
Setelah beberapa hari ujian, classmate dan bagi rapot, kini akhirnya bagi semua murid libur panjang dan menunggu tanggal masuk sekolah.
Evan mendapatkan nilai yang bagus bahkan sangat, dia mendapatkan juara 1 umum sekolah Of Oak Hill tahun ini.
Evan belum memikirkan rencana liburannya karena dia masih tetap fokus ingin menghilangkan ingatan Alexa tentang Sinta.
Alexa naik kelas juga, tapi dia tak mendapatkan juara tapi itu bukan masalah karena yang penting sudah naik kelas.
Evan kini semakin sering datang ke mansion Domani karena dia yang libur sekolah. Toh, dia belum merencanakan liburan ke mana dan kalau dia gak ke sana mau ke mana lagi dia?
Sementara dalam waktu singkat keliy sudah mendapatkan semua informasi tentang Evan bahkan dia juga sudah tahu kalau Evan berpacaran dengan Alexa.
Keliy juga mencari informasi tentang Alexa dan ternyata Alexa dari anak terpandang juga namun di sana tertera jika status mereka setara.
Namun really nya, kekayaan keluarga Domani hampir sama dengan keluarga Anggara, tidak. Mereka berdua menjadi orang terkaya nomor satu di dunia, tapi karena tidak mungkin satu ada dua jadi keluarga Anggara lah yang menjadi nomor satu karena cabang perusahaan mereka yang sudah berada di seluruh negara.
“Sayang mandi dong.. nanti kalau gak mandi badan kamu jadi bau lohh”. Bujuk Evan sembari menarik-narik selimut yang Alexa gunakan.
Kini sudah jam 11 siang, tapi Alexa masih saja berada di atas kasurnya.
“Gak, gak, gak! Aku gak mau ke kamar mandi!”. Teriak Alexa.
“Itu cuman mimpi sayang, kamu gak mungkin takut karena mimpi 'kan?”. Bujuk Evan lagi.
Tadi pagi baru saja Evan datang dan hendak masuk ke kamar Alexa, tapi dia melihat triple a yang berada di depan pintu kamar Alexa.
Evan langsung bertanya kepada mereka berdua karena mendengar suara Alexa yang menangis.
Tapi mereka juga tidak tahu mengapa Alexa menangis di dalam kamar, Evan yang khawatir tentu saja langsung mendobrak pintu kamar Alexa dan langsung bertanya kepada kekasihnya apa yang terjadi.
Tapi, Alexa mengatakan dia menangis karena dia bermimpi bahwa di kamar mandinya ada sesuatu.
Evan menghela nafas. “Yaudah kalau kamu gak mau mandi setidaknya duduk dong dan makan nih makanan, nanti kamu tambah sakit gimana?”. Ujarnya mengalah.
“Nanti aku makannya”. Gumam Alexa.
Entah bagaimana lagi Evan harus menanganinya.
Sudah selama setengah tahun dia membantu Alexa agar dia mau keluar rumah atau setidaknya kamar, tapi usahanya belum membawa hasil sedikitpun.
__ADS_1
Walau tak membawa hasil sedikitpun, tapi dia tetap senang karena Alexa masih selalu menunjukkan senyum nya itu kepada Evan dan hal itu berhasil membuat Evan tidak menyerah di tengah jalan. Toh, sekarang mereka juga kan sudah pacaran.
Evan duduk di pinggir kasur Alexa, mengelus punggung Alexa karena dia tidur membelakangi Evan.
“Kamu gak mau sekolah tahu depan?”. Tanya Evan lembut.
Alexa tak menjawab, sedari kemaren dia juga memikirkan hal itu. Dia sangat ingin pergi ke sekolah, tapi entah mengapa dia malas bertemu dengan orang-orang yang ada di luar sana.
“Kamu gak mau?”. Tanya Evan lagi.
“Bukan gitu..” Gumam Alexa dan Evan pun langsung melihatnya penuh tanya. “Aku...” Ucapan Alexa berhenti, Tiba-tiba dia memegang perutnya karena itu terasa sakit. “A-Aduhh.. Sett..” Alexa meremas perutnya karena itu terasa seperti melilit.
Evan langsung menyadari hal itu. “Kenapa? ada yang sakit? ada apa?”. Tanya Evan beruntun.
