Satu Ranjang Dengan Mantan

Satu Ranjang Dengan Mantan
Tinggal Kembali Bersama Satria


__ADS_3

Tiga bulan lamanya menjadi pasien rumah sakit membuat Arla merasa jenuh. Hari ini, dokter sudah memberitahu jika perban yang menutupi wajahnya akan segera di buka karena luka di wajah Arla sudah membaik. Kabar baik itu juga lantas di ketahui oleh keluarga Satria yang sudah menunggu di depan ruangan.


Ada rasa senang bercampur sedih saat mendapat kabar itu. Bagaimana jika wajahnya di kenali oleh Satria? Bagaimana jika Satria kecewa terhadapnya?


"Selamat pagi Nyonya Andini, hari ini saya yang akan membuka perban anda, karena Dokter Gilang sedang cuti bekerja, jadi saya yang akan menggantikan pekerjaannya." Ucap Frans yang tersenyum manis pada Arla yang ketakutan juga terkejut.


Semua keluarga Satria termasuk dirinya dan juga Khalisa turut memasuki ruangan saat Frans meminta mereka untuk masuk.


Perlahan Frans mendekati Arla yang kini tengah duduk di atas ranjang rumah sakit. Dia hendak menggunting perban bagian belakang, tapi Arla mencegahnya.


"Tunggu dokter," cegah Arla.


Frans melirik ke arahnya menghentikan pekerjaannya. "Ada apa Nyonya? Kenapa anda mencegah saya?" tanya Frans.


"Apa ini tidak terlalu cepat?" Arla balik bertanya.


Frans terkekeh mendengarnya. "Tentu saja tidak Nyonya, hari ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan anda akan terlepas dari perban, kenapa anda malah ketakutan?"


Arla melirik ke arah Diana yang melotot padanya. "Eu..., iya, maaf, dokter, tadi saya merasa gugup, silahkan lanjutkan pekerjaannya," ucap Arla.


"Makannya jangan banyak bicara dulu, dokter lebih tahu dari pada kamu," cibir Khalisa yang merasa kesal.


"Khalisa, jaga bicaramu pada Andini!" Satria mencoba membela Arla karena dia berpikir wajar saja Arla gugup.


"Kenapa malah membelanya?" rengek Khalisa pada Satria.


"Sudah! Kalian jangan ribut terus, biarkan Frans membuka perban dengan fokus, kalian jangan membuat keributan di rumah sakit!" Herman memutar bola mata jengah sambil mendengkus kesal.


"Seperti anak kecil saja!" tambahnya lagi.


"Baik, saya lanjutkan ya?" Frans mulai membuka perban Arla perlahan-lahan, dengan sangat hati-hati karena dia takut pasiennya itu kesakitan atau merasa tidak nyaman.


Semua perban telah terbuka menampilkan wajah Arla yang kini sudah polos tanpa di tutupi dengan perban lagi.

__ADS_1


Herman tersenyum penuh syukur, sedangkan Diana tersenyum licik melihatnya. Khalisa dan Satria biasa saja menanggapinya, malahan Satria hanya tersenyum saja karena ayahnya begitu antusias.


Arla mengerutkan dahinya. "Sebegitu lupa kah kamu padaku Satria? Kenapa kau hanya tersenyum biasa saja? Apa kau tidak mengenaliku?" batin Arla bertanya-tanya tak karuan.


"Selamat Andini, sekarang kamu sudah cantik kembali, tetimakasih karena kamu sudah menyelamatkan saya waktu itu, jika tidak ada kamu, mungkin saya yang akan bernasib buruk seperti ini, terimakasih Andini," ucap Diana langsung memeluk Arla yang kebingungan.


Herman ikut tersenyum melihatnya. Dia juga merasa senang dengan keadaan dan kondisi tubuh Arla alias Andini yang kini sudah membaik.


"Terimakasih Frans," ucap Herman pada Frans yang tersenyum menanggapinya.


"Iya, Om, sama-sama," balas Frans. "Kalau begitu Frans permisi dulu," Frans pergi meninggalkan mereka.


******


Tepat di hari ulang tahunnya, Arla di bawa ke rumah kediaman Herman yang jaraknya cukup dekat dengan rumah yang pernah dia tinggali bersama Satria waktu itu.


