Secret Alexa

Secret Alexa
MCIML BAB 16- Sinta Kenapa?


__ADS_3

Sinta pingsan karena nafasnya yang tiba-tiba saja menjadi sesak.


Sinta membuka matanya perlahan, memegang kepalanya yang terasa sangat pusing dan mendapatkan sebuah alat oksigen sedang berada di mulutnya.


Dengan lemas dia menoleh ke kanan dan kiri, hendak mencari seseorang untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


“S-Sin! Lo udah sadar, akhirnya!!”. Seorang wanita tiba-tiba saja memeluk Sinta dengan sangat kuat.


Sinta merasa tak asing dengan suara itu, itu adalah suara yang dia dengan saat terakhir berhubung telpon dengan seseorang.


“Ca.. apa yang terjadi sama gue? gue kok di sini? ini kenapa gue di pakein ginian?”. Tanya Sinta beruntun dengan nada lemas dan memejamkan matanya, dia tak sanggup membuka matanya karena matanya yang terasa begitu berat untuk di buka.


Ca atau Acha, seorang wanita yang lebih tua dua tahun dari Sinta, wanita ini juga bersekolah di sekolah yang sama dengan sekolah Sinta saat ini, dia kini di tahun terakhir.


Acha dan Sinta kenal karena Acha yang sedang membutuhkan bantuan dan Sinta dengan senang hati memberikan bantuan kepada Acha.


Sejak saat itu mereka sering mengobrol-ngobrol hingga akhirnya bertukar kontak, tapi setelah Sinta berteman dengan Alexa dia menjadi lupa dengan keakraban dirinya bersama Acha dulu.


Acha dan Sinta juga pernah satu SMP dan mereka berteman dengan sangat baik walau kelas mereka yang sangat jauh berbeda.


“Kemaren pas gue Dateng orang tua Lo..” Acha ragu-ragu ingin mengatakannya. “Pas gue buka kamar Lo gue ngeliat Lo pingsan di semen, jadi gue buru-buru bawa Lo ke rumah sakit”. Acha tak mau membuat Sinta sedih, jadi dia hanya memberi tahu apa yang dia lakukan saja.


“Makasih..” Gumam Sinta. ‘Akh.. Alexa! gue belum kabarin dia ’ Tiba-tiba saja dia teringat dengan Alexa. Tapi, Tiba-tiba dia menjadi kaget. “T-Tunggu? kemaren? K-Kemaren?”. Jika itu kemaren berarti dia sudah bolos kelas selama satu hari tanpa izin.


Acha menganggu kan kepalanya pelan.


“Btw.. mama gue di mana?”. Tanya Sinta lagi.


Kali ini Acha terdiam, dia tak menjawab atau membuat isyarat sepatu tadi. Itu membuat Sinta menjadi berfikir negatif.

__ADS_1


“Caa.. mama gue kenapa ca?! ca jawab ca!!”. Refleks Sinta berteriak dan hal itu membuat dadanya menjadi sesak kembali. “Seett...” Desisnya.


“Lo fokus aja sama kesehatan Lo okay, gue bakal urus semua hal tentang mama Lo!”. Acha berusaha ingi tersenyum, tapi tak bisa karena bukan sekarang saat nya untuk tersenyum.


“Ca.. mama gue kenapa ca.. Pliss jawab ca, Lo kan tau gue cuman punya mama gue sekarang.. jawab gue ca..” Sinta kembali memohon agar rasa penasaran nya itu segera bisa di jawab oleh Acha.


“Maaf, tapi Lo jangan kaget pas denger ini..” Gumam Acha. “M-Mama Lo.. sekarang udah jadi bintang”.


“Apa tunggu, gak mungkin, kenapa? gak, pasti Lo bohong kan ca! gak mungkin mama gue ninggalin gue!”. Sinta kaget dan berusaha tak mempercayai perkataan Acha, dia berharap Acha pun hanya berkata bullshit saja sekarang. “Akh!”. Tiba-tiba nafas nya kembali sesak dan tak beraturan, hal itu membuat Acha panik setengah mati.


“Dok! dokter!!”. Acha dengan sigap menekan tombol darurat dan terus berteriak agar segera ada dokter yang datang ke ruang itu.


