Secret Alexa

Secret Alexa
MCIML BAB 15- Masalah Kelurga Sinta


__ADS_3

Sinta langsung pulang ke rumahnya setelah mandi dan meminjam baju milik Alexa, dia kemarin lupa membawa baju miliknya karena terburu-buru sangking tak sabarnya.


Sinta berjalan perlahan ke rumahnya setelah turun dari ojek.


“Mobil? siapa?”.


Terparkir sebuah mobil di depan rumah Sinta, seingatnya ibunya tak memiliki teman yang punya mobil, bahkan ibunya tak memiliki teman kecuali tetangga nya saja.


Krieet..


Pintu rumah Sinta terbuka, dia langsung melangkah masuk ke dalam dan hendak menuju ke kamarnya karena merasa agak lelah.


Tapi, tiba-tiba saja Sinta mendengar suara dari ruang tamunya.


“Tidak! aku sama sekali tidak setuju jika kau menjual rumah ini hanya untuk perempuan j@lang itu saja!”. Suara ibu Sinta terdengar sangat marah dan berapi-api.


“Ini rumah ku! aku yang membeli rumah ini, apa hak mu melarang ku, hah?!”.


Plak!..


Pria itu menampar wajah ibu Sinta lalu meledakkan amarahnya begitu saja, dia ayah kandung Sinta.


“Aku juga memiliki hak 50% di rumah ini! kau tidak bisa seenaknya menjual ini, dan aku mempertahan kan ini untuk anak ku, anak kita!!”.


“B@jingan pembawa sial itu anak ku? oh, tidak, aku tak pernah mau mengakuinya sebagai anak ku!”.


Walau Sinta anak kandung nya, tapi dia tega mengatakan hal seperti itu.


Sinta mendengar hal itu, dia merasa sesak di dadanya karena mendengar ucapan itu keluar dari mulut ayahnya sendiri.


Ibu Sinta mengalihkan pandangannya, tak sengaja dia melihat tubuh Sinta yang ada di balik tembok.


“S-Sinta..” Gumam ibu Sinta dan langsung mendekati anaknya.


Ibunya memeluk Sinta yang gemetar, dia menangis.


Sungguh, siapa yang tahan di saat ayahnya sendiri mengatakan jika anak kandungnya adalah b@jingan dan pembawa sial.


“Sinta..” Ibu Sinta tak mengerti harus mengatakan apa sekarang.

__ADS_1


“Tengok, gak ada yang ngapa-ngapain tapi udah nangis aja, bener-bener anak yang menyusahkan!”. Lagi-lagi kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut ayahnya.


Sinta tak tahan, dia langsung berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamar, lalu menguncinya agar tida ada siapa-siapa yang bisa masuk.


Dia memasang headphone di telinganya, agar tak bisa mendengar pertengkaran mereka berdua yang ada di luar.


Sinta memang terlahir di keluarga pas-pasan. Tapi ayah dan ibunya berhasil membeli setapak tanah yang lumayan untuk mereka membangun rumah.


Sudah bertahun-tahun mereka tinggal bersama, rukun dan selalu menyayangi satu sama lain.


Terutama kedua orang tua Sinta sangat sangat padanya karena dia adalah anak tunggal mereka.


Tapi, setelah ayah Sinta kerja di luar kota untuk beberapa tahun. Dia pulang dan membawa surat gugatan cerai.


Di saat ibu Sinta minta penjelasan, dia mengatakan bahwa dia sudah muak menjadi miskin dan ingin hidup enak dengan kekayaan yang melimpah.


Ayah Sinta mendapatkan kekayaan karena dirinya berhasil merebut hati seorang CEO antik dari kota sebelah.


Akibat itu mereka berdua menikah diam-diam dan bahkan sekarang wanita itu telah mengandung anaknya.


Tapi, wanita itu merasa was-was karena ayah Sinta masih meninggalkan beberapa barangnya di rumah ibu Sinta, hal itu membuatnya cemburu.


Wanita itu mengatakan itu dengan alasan dia mengidam agar ayah Sinta tak lama-lama dan terlalu bertele-tele lagi dengan ibu Sinta.


