
Beberapa obrolan di bicarakan oleh Andre dan Andrean, mereka juga membicarakan tentang masal lalu.
Tapi, tiba-tiba saja pintu kamar mereka terdengar di buka oleh seseorang.
Andre dan Andrean yang mendengar itu langsung melihat ke arah pintu.
“Kebiasaan kalian berdua nih gini, gak bisa liat dulu pintu udah di kunci atau belum”. Oceh Megan yang baru melangkah satu langkah memasuki kamar kedua putranya.
Andre hanya bisa cengir-cengir saja karena dia lah orang yang salah di sana.
Megan melihat wajah Andrean yang tak bersemangat, biasanya memang seperti itu tapi kalau ini insting Megan lain.
“Rean? why you?”. Tanya Megan dengan tatapan penuh selidik melihat putranya itu.
Andrean melihat ke arah ibunya. “Gak ada, bunda gak perlu khawatir”. Jawab Andrean lalu kembali memakan camilan nya.
Megan mengangkat sebelah alisnya, dia meragukan jawaban dari Andrean.
“Kenapa Kakak kamu?”. Tanya Megan kepada Andre yang jaraknya tak jauh dari dirinya.
“Eumm.. gimana yah bund.. susah juga jelasin nya karena memang ruwet keadaanya”. Jawab Andre sembari mengelus belakang lehernya dan tak berani melihat ke arah Megan ataupun Andrean.
Hal itu tentu membuat Megan semakin penasaran, dia kini duduk di sebelah Andrean lalu menatap Andrean penuh selidik.
“Ada apa sayang?”. Tanya Megan lembut kepada Andrean, Megan mengelus pundak Andrean perlahan.
“Gak ada Bun.. beneran deh”. Jawab Andrean.
Tapi Megan yang seorang ibu dan dia selalu memiliki insting yang selalu benar, itu membuatnya sangat ragu dengan jawaban Andrean, apa lagi di saat melihat ekspresi galau Andrean saat ini.
“Kamu.. abis putus cinta yah?”. Tanya Megan menebak-nebak.
Akibat perkataan Megan kini Andre tertawa terbahak-bahak di ruangan itu, dia tak bisa menahan tawanya.
“Udha itu gak penting, sekarang ada yang lebih penting”. Ucap Andrean tiba-tiba dan hal itu membuat Megan plus Andre melihat ke arahnya.
“Kenapa?”. Tanya Megan penasaran.
“Bunda udah pernah ketemu sama Evan 'kan?”. Tanya Andrean memastikan terlebih dahulu.
Megan pernah melihat Evan jadi tentu saja dia menganggukkan kepalanya pelan dan membuat ras penasaran yang semakin membara-bara di dalam dirinya.
“Nah! jadi Bun Evan tuh sebenernya dari keluarga Anggara!”. Ucap Andrean.
__ADS_1
“Hah? tunggu, Anggara.. Anggara yang mana?”. Tanya Megan dengan ekspresi bingungnya.
“Gak tau, nama kepala keluarganya aku lupa, tapi Evan tuh adiknya Ivan Anggara”. Jawab Andrean.
“Hah?! Ivan! kamu serius?!”. Tanya Megan, dia hampir tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Andrean.
Andrean mengangguk pelan kepalanya.
“Ada yang lebih waw lagi bun dari pada itu”. Tiba-tiba Andre menyahut perkataan mereka berdua, Andrean dan Megan langsung melihat ke arahnya.
‘Perasaan gue gak enak nih ’ Batin Andrean setelah menelan ludahnya kasar.
“Jadi Bun, ternyata si Ivan tuh ma-”.
Ucapan Andre terhenti di saat tiba-tiba saja Andrean langsung membungkam mulutnya, hal itu membuat Megan semakin bingung dengan kedua anak kembar nya.
“Ma... apa?”. Tanya Megan.
“Udah Bun, bunda tidur aja sana, kami juga udah ngantuk”. Ucap Andrean sembari tersenyum paksa.
“Kamu ngusir?”.
“Enggak lah, mana mungkin, tapi aku bener-bener udah ngantuk”. Jawab Andrean.
Andre menggigit tangan Andrean hingga membuat Andrean meringis kesakitan, dia langsung melepas lengannya dari mulut Andre.