Acha bergetar, dia kini merasa seharusnya dia tak mengatakan itu kepada Sinta.


“A...Hah..C-Cha.. huff... T-Tolong.. T.. Telpon... k-kan...haahhhh... huff.. A...le..sa...haaahhh...” Nafas Sinta tak bisa di kendalikan lagi, dia langsung pingsan setelah mengatakan itu.


“Sin! Sinta!! Lo jangan gini dong sin!! Sinta! dok buruan dok!!”. Acha berusaha membuat Sinta Bagun dengan cara mengguncang tubuh Sinta, tapi Sinta sama sekali tak respon.


Acha di suruh keluar dan dia langsung menuruti apa yang dokter itu katakan.


Acha berharap Sinta akan baik-baik saja, dia tak mau Sinta kenapa-kenapa.


“Alexa! nomor Alexa!”. Acha mengingat pesan terakhir Sinta sebelum dia pingsan tadi.


Acha membuka handphone Sinta, untung saja ponselnya tidak mengunakan kunci jadi dia bisa membukanya dengan mudah.


Tapi, Acha tak menemukan kontak yang bernama Alexa, dia tak tahu harus apa sekarang.


“Aduhh.. Alexa siapa sih?!”. Gumamnya dengan nada gemetar, begitu juga dengan sekujur tubuhnya yang tak kalah gemetar. “Kenzo! ini temen dia!". Acha langsung menelpon nomor Kenzo dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


[Hallo?] Suara Kenzo terdengar berat, sepertinya dia sedang tidur dan terpaksa bangun untuk mengangkat panggilan.


“H-Hallo.. I-Ini temen sekelas Sinta, iya kan?!”. Tanya Acha gemetar dan berharap Kenzo akan menjawab iya.


Kenzo tentu langsung menjawab iya.


[Ada apa? ini siapa? Lo bukan Sinta ya? Lo siapa?] Tanya Kenzo beruntun.


“Udah itu gak penting sekarang! yang penting tolong bawa Alexa ke rumah sakit Sanjaya! bawa dia ke sini buruan!!”.


Seketika sambungan mati karena ponsel Sinta yang kehabisan baterai.


“Sial! hikss.. sin.. plisss Lo bisa sin hikss..” Acha duduk di kursi tunggu sembari menjambak rambutnya frustasi dan menangis.


“Ada apa?”. Kenzo bingung, tapi dia tetap melakukan apa yang Acha suruh.


Dia datang ke rumah Alexa dan meminta izin kepada orang yang ada di sana untuk membawa Alexa ke rumah sakit.


“Apa? tunggu Sinta kenapa?”. Alexa kaget setengah mati di saat mendengar Kenzo mengatakan menyuruh membawa Alexa ke rumah sakit dan yang menelpon menggunakan nomor Sinta.


“Gue juga kurang tau.. yang pasti Lo di suruh ke sana buruan!".


Di sana hanya ada triple a dan Alexa saja, jadi mereka bertiga pun pergi ke rumah sakit dengan kenzo juga ikut karena dia penasaran.


Mereka langsung segera pergi ke ruang sakit dan Alexa pikirannya kini sudah bercabang pikiran-pikiran negatifnya tentang keadaan Sinta.


“Kakak.. gimana kalau Sinta beneran ninggalin aku.. aku.. aku.. gak mau..” Alexa tak sanggup jika harus membayangkan di tinggal pergi oleh Sinta.


“Udah Lo tenang dulu okay, kita lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi sama Sinta, Lo jangan mikir yang gak, gak dulu.. doain aja semoga sinta baik-baik aja". Ujar Andre sambil memeluk Sinta di bangku penumpang.

__ADS_1


“Iya, mending Lo berdoa aja semoga gak ada apa-apa yang terjadi”. Sahut Andrean sembari fokus dengan kemudinya.


“T-Tapi.. ta-tadi malem Sinta bilang d-dia.. mau hikss.. mau hikss..” Alexa ingin mengatakan mati tapi dia tak sanggup untuk mengatakan hal itu karena itu benar-benar membuat nya seperti tertusuk.


__ADS_2