
Sementara Khalisa malah tersenyum puas melihat Satria kini terlihat khawatir pada Arla. Dia juga bukanlah orang yang bodoh. Saat Arla pergi dari rumah Frans, dia juga menyuruh orang untuk segera mencari Arla di setiap sudut kota. Bahkan dia juga sudah mengetahui tentang pernikahan Arla dan juga Satria saat di kampung.
"Ini baru awal saja Arla, jika kau tak mau pergi juga dari hidup Satria, maka aku akan menyingkirkanmu untuk selamanya!" ujarnya yang kini masih berada di ruangannya.
Rianti tak pergi bekerja, dia masih syok dengan kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu. Di todongkan senjata tajam oleh seseorang untuk memaksa Arla segera kembali ke rumahnya cukup membuat sikisnya terganggu.
Rianti buru-buru mengemasi barangnya karena dia takut hal yang lebih buruk akan terjadi kembali padanya. Meskipun dia sangat menyayangi Arla sahabatnya, tapi dia juga tidak bisa terus-terusan terancam karena sudah terlibat dalam masalah Arla.
[Maafin gue Arla, gue terpaksa ingkar janji sama lo, gue harus pergi dari kota ini, banyak sekali hal yang masih gue ingin lakukan di dunia ini dan gue gak mau mati konyol. Jaga diri baik-baik ya..maaf Arla]
Sebuah pesan muncul di ponsel Arla dari Rianti. Arla yang masih terpaku duduk di bangku taman segera membaca isi pesan yang baru muncul.
Air matanya tak henti menetes setelah membaca pesan karena dia sama sekali tak menyangka Rianti satu-satunya sahabat yang dia punya juga menjauh di saat Arla sangat membutuhkannya. Bahkan keluarga Arla saja tak bisa membantu masalahnya saat ini, yang mereka inginkan hanyalah uangnya saja.
"Rianti...hiks..hiks..," Arla terus saja menangis.
*********
Satria terpaksa kembali ke kantor karena sebuah telpon dari Papah mertuanya membuat dia tak bisa kembali meninggalkan pekerjaan. Khalisa pasti sudah mengadu pada Papahnya, makannya Radit segera menelpon menantu kesayangannya itu untuk segera kembali ke kantor.
Saat Satria membuka pintu tampak Khalisa tengah menangis sesegukkan duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Satria mendekat lalu duduk di samping istrinya.
"Bisa-bisanya kau lebih memilih untuk mengejar wanita lain dari pada memikirkan perasaan istrimu yang sangat terluka Satria!" jawab Khalisa sambil terus menangis bombay mengandalkan aktingnya agar Satria merasa iba.
"Maafkan aku Khalisa, tadi..., maaf...," ucap Satria sambil memeluk Khalisa yang membalas pelukkannya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mendapatkan nafkah batin saja darimu Satria, apa itu berat bagimu? Jikalau aku hamil nanti, aku berjanji tidak akan meminta lertanggung jawaban darimu, aku akan segera mengurua akte perceraian jika itu maumu, aku hanya ingin memiliki anak darimu, begitu saja, tidak lebih dari itu karena kau tidak akan pernah mencintaiku kan?" Khalisa melepas pelukkan sambil terus menangis.
"Maafkan aku Khalisa, aku belum siap untuk melakukannya, aku..,"
"Kenapa kau terus saja menolakku Satria? Apa kurangnya aku? Apa aku kurang seksi? Atau...apa aku kurang cantik sehingga kau tidak bisa menerima permintaanku?"
"Bukan begitu, aku...,"
Tring!
Suara panggilan masuk terdengar dari ponsel Khalisa yang membuat Satria berhenti bicara, sementara Khalisa segera menghapus air mata, lalu pergi untuk mengangkat telpon.
"Hallo?" Khalisa setengah berbisik mengucapkannya, dia pergi menuju tempat yang tak banyak di lalui orang.
"Hallo, Bos, kita sudah menemukan orangnya, sekarang kita akan mengatur strategi dulu agar tidak di curigai oleh orang lain," kata si penelpon.
