
Setelah beberapa saat akhirnya wanita itu pergi dengan darah Alexa yang dia bawa, Alexa langsung mengubah lehernya kesakitan setelah wanita itu melepaskan nya.
“Ambil kotak P3K cepat!!”. Perintah andrean kepada para maid yang masih terdiam karena tak percaya dengan apa yang mereka lihat tadi.
Semuanya tersadar lalu berpencar dari sana dan melakukan tugas mereka.
Setelah beberapa saat seorang maid kembali ke sana dan memberikan kotak P3K kepada Andrean.
Andrean langsung mengambil obat selep untuk meringankan rasa sakit, mengeringkan luka dan membersihkan virus.
Andrean langsung memasang perban di leher Alexa agar lukanya tidak terhingga debu-debu.
“Eh? ada apa, kenapa?”. Tanya Andre yang baru turun dari lantai dua tetapi sudah melihat Andrean dan Alexa di sofa memasang wajah yang jarang untuk di lihat.
Alexa ataupun Andrean tak menjawab karena Andrean yang sibuk memasang perban di leher Alexa sementara Alexa yang kesakitan dengan lehernya.
Setelah beberapa saat akhirnya Andrean sampai di sana dan sangat terkejut di saat melihat Andrean yang memperban leher Alexa.
“Weh! kenapa tuh leher?!!”. Tanya Andre dengan nada heboh milik nya.
Andrean tak menjawab dan Alexa pun juga sama, setelah beberapa saat akhirnya perban selesai tapi Alexa masih merasa kesakitan.
Wajar saja, itu adalah luka sayat dan lumayan dalam hingga membuang begitu banyak darah Alexa.
“Kenapa woy?! gue dari tadi capek nanyak ini Mulu!”. Tanya Andre lagi, tapi kali ini dia sudah benar-benar marah karena sedari tadi mereka di tanya tapi tidak ada satupun yang menjawab.
“Kenapa? Lo mau bantu cari pelakunya siapa?”. Tanya Andrean balik.
Andre menatapnya bingung. “Pelakunya? maksud lu?”. Tanya Andre bingung.
“Darah Alexa di ambil sama cewek gak jelas”. Jawab Andrean.
Karena mendapat jawaban itu Andre sontak kaget dan menatap Alexa yang duduk di sofa dengan ekspresi panik.
__ADS_1
“Ja-Jadi, berapa banyak dia ambil? kenapa Lo gak cegah rean!”. Tanya Andre lagi dan langsung menuduh Andrean yang padahal sangat ingin membantu Alexa tadi.
“Lo kira gampang nge-cegah orang yang lagi bawa piso? bisa-bisa gue pun entar mati di tangan nya!!”. Jawab Andrean agak kesal dengan ucapan Andre.
Andre menghela nafas. “It's okay deh kalau Alexa selamat, untung Lo masih bisa idup sa..”. Ucap Andre sembari mengelus dada nya yang tadi nya berdegup kencang karena panik kini sudah kembali lumayan stabil setelah dia menghela nafas.
Andre duduk di sebelah Alexa dan menatap Alexa yang masih memegangi lehernya.
“Btw, buat apa darah gue dia ambil? kalau buat donor darah.. bukanya itu terlalu sikit, ya?”. Tanya Alexa yang sedari tadi penasaran dengan hal itu. “T-Tunggu, jangan bilang kalau dia vampir!!”. Ucap Alexa, dia tahu makhluk yang suka darah selain nyamuk, itu adalah vampir.
Tapi, apa mungkin ada vampir di jaman yang modern seperti itu? dan kalaupun vampir maka dia akan hilang kendali di saat melihat darah siapapun.
Andrean menggelengkan kepalanya. “Bukan, dia bukan vampir”. Jawab Andrean, setahunya tidak ada vampir di jaman sekarang dan jika ada wanita itu sama sekali tidak memiliki ciri-ciri vampir di dirinya.
Alexa menghela nafas lega setelah mendengar jawaban Andrean, dia pikir dia akan menjadi sasaran para vampir kalau memang benar wanita tadi vampir dan vampir itu ada.
“So.. buat apa dia ngambil darah gue?”. Tanya Alexa lagi.
