yani membuka pintu sambil mengucek matanya. Dia berhenti bicara karena melihat kedatangan Satria.
"Apa kabar Bu," Satria mencium punggung tangan Yani yang berwajah jutek.
__ADS_1
"Baik!"
"Siapa Mah, malam-malam begini.." Ahmad juga datang lalu berhenti bicara saat melihat Satria berdiri di depan pintu.
"Eh, Nak Satria, ayok masuk!" kata Ahmad ramah.
"Iya Pak, apa kabar?" Satria mencium tangan Ahmad.
"Baik-baik, silahkan masuk!" ajak Ahmad.
"Iya, Pak, sebentar, saya akan memanggil Arla, dia ketiduran di mobil," kata Satria.
"Iya, silahkan!" jawab Ahmad, berbeda dengan Yani yang diam saja.
"Ada masalah apa lagi sih tuh anak Pak, kok malam-malam begini dia datang sama suami orang? Si Satria kan sudah menikah," cerocos Yani pada suaminya.
"Bapak gak tahu buk, kita lihat aja nanti." Jawab Ahmad.
Tak lama Arla dan Satria datang bersamaan, mereka memasuki rumah, lalu duduk di kursi bersebrangan bersama orang tua Arla.
"Jadi, apa maksud kedatangan kalian kesini? Bukannya Nak Satria sudah beristri? Kenapa kalian bisa datang bersama-sama selarut ini?" tanya Ahmad bergantian memandang mereka.
"Maaf sebelumnya, Bapak dan ibu, maksud kedatangan saya kesini bersama Arla malam-malam seperti ini karena saya ingin meminta restu dari Bapak dan ibu kalau saya ingin menikahi Arla malam ini juga!" jelas Satria yang membuat Ahmad dan juga Yani membelalakkan matanya.
"Apa kamu bilang? Ingin menikahi Arla malam ini juga?! Apa kamu tidak waras hah?! Kamu pikir anak saya ini apaan di nikahi malam-malam begini, jangan bilang kalau kalian sudah berhubungan!" bentak Yani.
Arla hanya diam saja, dia menunduk malu pada kedua orang tuanya. Dia mengangkat wajahnya perlahan, satu tetes air mata jatuh kembali di pipinya.
"Maafkan Arla, Pak, Bu," ucap Arla.
"Dasar, kurang ajar kamu! Siapa yang sudah mengajarimu menjadi pelakor seperti ini hah?!" Yani menghampiri Arla lalu memukul kepalanya membuat tubuh Arla mendekat ke arah Satria.
"Sudah Bu, malu sama Nak Satria," kata Ahmad.
"Apa? Malu? Seharusnya mereka yang malu karena sudah melakukan kesalahan besar! Mereka sudah membuat kesalahan Pak, kamu memang anak sialan Arla! Kamu memang selalu saja menyusahkan kami!" Yani kembali memukul Arla yang hanya terdiam sambil menangis.
"Cukup Bu! Ini bukan keslahan Arla, ini salah saya, saya yang sudah melakukan hal yang tidak pantas padanya, dan maaf, saya sudah melakukannya, karena itu sekarang saya ingin bertanggung jawab atas kesalahan saya, tolong ijinkan kami menikah malam ini juga!" jelas Satria yang sudah tidak tahan melihat Arla di pukuli ibunya.
__ADS_1
"Punya uang berapa kamu mau nikahin anak saya malam-malam begini hah?!" tanya Yani pada Satria sambil berkacak pinggang.
"Ibu mau berapapun saya akan kasih, asalkan saya bisa menikahi putri ibu," jawab Satria.
"Oke, saya minta satu milyar! Dan kamu harus mengirimnya malam ini juga!" kata Yani membuat ketiga orang itu membulatkan matanya bersama.
"Apa yang ibu lakukan?! Kenapa ibu seakan ingin menjualku dengan mematok harga seperti itu?!" tanya Arla.
"Ibu gak mau pusing mikirin kamu lagi Arla, sudah satu bulan kamu gak ngasih duit sama ibu. Seharusnya kamu beruntung ada laki-laki yang mau bertanggung jawab seperti ini, kalau dia memberi ibu uang, malam ini kami akan menikahkan kalian," jawab Yani yang membuat Arla menggelengkan kepalanya.
"Satria mengambil sebuah cek dari dalam saku kemejanya. Dia meminta bolpoint untuk menuliskan beberapa nominal angka yang di minta ibu Arla. Setelah itu, dia memberiakannya pada Yani yanh tampak bahagia sekali.
"Ini ceknya, ibu bisa pergi ke bank untuk menukarnya dengan uang!" kata Satria.
"Waaahh..kita jadi kaya Pak, cepet pamggil Pak penghulu sekarang!" mata Yani berbinar sekali melihat ada banyak sekali angka nol yang berjejer di kertas.
"Baik, bu!" kata Ahmad lalu pergi.
Tak lama, kemudian Pak penghulu datang dengan hanya mengenakan sarung juga kopiah yang tak beraturan. Matanya terlihat masih ngantuk sekali.
Arla pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia tak menyangka, semuanya akan serumit ini, Arla memnangis meratapi nasibnya yang malang. Tapi kemudian dia kembali setelah berganti pakaian.
Setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya, Pak penghulu mengerti. Dia juga sangat mendukung jika keduanya harus segera di nikahkan meskipun nikaj secara agama terlebih dahulu.
"Baik kalau begitu, kita mulai saja ijab qobulnya sekarang, apa kamu sudah siap?" tanya Pak penghulu pada Satria.
"Iya, saya siap!" jawab Satria tegas dengan perasaannya yang begitu bahagia.
"Anda sudah siap juga Pak Ahmad?" tanya Pak penghulu lagi.
"Saya sudah siap sekali, hehehe," jawab Ahmad sambil terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu saya mulai ijab qobulnya sekarang!"
"Saya nikahkan dan kawinkan, Satria bin Arland Rahardja bersama Arla bin Arbani dengan Mas kawin berupa uang lima juta di bayar tunai!" kata Pak penghulu.
"Saya terima nikahnya Arla bin Arbani dengan Mas kawin berupa uang lima juta di bayar tunai!" dengan satu tarikan nafas, Satria berhasil mengucap ijab qobul membuat perasaannya lega.
__ADS_1
Arla memandang ke arah Satria yang begitu bahagia. Dia melirik ke arah kedua orang tuanya yang juga terlihat bahagia.
Kecuali dirinya, pernikahan ini tidak pernah dia inginkan akan terjadi seperti ini, tidak ada gaun pengantin, tidak ada dekorasi mewah seperti yang dia inginkan. Tidak ada tamu undangan, juga tidak ada kebahagiaan dalam hati layaknya sepasang pengantin pada umumnya.