Secret Alexa

Secret Alexa
MCIML BAB 17- Senyuman Terakhir


__ADS_3

Tidak ada siapa-siapa di sana. Semuanya gelap, hanya ada satu sumber cahaya di ujung sana.


Dia langsung berjalan ke sana dan menemukan pintu di sana.


Krieett..


Pintu terbuka perlahan, dia langsung masuk dan ternyata di sana sungguh terang, ada matahari bersinar.


Rerumputan rimbun di sana, banyak bunga warna-warni.


“Di mana ini?”. Gumamnya dan melihat sekeliling.


“Sinta...”


Tiba-tiba dia mendengar seseorang menyebut namanya dari jauh.


“Sinta..”


“Sinta!”. Tiba-tiba sosok itu sudah berada di sebelahnya sembari tersenyum.


“Mama!”. Sinta memeluk ibunya seolah mereka sudah tak bertemu selama bertahun-tahun. “Aku sudah tau kalau mama masih hidup, mama gak mungkin ninggalin aku!”. Lanjutnya senang dan bercampur sedih.


“Mama gak akan ninggalin Sinta, sekarang kita hidup bahagia okay”. Ibu Sinta tersenyum menatap anaknya.


Sinta tersenyum kembali. “Okay!”. Jawab Sinta semangat.


Ibu Sinta tersenyum. “Yaudah, ayo kita pulang sayang”. Ajak ibu Sinta lalu pergi dengan langkah perlahan di atas rumput rimbun dan bunga-bunga mengelilingi mereka.


Sinta mengikuti langkah ibunya sembari tersenyum.


Tapi, tiba-tiba dia teringat sesuatu dan tiba-tiba dia menjadi ling-lung.


“Alexa?”. Gumam Sinta dan seperti mencari keberadaan sahabatnya itu. “Mah.. kita ada di mana ma?”. Tanya Sinta setelah langkahnya terhenti.


Ibu Sinta menghentikan langkah nya, melihat ke arah anaknya yang berada tak jauh dari dirinya.


“Ini rumah kita sayang”. Ibu Sinta tersenyum.


‘Rumah ’ Sinta merasa jika dia sudah tidak punya rumah, jadi rumah apa lagi sekarang? “Ma, di mana sebenernya kita mah! aku mau ketemu sama Alexa! dia pasti khawatir sama aku!”. Sinta kembali celingak-celinguk mencari jalan yang mungkin saja dia kenal.

__ADS_1


Tapi, di sana sama sekali tidak ada apa-apa selai rumput dan bunga, bahkan pintu yang tadi di masuki oleh Sinta sudah menghilang.


“Gak bener! ini aneh! di mana pintunya? kenapa semua jadi rumput kayak gini?!”.


Ibu Sinta mendekat.


“Sayang.. kamu punya waktu 5 menit, kamu bisa jelasin semuanya sama dia sayang”. Ibu Sinta memeluk anaknya erat.


Tiba-tiba saja Sinta merasa mengantuk, tapi tiba-tiba lagi dia merasa kepala dan dadanya sangat sakit, benar-benar sakit.


Sinta membuka matanya perlahan.


Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Alexa yang sedang menangis di depan nya.


“Sinta! Sinta kamu bangun! kamu jangan pergi yahh, jangan tinggalin aku okay! aku bakal kasih apa aja sama kamu, kamu jangan pergi ya? kita kan udah janji bakal jadi sahabat selamanya”. Alexa mengatakan itu dengan nada gemetar dan matanya yang terus mencurahkan air mata.


Sinta tersenyum. Dia senang masih bisa melihat Alexa walau mungkin ini adalah yang terakhir baginya melihat Alexa.


“Le... huff.. sa.. M.. Ma..aaff... gue.. ga-gagal nepatin.. huff.. janji.. haaahhh.. k-kita.. M-Maaf..” Sinta tetap berusaha tersenyum walau air mata mengalir dari ujung matanya.


Alexa menggeleng kuat. “Gak sin, kamu harus bisa bangun, kamu harus sembuh okay? kamu harus kuat sin, aku mohon sama kamu sin..”


“Gue.. huff.. u-udah.. g...ak.. p-punya..haaahhh... si-siapa.. s..siapa.. lagi...di..haaahhhh...Hufff... s-sini..” Ucap Sinta dan menggenggam tangan Alexa yang gemetar.


Tapi Alexa tak bisa membalas senyum itu karena dia tak mau membiarkan Sinta pergi darinya.