Kali ini Andrean maupun Andre tidak menjawab, sebenarnya mereka juga tidak yakin apakah pikiran mereka benar atau tidak.
“Gue kurang tau buat apa dia ngambil darah Lo, tapi sebenernya gue tau apa fungsi darah Lo sama dia, maybe..”. Jawab Andrean agak ragu.
Alexa menatap Andrean dengan tatapan penasaran, sebenarnya sangat jarang dia memiliki tatapan penasaran seperti itu kala bertanya.
“So.. apa fungsi darah gue?”. Tanya Alexa. “...gak mungkin kan.. kalok darah gue... ajaib?”. Ucap Alexa lagi, dia mengatakan apa yang ada di pikiran nya saat ini.
Andrean menatap balik Alexa, kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, mata mereka yang berwarna biru laut kini saling bertemu.
“Gue akan kasih tau, karena udah terlanjur ada kejadian kayak gini”. Ucap Andrean dengan wajah serius.
“Ckckck.. wel karena dia udah tau, tapi apa bunda sama ayah ngizinin kita buat bilang ini ke Alexa? no”. Sahut Andre dengan senyum melihat ke arah Andrean dan Alexa.
“...Kenapa gak boleh?”. Tanya Alexa.
__ADS_1
“It's okay.” Ucap Andrean dan dia langsung berdiri dari sofa lalu melangkah perlahan pergi. “Ikutin gue, Andre liatin jangan ada yang ngikut”. Perintah Andrean kepada Alexa dan Andre.
Alexa langsung berdiri dan mengikuti langkah Andrean perlahan, sementara Andre kini juga mengikuti mereka tapi dia juga mengawasi sekitar agar tidak ada yang mengikuti mereka seperti perintah Andrean.
Langkah kaki mereka kini menuju ke suatu tempat, tempat yang sangat sepi dan sangat jarang di datangi oleh kehidupan.
Tempat itu berada di lantai tiga, itu adalah perpustakaan milik keluarga Domani.
“Kak.. buat apa kita ke sini?”. Tanya Alexa penasaran, demi apapun dia sebenarnya sama sekali tidak pernah datang ke ruang perpustakaan itu sebelumnya.
Andrean tak menjawab perkataan Alexa dan terus saja berjalan.
Andrean langsung memasukkan sebuah kunci ke lubang kunci yang ada di pintu perpustakaan, entah bagiamana caranya tapi Andrean memiliki kunci itu.
Ceklek..
Gagang pintu di putar perlahan dan pintu juga terbuka perlahan, dengan langkah kakinya yang tidak besar dan tidak juga kecil Andrean masuk ke dalam perpustakaan tanpa ragu.
Alexa mengikuti Andrean perlahan, sebenarnya dia agak takut karena tempat itu sangat sepi dan hening, tepatnya seperti gudang hanya saja di sana bersih, mungkin karena para maid membersihkan nya.
Andrean menyuruh Alexa untuk duduk di kursi yang ada di sana setelah itu dia pergi ke rak buku dan mencari salah satu buku yang ingin dia tunjukkan kepada Alexa.
Andre ada di mana? dia berada di luar, mengawasi sekitar agar tidak ada yang masuk atau menguping di saat Alexa dan Andrean berbicara di dalam.
Setelah beberapa saat akhirnya buku yang Andrean cari ketemu, buku itu terlihat tua dan usang, maybe karena sudah lama tidak di buka atau gunakan.
Andrean duduk di depan Alexa, kursi yang ada di sana sebenarnya hampir sama dengan kursi dan meja makan, tapi bedanya ini khusus untuk perpustakaan.
Andrean meletakkan buku di depan mereka, menatap buku itu sebelum dia membukanya dan memberi tahu apa isinya kepada Alexa.
“Alexa Lo siap tau tentang ini? kita bisa-”.
“Gue yakin mau tau, gue gak akan ngubah keputusan gue karena gue gak suka plin-plan”. Sahut Alexa sebelum Andrean selesai dengan ucapan nya.
__ADS_1
Andrean hanya diam saja menatap senyum di bibir Alexa, sebenarnya dia masih kurang yakin untuk memberitahu isi buku itu kepada Alexa.
Tapi untuk keselamatan Alexa, dia harus memberi tahu hal itu tanpa sepengetahuan Megan ataupun Bryan.