Arla di perlakukan bagaikan ratu oleh Herman. Dia tidak mengizinkan siapapun untuk menganggap Arla sebagai tamu, hari ini dia sudah mengangkat Arla menjadi putrinya.


Diana menyetujuinya, dia berpura baik saja di hadapan Herman. Diana juga memperlakukan Arla bagaikan ratu. Apalagi di rumahnya yang begitu mewah itu terdapat banyak pelayan yang akan membantu semua keperluan Arla.


Saat hendak menuju ruang tamu, Arla dan Satria berpapasan di tangga. Mereka saling memandang beberapa detik, kemudian Satria hanya tersenyum saja pada Arla.


"Sarapan dulu, mumpung lauknya masih hangat," ucap Satria pada Arla.


Arla hanya mengangguk saja mengiyakan.


"Satria!" panggil Arla pada Satria yang baru saja naik kembali, dia menoleh pada Arla.


"Ya?"


"Bajumu sudah aku siapkan di atas ranjang, tadi Khalisa masih tidur, jadi aku yang mempersiapkan baju untukmu, kemarin dia bilang aku yang harus mengurus semua keperluanmu," jelas Arla pada Satria, bukannya mengadu, Arla hanya takut di bilang lancang karena sudah memasuki kamar tanpa di ketahui Satria.


"Iya, terimakasih Andini," ucap Satria yang terlihat mengingat ucapan Arla, dia menjadi kesal pada istrinya yang sama sekali tak mau melayani kebutuhan dan keperluannya.

__ADS_1


"Iya," Arla hendak turun dari tangga, tapi Satria memanggilnya.


"Andini!"


"Ya?" segera Arla menoleh sambil tersenyum meski kini hatinya begitu sakit.


"Ada yang ingin aku bicarakan nanti denganmu, sebaiknya kamu sarapan saja dulu," kata Satria.


"Iya," Arla meneruskan berjalan menuju meja makan yang sudah terdapat Diana di sana.


Herman sudah lebih dulu berangkat bekerja. Jadi, dia hanya sarapan bersama Satria yang baru saja selesai, lalu pergi kembali menuju kamarnya.


"Ngapain duduk di sini? Sana cuci piring dulu sebelum makan! Kamu pikir saya mau menampung orang secara gratisan di rumah ini? Enak saja! Meskipun kamu sudah menyelamatkan saya, jangan harap saya akan bersikap baik sama kamu!" ujar Diana saat Arla baru saja akan duduk di kursi meja makan.


"Iya, bu," ucap Arla.


"Apa kamu bilang? Ibu?! Saya gak mau di panggil ibu sama kamu, panggil saya Nyonya karena saya tidak ingin menganggap kamu sebagai anak saya, saya hanya menganggap kamu sebagai pembantu di rumah ini!" kata Diana lagi dengan sorot tajam pada bola matanya.


Tak ingin membalas ucapan orang yang berstatus sebagai mertuanya itu, Arla berjalan menuju dapur di ikuti oleh Bi Narti yang memandangnya sendu.


"Hiks..hiks...," tangis Arla terdengar oleh bi Narti yang berdiri di belakangnya.


"Sabar ya Non, Nyonya besar memang selalu seperti itu, mudah-mudah han Non betah tinggal di sini," ucap Bi Narti pada Arla.


Karena ucapan itu membuat hati Arla menjadi tenang. Dia menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.


"Maaf Bi, saya jadi malu," ucap Arla.


"Kenapa harus malu, setiap orang yang bersedih pasti akan menangis, tidak usah malu untuk meluapkan kesedihan, Bibi mengerti keadaan Non Andini saat ini, sini biar Bibi saja yang mencuci piring," kata Narti.


"Tidak usah Bi, biar saya saja, saya sudah biasa mengerjakannya." Jawab Arla kembali melanjutkan pekerjaan.


"Tapi, Non,"

__ADS_1


"Andini, kenapa kamu yang mencuci piring?" Satria kebetulan datang karena dia ingat tadi akan membicarakan sesuatu dengan Arla.


"Tidak apa-apa, tadi aku sendiri yang ingin mencuci piring, ada apa? Kenapa belum berangkat bekerja?" tanya Arla.


__ADS_2