“Se...nyum..huff... per..min..taan.. te-terakhir..gue.. L-Lo..se..nyum..” Sinta masih terus tersenyum walau tubuh dan dadanya sudah terasa sangat sakit, dia sudah mencapai batas nya.


“Sin.. kamu bercanda 'kan sin? hikss.. ini gak lucu..” Mana ada yang bisa tersenyum di saat seperti ini.


“See..nyum..” Lagi Sinta berkata dan dia memegang pipi Alexa walau tangan nya terasa sakit untuk di angkat.


Alexa tersenyum paksa dengan matanya yang terus mengeluarkan air mata.


“Ma..kaa..sih..” Ujar Sinta lirih. Sinta menoleh lagi lemas dan tak sengaja melihat ada triple a, Kenzo dan Acha yang tak jauh dari mereka berdua.


Sinta tersenyum ke mereka semua, tapi tak ada yang membalas senyumannya karena mereka sedang menahan air mata mereka agar tidak jatuh.


“Ma-Makasih.. gu..e.. ma..ka..sih.. b-banget.. sa..ma..kali..an..se-sem..ua..”

__ADS_1


Demi apapun. Ternyata tidak ada yang bisa menahan air mata, semua yang ada di sana menangis termasuk Andrean yang pendiam itu.


“Sin..” Acha lirih sembari mengusap air matanya perlahan. “Maaf karena gue gak bisa bantu Lo banyak padahal Lo udah banyak ngebantu gue.. maaf..hikss..”Ujar Acha sembari menutup wajahnya karena dia tak ingin di liat siapapun kalau dia sedang menangis.


“Gue juga minta... hiks.. maaf karena gak bisa buat apa-apa sama Lo.. gue hikss.. maaf!”. Ujar Kenzo di tengah Isak tangisnya.


Andre dan Andrean tak mengatakan apa-apa karena mereka tak sanggup berbicara di tengah isak tangis mereka.


“Makasih”. Suara Sinta terdengar jelas, dia tersenyum begitu manis seperti saat dia sedang senang.


Tuutt.......tuutttt...


Tapi, itu adalah perkataan dan senyuman terakhirnya untuk hari ini dan selamanya.


“S-Sinta! hiksss.. Sinta!.. gak, ini pasti mimpi.. hikss.. Sinta ayok bangun sin.. hikss.. kamu bilang kita masih mau buat kenangan lebih banyak.. hikss.. Sinta!!!”.


Seketika itu juga Alexa menjadi histeris tak jelas, berteriak dan terus-menerus menggoyangkan tubuh Sinta berharap dia akan bangun kembali.


Karena Alexa yang terus-menerus menangis histeris dan terus-menerus berteriak, itu membuat dokter terpaksa harus menyuntik nya dengan obat penenang agar Alexa tertidur walau hanya sesaat.


“Gak! lepas! Sinta!! Sinta ayok bangun sin! kamu gak boleh gini sin! Sinta!! lepasin!!! Sinta!”. Alexa terus berontak di saat dua dokter memegang kedua tangan dan tubuhnya.


Tanpa lama-lama dokter itu langsung menyuntik Alexa mengunakan obat penenang dan perlahan Alexa pun teperosot ke lantai.


‘Ini bercanda 'kan sin? ’


Kita memang selalu punya harapan, bahkan harapan kita benar-benar besar atau mungkin harapan kita hanya sederhana saja.


Tapi, dunia ini tidak selamanya bisa kau tempati, tidak ada manusia yang abadi hingga dia bisa mencapai harapan nya dengan mulus.


Kita memiliki harapan.


Tapi dunia memiliki kenyataan.


Sangat jarang bagi manusia bisa mewujudkan harapan mereka dalam waktu singkat.


Dan kini, Alexa dan Sinta sudah memutuskan harapan mereka, mereka sama-sama tidak memiliki harapan sekarang.


Sekarang Sinta sudah menjadi bintang di langit, dari satu juta bintang di langit, mungkin salah satunya adalah Sinta yang sedang tersenyum.

__ADS_1


“Maaf Lexa, gue belum bisa nemenin Lo di kehidupan ini, semoga di kehidupan berikutnya kita di pertemukan dan kita bisa mewujudkan mimpi kita yang gagal kita lakuin”. Sinta perlahan tembus pandang dan menghilang seketika setelah air matanya mengalir begitu deras melewati pipinya.


Sekarang sudah tidak ada lagi Sinta di sana, sekarang Sinta berada di langit. Sinta sekarang menjadi bintang yang menyinari malam menemani bulan.


__ADS_2