"Oke, cepat kamu culik wanita itu! Jangan sampai dia kabur lagi!" perintah Khalisa.
"Awas saja jika kau gagal lagi! Aku tidak akan membayar kalian semua! Cepat laksanakan perintahku!" bentak Khalisa menutup telpon lalu membalikkan badan.
Seketika matanya melotot saat melihat Satria yang kini tengah berdiri beberapa meter di hadapannya.
"Sa-satria? Se-se-jak kapan kau ada disana?" tanya Khalisa gugup sekali.
"Aku baru saja sampai, siapa yang menelpon?"
"Itu, eu..., ini dari pembantuku, hari ini aku menambah beberapa pembantu di rumah dan mereka sama sekali tak becus bekerja, jadi aku meminta mereka untuk segera melaksanakan pekerjaan mereka, karena mereka itu lelet, masa mencari tempat gula saja harus menelpon padaku. Benar-benar tidak bisa di andalkan!" jelas Khalisa berpura terbakar amarah tapi hatinya kini merasa gelisah karena Satria memandangnya menyelidik sambil melipat tangan di dada.
__ADS_1
"Aku pikir itu dari Papahmu, baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke ruangan!" Satria pergi tanpa mendengar ucapan dari istrinya terlebih dahulu.
Karena Satria sudah pergi, Khalisa membuang nafas lega. Dia mengusap dadanya berkali-kali. Tapi kemudian dia berpikir keras kembali untuk merencanakan sesuatu agar Satria bisa tidur dengannya, lalu kehamilannya itu bisa dia sembunyikan terlebih dahulu.
"Benar-benar sulit menaklukkanmu Satria, harus dengan cara apa lagi coba?" gerutu Khalisa.
*********
"Apa?! Mamah kecelakaan? Apa dia sudah di bawa ke rumah sakit?" Satria terkejut saat mendapat kabar ibunya kecelakaan. Dia segera bergegas pergi mengendarai mobilnya karena hari sudah malam.
Sementara Khalisa kini sedang berada di restauran bersama Andi yang tengah menyantap makan malam bersama.
"Bagaiamana suapaya aku bisa menaklukkan Satria agar dia bisa tidur denganku?" tanya Khalisa pada Andi yang baru meneguk segelas air berwarna ungu tua.
"Uhuk..uhuk!"
"Pelan-pelan sayang," Khalisa mengelapkan tisu pada bibir Andi.
"Kau sudah gila hah? Kenapa kau ingin sekali tidur dengan Satria sementara selama ini kau sudah tidur denganku, apa selama ini juga banyak pria yang sudah tidur denganmu hah?!" Andi menggebrak meja membuat Khalisa tersentak.
"Bukan begitu maksudku Andi, aku tidak ingin tidur sungguhan, aku hanya ingin berpura-pura tidur dengannya saja supaya kehamilnku ini tidak di curigai!"
"Apa kau ini bodoh hah?! Kenapa hal seperti itu saja harus bertanya padaku, kau tinggal berikan obat tidur pada minumannya begitu saja repot!" kata Andi kesal.
Khalisa meneteskan air matanya merasa sakit hati dengan ucapan Andi. Dia yang kini tengah mengandung pasti perasaannya sensitif.
"Andi, kenapa kau harus membentakku seperti itu hah?! Aku sedang hamil sekarang, aku sedang hamil anakmu, tidak bisakah kau memberikan aku apa yang aku mau? Kenapa kau selalu menuntutku untuk terus saja mencari ide agar bisa menguasai harta Satria sedangkan kau sendiri tak mau membantuku!" ucap Khalisa sambil menangis.
__ADS_1
Seseorang perempuan berkaca mata hitam mendadak syok mendengarnya. Dia memegang dadanya karena tak lercaya dengan ucapan Khalisa yang menyebutkan bahwa dia tengah hamil anak benih dari Andi, bukan dari Satria.
"Astaga!" ucap wanita itu sambil menutup mulutnya, jantungnya seakan berhenti berdetak karena merasa syok sekali.