Secret Alexa

Secret Alexa
MCIML BAB 37- Terganggu


__ADS_3

Beberapa mata melihat Alexa yang baru masuk ke dalam kelas.


Mereka heran karena melihat Alexa yang kembali ke kelas tanpa Evan, padahal jelas-jelas mereka melihat Evan langsung menarik Alexa di saat bel istirahat berbunyi tadi.


“Gue kok ngerasa temen-temen Lo pada favorit narik tangan Lo kayaknya”. Gumam Nathan setelah Alexa duduk di kursinya.


Alexa memutarkan badannya lalu tersenyum tipis ke arah Nathan. “Gak kok, tadi cuman lagi pelik aja keadaanya”. Jawab Alexa, tiba-tiba Alexa teringat sesuatu. “Anyway, kok bisa kakak juga masuk ke kelas ini?”. Tanya Alexa, dia merasa heran.


“Bisa lah, gue gitu”. Jawab Nathan dengan nada sok paling bisa dan membuat ekspresi sombong.


Alexa hanya menaikkan sebelah alisnya lalu berdeoh dan memutar badannya karena melihat Evan yang masuk ke dalam kelas.


Evan langsung duduk di kursinya kembali sementara keliy masih tetap memata-matai nya dari bangku belakang.


Tringg..


Akhirnya pulang sekolah, semua murid kini keluar dari kelas mereka tapi ada juga yang masih piket.


Hari ini Alexa tidak piket, jadi dia memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen Maudy.


Dia merasa mungkin malam ini tidurnya akan nyenyak karena sudah bertemu dan mengobrol dengan Evan.


“Lexa!!”. Andre berteriak di saat melihat Alexa yang berjalan perlahan menuju gerbang sekolah.


Alexa membalikan badannya karena merasa jika suara itu tak asing bagi nya.


“Ada apa kak?”. Tanya Alexa setelah melihat wajah Andre dengan jelas.


“Gak ada sih cuman mau tanya aja, gimana tinggal sama Tante Maudy, enak?”. Tanya Andre sembari mengikuti langkah Alexa dari sebelahnya.


“Kak, mama bukan makanan yang bisa di nilai enak atau gak enak loh”. Jawab Alexa, perkataan nya memang benar.


“Bukan gitu konsep nya Lexa! maksudnya gimana nyaman gak di sana? Lo betah gak? mau balik gak?”. Ucap Andre yang agak emosi.


Alexa hanya tersenyum lalu tiba-tiba saja dia tersadar kalau Andrean tak bersama dengan Andre.


“Kak, kak rean mana?”. Tanya Alexa sembari celingak-celinguk mencari keberadaan Andrean, siapa tahu kakaknya ada di sekitar sana.

__ADS_1


“Rean piket, pas gue bilang mau gue temenin dia malah nyuruh gue keluar, jadi yaudah fine”. Jawab Andre apa adanya saja.


Alexa hanya berdeoh mendengar jawaban itu.


Kini Andre dan Alice berada di depan gerbang sekolah, di sana ada supir pribadi yang menjemput triple a dan dulunya juga menjemput Alexa, tapi sekarang tidak lagi.


“Mau di anter dulu?”. Tanya Andre.


Alexa menggeng pelan, dia tak mau merepotkan supir dan membuat kedua kakak kembarnya harus menunggu ketika supir belum usai mengantarnya nanti.


“Aku naik bus aja”. Jawab Alexa sambil tersenyum.


“Hmm.. okay, yaudah hati-hati yah”. Jawab Andre lalu memberi pesan kepada Alexa.


Alexa hanya memberi isyarat 'ok' mengunakan jari nya tanpa melihat ke arah Andre.


Dia berjalan ke arah stasiun bis lalu langsung menunggu bis di sana.


Setelah beberapa saat bis datang dan Alexa pun langsung pergi dari sana menuju apartemen Maudy.


Di sisi lain Andrean sedang menyapu kelas dengan brutal karena dia ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


Andrean langsung melihat ke arah orang itu, dia tersenyum lebar dengan tas selempang yang dia pakai dan berdiri tegak di depan pintu.


