
Andrean diam melihat Evan yang pergi dari sana, sejujurnya dia juga merasakan bahwa ada aura tak suka dari Evan kepada dirinya.
Andrean memutar matanya, melirik kembali ke arah Alexa dan Andre yang masih tertidur di kursi.
Andrean yang sudah cukup sadar di mana dirinya sekarang, dia melepaskan tangannya yang menggenggam kuat pergelangan tangan Ivan.
“Sorry.. kayaknya tadi gue masih ngigo mangkanya refleks narik-narik Lo dan ngomong gak jelas”. Kata Andrean seraya memegang kepalanya yang masih terasa lumayan pusing.
Ivan tak menjawab dan hanya menatap Andrean dengan ekstrak sayup, tak lama setelahnya gery maju dan berdiri di sebelah ranjang pasien Andrean.
“Bisa geser sebentar? aku mau mengecek keadaan nya”. Ujar Gery dengan nada sopan menyuruh Ivan memundurkan dirinya beserta kursi yang ia duduki.
Ivan mengangguk lalu menarik kursi yang ia gunakan menjauh dan setelahnya duduk Kemabli di kursi itu seraya matanya melihat Andrean yang tengah di periksa oleh Gery.
Sekitar 10 menit akhirnya Andrean selesai di periksa dan Gery kini sudah pergi dari sana karena kebetulan memang seharusnya sudah sejak tadi dirinya pulang dari UKS atau sekolah.
Hanya tersisa Andrean, Ivan, Alexa dan Andre di sana, tapi hanya Andrean dan Ivan yang membuka mata mereka karena Alexa dan Andre masih tertidur.
__ADS_1
“Gak pulang?”. Tanya Andrean dan menatap Ivan yang masih duduk tak jauh dari tempat dia berada saat ini.
Ivan menolehkan kepalanya, melihat lurus ke wajah Andrean hingga membuat Andrean tak nyaman dengan keadaan tersebut.
“Ini mau pulang”. Jawab Ivan agak telat karena terus melihat wajah Andrean hingga tercengang.
Andrean berdeoh kecil menjawab perkataan Ivan barusan.
“Btw.. kenapa bisa Lo demam?”. Tanya Ivan pelan tanpa melihat ke arah lawan bicara dan seraya menggosok pelan belakang lehernya untuk menghilangkan rasa canggung.
“You don't want to tell me?”. Tanya Ivan lagi.
“No.. bukan gitu, but beneran gue it's okay!”. Jawab Andrean setelah terdiam sejenak.
Ivan menatap Andrean tanpa ekspresi, hal itu membuat Andrean menelan ludah kasar karena sebelumnya tak pernah dirinya melihat wajah tanpa ekspresi dari Ivan.
“Gue kena ujan”. Entah mengapa tapi tiba-tiba saja mulut Andrean bergerak dengan sendirinya memberitahu Ivan yang sebenarnya. ‘Sial ’ Batin Andrean memakai dirinya sendiri.
__ADS_1
Andrean melirikkan matanya melihat ke arah Ivan yang masih tak berekspresi menatap dirinya, rasa canggung, tak nyaman dan rasa ingin segera kabur di rasakan oleh Andrean saat ini.
“Oh”. Hanya itu saja yang keluar dari mulut Ivan setelah beberapa saat. “Well, gue mau balik sekarang”. Ucap Ivan dan langsung berdiri dari kursinya.
Andrean yang melihat itu hanya diam saja seraya bingung harus menunjukkan ekspresi apa kepada Ivan saat ini.
“Don't get rained again, Lo bukan anak kecil”. Pesan Ivan dan begitu saja langsung pergi dari sana meninggalkan Andrean.
Entah itu suatu perkataan manis atau mencekam, tapi yang pasti rasa haru dan sesak di rasakan oleh Andrean.
Awalnya Andrean ingin memanggil Alexa dan Andre yang masih tertidur pulas, tapi tiba-tiba dia terkejut di saat melihat sebuah gelang nyangkut di pergelangan jaket miliknya.
“Ini..” Gumam Andrean dan berusaha berfikir positif, punya siapa itu sebenarnya.
Di sisi lain Ivan berjalan dengan santai menyusuri koridor menuju pintu utama gedung sekolah, tapi saat di pertengahan jalan tiba-tiba dia baru sadar bahwa gelang miliknya sudah menghilang dari pergelangan tangannya.
“Apa ketinggalan?”. Gumam Ivan setelah mengecek di saku baju dan celananya sama sekali tak menemukan gelang tersebut. “Ah udah lah, it's okay”. Gumamnya lagi dan kembali melanjutkan jalannya.
__ADS_1