Andrean tak mengatakan apa-apa, dia mengelap tangannya kasar karena air liur Andre yang ada di tangannya.
“Yaudah deh terserah kalian, bunda memang juga udah ngantuk sih”. Ucap Megan.
Megan langsung berdiri dari kursinya dan pergi begitu saja menuju pintu keluar kamar, dia keluar dan langsung menutup pintu.
Andre berlari ke arah pintu, dia langsung mengunci pintu kamar itu rapat-rapat.
“Gila Lo ya mau bilang begitu sama bunda! Lo kembaran gue atau musuh dalem selimut sih?!”. Protes Andrean di saat dia sudah menutup pintu balkon dan duduk di pinggir kasurnya.
“Lah ngapa, ya 'kan siapa tau bunda bisa bantu kita”. Jawab Andre. “Btw, bunda bakal misahin Alexa dari Evan gak yah..” Gumam Andre sembari memikirkan kemungkinan apa yang akan Megan lakukan untuk memudahkan Alexa dan Evan nantinya.
“Gak tau, tapi bisa jadi karena bunda juga gak suka sama keluarga Anggara”. Jawab Andrean lalu merebahkan dirinya di atas kasur.
Walau mereka satu kamar, tapi di kamar itu ada double bad jadi mereka berdua tak perlu kongsi kasur, hanya kongsi kamar saja.
...***...
__ADS_1
Hari-hari begitu cepat berlalu, kini tinggal 1 minggu lagi masa liburan.
Alexa memutuskan untuk masuk sekolah nanti, dia ingin bertemu dengan Evan karena sekarang mereka sudah tak pernah bertemu lagi semenjak kejadian di rumah sakit.
Tookk..Tookkkkk....Tookkkkk..
Pintu kamar Alexa di ketuk beberapa kali, orang yang mengetuk pintu itu memanggil nama Alexa, tapi Alexa merasa tak asing dengan suara orang itu.
Ceklek..
Pintu kamar Alexa terbuka, benar saja, orang yang dia kenal kini sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
“Aaaaaaaa mama!”. Teriak Alexa lalu langsung memeluk orang yang berdiri di depan pintu.
Orang itu membalas pelukan dari Alexa dan mengelus lembut kepala Alexa.
“Cieee.. mama nya dateng bunda di lupain nih yeee”. Ucap Megan yang melangkah mendekati mereka berdua.
Alexa hanya tersenyum saja dan masih memeluk orang yang dia panggil mama.
Maudy, Maudy bukan ibu Alexa, tapi dia adalah mama angkat Alexa.
Maudy sudah bertahun-tahun berada di luar negri dan sekarang dia baru bisa pulang.
Maudy bukan bagian dari keluarga Domani, tapi bisa jadi dia juga bagian dari keluarga Domani.
Maudy hanya anak angkat keluarga Domani, dia adalah adik angkat Bryan.
Kini Maudy, Megan dan Alexa berada di ruang tamu, mereka mengobrol beberapa obrolan, tapi seperti biasa Alexa hanya bisa menyimak saja dengan topik kedua wanita modis itu.
“Btw, boleh gak kalau aku ajak Alexa tinggal di apartemen ku? aku merasa kesepian kalau setiap hari harus sendiri”. Ucap Maudy Tiba-tiba.
Alexa langsung melihat ke arahnya antusias. “Iya, iya! aku mau ikut sama mama! boleh 'kan Bun plisss..” Sahut Alexa.
Kenapa Alexa bersemangat?
Mungkin ini adalah kesempatan untuk dia bisa bertemu dengan Evan tanpa khawatir bunda, triple a atau ayahnya tahu.
“Tanya ayah”. Jawab Megan singkat.
“Yahhh Bun... kok gitu sih?! aku mau ikut sama mama titik!”.
“Trus kalau ayah kamu nyariin dan marah sama bunda gimana? trus kalau misalkan mama kamu jadi sasaran amarah gimana? 'kan kasian”. Ucap Megan menerangkan.
__ADS_1
Benar, Alexa harus meminta izin kepada ayahnya dulu, ayahnya sama sekali tidak pernah membiarkan Alexa pergi dari rumah bahkan hanya beberapa jam saja, kecuali sedang sekolah.
Dan sekarang dia mau pergi tinggal di apartemen Maudy, mungkin itu bisa sampai 1, 2, atau mungkin 3 bulan.