Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Pertengkaran


__ADS_3

Arla dan Satria segera menyudahi drama ketidak sengajaan itu. Sedangkan Andi buru-buru mengambil Handponenya yang masih terdengar suara seseorang memanggil namanya di sana.


"Andi! Ada apa?!" teriak suara Khalisa dari Handphone.


"Eu-eu..nanti saya telpon lagi, bu," ucap Andi menutup telpon.


"Ada perlu apa kamu sampai datang kesini?" tanya Satria pada Andi, sebisa mungkin wajahnya biasa saja.


Berbeda dengan Arla yang kini merasa gugup dan khawatir jika asiisten pribadi mantannya itu merasa curiga terhadap mereka.


"Andi, apa yang kamu lihat barusan tidak seperti kenyataannya, Tuan Satria tadi akan jatuh dan aku menangkapnya, tapi kami malah...," Arla berhenti berbicara karena merasa malu.


"Iya, aku gak akan bicara sama kamu, aku akan bicara sama Pak Satria di sini,"


"Saya ingin membicarakan perihal meeting pagi ini yang tidak bisa di wakilkan oleh Bu Khalisa Pak, kata Bu Khalisa, Bapak harus segera ke kantor untuk menghadiri meeting bersama klien karena meetig ini sangat penting," jelas Andi pada Satria.


"Tapi, aku baru aja kecelakaan, dan hari ini aku gak bisa pergi ke kantor," kata Satria.


"Kecelakaan?" tanya Andi dengan dahinya yang mengerut, lalu melirik Arla yang begitu gelisah.


"Iya, kakiku terkena pecahan beling," jelas Satria.


Dari sana Andi paham lalu melihat ke arah kaki Satria yang sudah di perban.


"Baik, kalau begitu saya akan sampaikan ke pada Bu Khalisa kalau Bapak tidak bisa meeting pagi ini, saya permisi dulu," Andi berlalu tapi sebelumnya dia melirik ke arah Arla.


*******


Khalisa kini sedang berada di ruangan kerjanya. Dia mendapat kiriman pesan dari Andi.


[Berhati-hatilah kepada pembantumu itu, baru saja aku lihat dia tengah berciuman bersama Satria]


Isi pesan yang baru di baca membuat Khalisa membelalakan matanya.


"Apa?! Mereka berciuman?!" ucapnya dengan sorot mata yang berapi-api.

__ADS_1


"Kurang ajar! Sepertinya wanita itu bukanlah pembantu biasa, pantas saja pakaian dan juga kulitnya tidak seperti kebanyakan pembantu biasanya, apa jangan-jangan..., dia mantannya Satria?" Khalisa bermonolog sendiri dengan perasaan yang menggebu-gebu.


Dia berjalan keluar ruangan dengan cepat."Batalkan meeting dengan klien hari ini, aku akan pulang ke rumah!" ujarnya pada Sekertarisnya yang kini berdiri.


"Baik, Nyonya," jawab Sekertaris Khalisa sambil menunduk hormat.


"Kurang ajar! Awas saja kalian, aku tidak akan tinggal diam!" ujarnya sambil terus berjalan membuat para karyawan memandang ke arahnya sambil berbisik-bisik.


"Ada apa tuh sama si lampir?" bisik seorang karyawan wanita.


"Tau tuh, dia lagi pms kali, makannya marah-marah terus," jawab temannya.


"Ngapain kalian lihat-lihat?!" bentak Khalisa pada keduanya yang buru-buru kembali bekerja.


Khalisa berjalan cepat dengan amarah yang menggebu-gebu. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti saat seorang pria tua berdiri di hadapannya bersama beberapa orang di belakang.


Ternyata pria itu rekan bisnis Khalisa yang akan melakukan meeting dengannya. Mau tak mau Khalisa menerima meeting itu karena kliennya sudah datang tepat waktu.


Dia melirik ke arah Anya Sekertarisnya. Lalu mendelikkan mata karena merasa kesal padanya, terlambat membatalkan meeting bersama klien.


Setelah berjabat tangan juga mengobrol sebentar, Khalisa membawa rekan bisnisnya itu menuju ruang meeting dengan perasaan gelisah yang masih menyelimuti hatinya.


