
Sudah berjam-jam mereka menunggu Andrean bangun, tapi remaja itu sama sekali tak bangun-bangun padahal sudah hampir dua jam mereka menunggu di ruangan tersebut.
Taapp..Taapp...Taapp...
Langkah kaki terdengar di telinga Ivan yang masih setia memegang tangan Andrean.
“Pulang”. Ucap orang itu dengan wajah datar, dia adalah Evan yang sudah sejak tadi menunggu Ivan di mobil tapi kakak nya tak kunjung datang hingga akhirnya dia balik lagi ke kelas dan ternyata tak ada orang satupun di sana.
Untung Evan bertemu dengan salah satu guru dan mendapat info bahwa Ivan membawa Andrean ke UKS setelah jam pelajaran usai tadi.
“Lah lupa gue!”. Ucap Ivan dan mengacak-acak rambut bagian depannya. “But btw.. gue masih mau nunggu Andrean, Lo kalok mau pulang silahkan karena gue bisa naik taksi nanti”. Sambung Ivan.
“Mommy n Daddy come home today apa Lo lupa? n mereka udah sampai di rumah dari tadi”. Tanya Evan lalu memberitahu kepada Ivan bahwa ke-2 orang tua mereka sudah berada di mansion keluarga Anggara.
“Gue inget dan tau, tapi gue masih mau nunggu dia”. Jawab Ivan.
Sebenarnya kedatangan ke-2 orang tuanya tak terlalu penting bagi dirinya karena mereka yang jarang bertemu hingga di saat mereka bertemu Ivan selalu merasa tak nyaman.
__ADS_1
Evan memegang kepalanya dan terdengar helaan nafas panjang dari pemuda itu.
Evan melirik ke samping kanannya dan ternyata Alexa tertidur pulas di kursi dan bersandar di bahu Andre dan Andre juga tertidur di sana.
Yang masih membuka mata hanya Ivan dan Gery saja selain Evan yang baru datang.
“Eh Van, Lo beneran belok ya? gila jijik gue ngeliat Lo!”. Ucap Evan ketika melihat wajah Ivan yang sangat terpancar khawatir dan menggenggam tangan Andrean.
Ivan yang mendengar perkataan Evan langsung menatap nya sinis dan Evan tak berekspresi apapun sekarang.
“Jijik”. kata itu lagi keluar dari Evan, tapi kali ini Ivan hanya diam.
“Terserah Lo deh”. Ucap Evan menyerah ketika melihat kakak yang tak berekspresi dengan ucapan nya.
Evan penarik pelan salah satu kursi yang ada di sana lalu duduk dengan jarak yang tak jauh dari Ivan.
Evan memandang wajah Ivan yang masih memasang raut wajah khawatir ke arah Andrean, sebenarnya agak iri ketika melihat Ivan yang begitu peduli terhadap Andrean, karna seharusnya laki-laki yang Ivan sayangi adalah adiknya atau nanti anaknya, tapi ini malah orang lain, tapi it's okay, Evan well kalau itu keluarga Domani karena mengingat dia pacarnya Alexa.
__ADS_1
Keheningan terpancar di ruangan itu hingga akhirnya mereka tiga orang yang masih setiap membuka mata melihat Andrean yang bergerak di atas kasurnya.
Gery langsung berjalan ke arah kasur Andrean dan hendak memeriksa Andrean.
Andrean memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing dan menyipitkan matanya ketika mendapatkan cahaya matahari berada tepat mengenai wajahnya.
Perlahan Andrean mulai membuka matanya dan melihat ke depan, di depan nya ada sebuah rak obat yang besar.
Andrean memutar matanya melirik ke kanan, di kanan nya tidak ada orang sama sekali.
Dan setelah Andrean memutar matanya melirik ke kiri, Andrean terkejut di saat melihat Gery, Ivan dan Evan yang sangat dekat dengan nya.
Di belakang mereka juga terlihat oleh Andrean kedua adiknya yang tertidur pulas di kursi.
“Van..” Panggil Andrean kepada Ivan dan Ivan langsun mendekati Andrean. “Jangan tinggalin aku lagi..” Ucap Andrean dan langsung mengangkat tangannya lalu memegang pipi Ivan lembut.
‘Gak tau mau ekspresi gimana, tapi jijik banget sumpah ’ Batin Evan yang tak suka melihat itu.
__ADS_1
Evan langsung bangkit dari kursinya dengan wajah datar. “Gue nunggu di mobil, buruan setengah jam paling lama". Ujar Evan lalu pergi dari sana.
Ivan sudah tahu bahwa Evan tak suka melihat dia dan Andrean yang seperti ini, tapi dua tak bisa membohongi perasaan nya demi keluarganya.