“Aduh.. a-aku juga gak tau kenapa.. Sett.. rasanya aduhh.. sakit banget..” Jawab Alexa dan terus membuat ekspresi wajah kesakitan.
Evan langsung panik, dia langsung mengangkat Alexa dan pergi keluar dari kamar itu.
“Eh, kenapa Van?”. Tanya Andrean yang tak sengaja lewat dan melihat Evan yang mengendong Alexa ala bridal style menuju pintu utama dengan tergesa-gesa.
“Gak tau, Lexa katanya sakit perut”. jawab Evan cepat dan dengan cepat juga dia langsung pergi meninggalkan Andrean tanpa menunggu jawaban darinya.
Andrean langsung ikut berlari keluar setelah mengambil kunci mobilnya.
“Mau kemana Lo?”. Tanya Andre yang tak sengaja melihat Andrean tergesah-gesah.
“Gue mau ke rumah sakit, Lo mau ikut kagak?”.
“Hah? siapa yang sakit?”. Andre penasaran.
“Si Lexa, udah buruan!”. Jawab Andrean dan kembali berlari secepat mungkin agar tak ketinggalan dengan langkah Evan.
Andre yang penasaran tentu saja langsung mengikuti Andrean yang berlari.
...***...
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Evan langsung berteriak meminta kasur dorong agar Alexa bisa naik di sana dengan nyaman.
__ADS_1
Tapi tentu saja Alexa masih merasakan sakit perut yang luar biasa walau sudah di dorong mengunakan kasur.
Alexa langsung di bawa masuk ke ruang gawat darurat sementara Evan dan triple a di suruh menunggu di luar ruangan.
Mereka bertiga duduk di kursi tunggu sembari memasang wajah khawatir.
“Lo kasih makan apa sih dia? kenapa cobak bisa sampai begitu?!”. Tanya Andrean yang tak bisa berfikir apa yang sebenarnya terjadi kepada Alexa.
“Mana gue tau, dia juga belum makan apa-apa kok tadi pagi”. Jawab Evan pelan sembari mengingat betul-betul apa saja yang Evan berikan kepada Alexa, tapi dia hanya memberikan Alexa makan makanan yang di berikan oleh maid rumah Domani.
Setelah beberapa saat akhirnya dokter keluar dari ruangan gawat darurat tempat Alexa, triple a dan Evan pun tentu langsung berlari ke arah dokter itu.
“Dok, dok, dok. Gimana dong?”. Tanya Andre penasaran dan menatap dokter itu penuh selidik.
“Dia..” Dokter itu ingin menjawab, tapi terlihat wajahnya ragu-ragu untuk menjawab itu. Dan tentu hal itu membuat mereka bertiga semakin penasaran dan was-was.
“Dok ada apa dok?? jangan nanggung-nanggung dong kalau ngasih tau”. Ujar Evan yang sudah sangat penasaran dengan keadaan Alexa.
Tentu saja dia penasaran, baru kali ini dia melihat Alexa yang kesakitan seperti itu.
“Dia sakit.. tidak dia tidak sakit”. Ucap dokter itu membuat mereka bingung dan semakin penasaran. “Dia.. dia.. akh, aku juga gak tau dia kenapa!”. Dokter itu memegang pundak Evan dan mengguncang nya membuat Evan semakin bingungin, sangat bingung.
“Maksud nya apa yah dok?”. Tanya Andrean.
“Sudah selama 13 tahun aku menjadi dokter di sini, tapi aku tak tahu apa penyakit yang Anka itu derita, bahkan aku di paksa keluar oleh para suster”. Dokter itu memegang kepalanya dan membuat ekspresi sedih.
“Hah? emang kenapa dia?”. Evan semakin bingung dengan ocehan tak jelas dari dokter itu.
Ceklek..
Seorang suster keluar dari dalam.
“Keluarga Alexa?”. Tanya suster tersebut.
Mereka bertiga menganggukan kepala masing-masing.
“Nah bagus, ada yang bisa tolong belikan ini?”. Tanya suster itu lalu menyodorkan ponselnya memberi tahu kepada mereka bertiga apa yang harus di beli.
Mereka bertiga terkejut di saat melihat itu, karena tak ada bahkan tak mungkin pria akan membeli barang itu.
__ADS_1