******


Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, Arla duduk di kursi taman untuk menenangkan diri.


Dia merenung membayangkan kejadian malam panas yang dilakukan Satria padanya. Tak terasa, satu tetes air mata jatuh di pipinya.


Perasaan hancur dan sakit setelah kejadian itu tak akan pernah bisa dia lupakan begitu saja, apalagi kini dia malah satu rumah dengan mantannya.


Bagaimana tak sakit hati, Satria yang kini sudah berkeluarga malah melakukan hal yang tidak pantas padanya. Dan lagi, dia melakukannya bukan hanya sekali, itu yang membuat Arla merasa muak bertemu dengan Satria.


Kesucian yang selama ini dia jaga sirna sudah. Kehormatan yang seharusnya dia berikan ke pada suaminya nanti sudah di renggut begitu saja oleh pria yang kini sudah berstatus sebagai mantannya.


Meskipun waktu itu Arla masih dalam pengaruh alkohol, kenapa Satria tidak menolaknya saja?

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah tangan menaruh beberapa tas belanjaan di samping tempat dia duduk. Reflek, gadis berparas cantik itu mendongak kepada seseorang yang menaruh tas belanjaan itu.


Ternyata Satria, dia sengaja membelikan Arla baju yang dia beli sendiri tadi. Mengingat mantan kekasihnya itu tak membawa baju ganti saat mendatangi rumahnya, Satria berniat membelikan Arla beberapa baju agar Arla tak susah-susah keluar rumah untuk membawa baju miliknya.


"pakailah, aku baru saja membelinya tadi!" kata Satria.


Arla tak menjawab, dia bangkit lalu hendak pergi tapi Satria menahan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Satria.


Ingin rasanya Arla melempar semua baju itu ke wajah tampan mantan kekasihnya. Hatinya sangat hancur saat ini, apa yang sudah Satria lakukan padanya tidak akan bisa dia maafkan.


Bagaimana mungkin semua itu terjadi di saat dia mulai bisa melupakan Satria?


"Aku bisa membelinya sendiri!" jawab Arla kembali melangkah, tapi Satria menahan lengannya bahkan mengeratkan pegangannya.


"Ganti bajumu yang lusuh itu! Aku tidak mau melihatmu memakai baju lusuh seperti itu!" titahnya tegas.


"Memamgnya kau inu siapa hah? Seenaknya saja menyuruhku mengganti pakaian, aku bisa membeli sendiri pakaian yang aku mau, dan pastinya itu bukan pemberian darimu!" jawab Arla meninggikan suaranya.


"Memangnya kau pikir kau juga siapa hah?! Disini kau hanya bekerja sebagai seorang pembantu, dan aku adalah majikanmu. Jadi, kau harus menuruti semua perintahku! Aku bilang, ganti pakaianmu sekarang juga!" titah Satria yang tak sengaja mengucapkannya karena kesal Arla tak kunjung menurut.


"Ya, aku memang hanya seorang pembantu, dan aku bukan pemuas nafsumu! Kenapa aku harus bertemu lagi dengan seorang bajingan sepertimu Satria! Bahkan aku menyesal kenapa aku tidak mati saja waktu itu agar aku tidak bisa bertemu kembali dengan orang sepertimu!" ucap Arla sambil menangis mengarahkan telunjuknya pada Satria.


"Maaf, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku,"


"Maaf? Mudah sekali kau meminta maaf padaku, kau pikir semuanya akan kembali seperti semula?" bentak Arla yang kini air matanya berjatuhan membasahi pipi.


"Arla, aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, ada yang menaruh obat perangsang di dalam minumanku dan aku tidak bisa menahannya," Satria memegang tangan Arla yang membuat wanita cantik itu segera menepis kasar.


"Aku harap, satu bulan berikutnya kita tidak akan pernah bertemu lagi!" ucap Arla sambil menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan Satria yang meraup wajahnya kasar.


Baru saja beberapa langkah masuk ke dalam rumah, Arla sudah di kejutkan oleh kedatagan Khalisa yang kini berdiri di hadapannya.


"Nyonya Khalisa!" ucap Arla terkejut sambil membulatkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2