Andrean tak menjawab dan membuang pandangannya, dia kembali melanjutkan menyapunya tapi kali ini dia pelan-pelan.


Orang itu masih tak kunjung pergi dari sana, dia terus saja memperhatikan Andrean dan hal itu 101% membuat Andrean tak nyaman plus canggung.


Andrean sengaja lama-lama menyapunya agar orang itu pergi dan setelah itu baru dia lah yang akan pergi.


Tapi, orang itu sama sekali tidak pergi dari sana dan hal itu membuat Andrean marah.


Andrean adalah orang yang pendiam, tadi dia bisa marah di saat keadaan sekitarnya membuat dia gerah terutama saat ini dia sedang menyapu dan keringat nya tentu mengalir melewati pelipisnya.


Dan orang itu malah menatap Andrean, itu benar-benar membuat Andrean seolah bak panci perebus air yang kini sudah mendidih.


Andrean menghela nafas panjang lalu melihat ke arah orang yang masih memperhatikan nya.

__ADS_1


“Apa udah paus?”. Tanya Andrean dan orang itu malah menggelengkan kepalanya dan membuat Andrean semakin mengeryitkan alisnya.


“Anyway.. gimana kabar Lo?”. Tanyanya setelah melangkah masuk ke dalam kelas dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat.


Mau tahu siapa dia? dia adalah Ivan, Ivan Anggara.


Itulah mengapa Andrean merasa tak nyaman dia tak nyaman di saat dia menatapnya karena dia adalah Ivan Anggara.


Andrean refleks memundurkan langkahnya karena instingnya merasa tak enak dengan hal itu.


Tapi hal itu malah membuat Ivan semakin semirik dan akhirnya dia berhasil membuat Andrean terpojok hingga bokongnya menabrak dinding.


Andrean memejamkan matanya di saat Ivan mengikis jarak wajah mereka.


“KAK AY-”. Tiba-tiba saja Evan muncul di depan pintu dan membuat Andrean membuka matanya lalu melihat ke arah Evan yang ada di depan pintu.


Ivan juga sama, dia memutar kepalanya melihat ke arah Evan.


“Ahh.. maaf.. gue dateng gak tepat”. Evan tersenyum canggung lalu mundur dan pergi dari sana.


Ivan yang melihat Evan sudah pergi langsung berdiri tegak dan memutar badannya. “Okay, gue masih ada urusan, semangat nyapu nya Andrean..” Ucap Ivan dengan senyum di wajahnya.


Andrean hanya diam saja di saat melihat Ivan yang keluar dari kelas itu.


Kini Andrean menghela nafas lega lalu berjalan untuk kembali menyapu.


Kali ini Andrean menyapu dengan cepat-cepat agar dia bisa cepat pulang dan tak akan ada masalah lagi.


Seharusnya ada sekitar 4-5 orang yang piket di kelas itu, tapi mereka semua pergi begitu saja dan meninggalkan Andrean di sana sendiri.


Awalnya Andrean juga ingin kabur, tapi sialnya gurunya memergokinya dan langsung menyuruh Andrean untuk menyapu kelas itu hingga bersih seorang diri.


Andrean meminta bantuan Andre, tapi adik kembarnya yang akhlaknya minus itu lebih memilih untuk menunggu di luar dan membiarkan kakak kembarnya membersihkan kelas mereka sendirian.


Andre tidak kejam, Andrean pernah melakukan hal seperti itu maybe 2/3 kali dan dia juga sama meninggalkan Andre sendiri di kelas untuk menyapu.


Setelah beberapa saat akhirnya Andrean selesai, dia langsung mengambil tasnya dan keluar dari kelas itu.

__ADS_1


Dia juga mengunci kelas itu lalu menaruh kunci di tempat andalannya(bawah pot).


Di sana sangat sepi, hanya tersisa beberapa murid yang mungkin juga sama seperti Andrean piket kelas.


__ADS_2