Sinta selama ini tak tahu apa yang terjadi di belakang dirinya.


Walau terkadang dia mendengar suara pertengkaran kedua orang tuanya, tapi saya dia datang melihat atau bertanya mereka tak ada yang mengatakan sepatah katapun.


Tapi sekarang Sinta sudah tahu, ternyata selama ini dia hanyalah anka broken home.


Tak tahu harus apa lagi, dia tak kuat jika haru menjalani ini lebih lanjut.


Keluarganya yang bahagia sudah hilang di bawa oleh ombak pantai menuju ke tengah laut dan akhirnya membuyar di sana.


Dreettt...Dreettt...Dreeettt...


Ponsel Sinta bergetar, dia melihat nama sang pemanggil dengan pandangan yang agak kabur karena tertutup oleh air matanya.


Sinta enggan untuk menjawab, dia meletakkan kembali ponselnya.

__ADS_1


Tapi, lagi-lagi panggilan itu masuk ke ponselnya dan dengan terpaksa dia mengangkat ponsel tersebut.


[Hallo?]


Suara wanita terdengar dari sebrang telpon, Sinta tak menjawab apa-apa karena rasanya mulutnya susah untuk di gerakkan.


Prang!


Tiba-tiba saja sebuah kaca terjatuh ke atas lantai terdengar dan membuat Sinta kaget begitu juga dengan orang di sebrang telpon yang me dengar nya.


[S-Sin! Lo kenapa?! sin, ada masalah apa sih?!!] Suara itu terdengar panik dan ingin segera di beri tahu.


Sinta membuka mulutnya ragu, mengelap air mata yang ada di pipinya.


“G-Gue.. gue gak papa hehe.. ta-tadi.. cuman, cuman..”


[Sin! Lo nangis 'kan?! sin Lo kenapa sin! gue ke sana yah, gue jemput Lo, gue mau tau apa yang terjadi sama Lo!!]


Sambungnya telpon terputus sebelum Sinta memberikan jawaban.


Seharusnya dia cepat-cepat mengatakan agar jangan ke sini karena dia tak mau di keadaan seperti ini orang itu datang ke sini dan melihat keadaan yang benar-benar sial.


“Hikss.. hikss.. apa Salah gue? hikss..” Isak tangis Sinta menengahi di saat dirinya bertanya kepada dirinya sendiri.


Dia tak tahu lagi harus bertanya kepada siapa, karena sekarang tembak terbaiknya Alexa tak memiliki ponsel untuk bisa dia hubungi.


Sekarang Sinta hanya bisa menunduk meringkuk di ujung ranjang dengan Isak tangis dan air mata yang terus mengalir melewati pipinya.


“Tuhan.. apa gak cukup kau ambil kakek dari ku? apa kau masih belum bisa melihat aku bahagia bahkan hanya untuk sesaat saja? aku hanya ingin bahagia, aku tak minta apa-apa lagi, kemarin aku sudah mendapatkan kebahagiaanku, tapi sekarang masalah baru muncul lagi..” Gumam Sinta dengan nada gemetar. “Apa masih belum cukup penderitaan yang kemarin kau berikan untukku? mengapa kau tidak ambil aku saja dan siksa aku di sana? setidaknya setelah kau menyiksaku aku akan bahagia..” Pikirannya mulai bercabang.


Dia tak bisa berpikir jernih sekarang, nafas nya terasa tak beraturan, seluruh badannya yang gemetar dan sesekali kaget di saat barang-barang jatuh ke lantai dengan keras.


Padahal dia sudah mengunakan headphone, tapi suara kedua orang tuanya itu benar-benar sungguh besar.


Kemungkinan sudah banyak tetangga yang ada di depan rumah mereka karena penasaran dengan apa yang terjadi di rumah ini.


Rumah yang selalu damai, tak pernah membuat masalah sedikitpun.


Kini ruang itu sudah tak ada lag, sekarang hanya ada rumah di mana dua orang sedang bertengkar adu argumen dan satu anak menangis di sudut ruangan sembari meringkuk.

__ADS_1


__ADS_2