
Setelah beberapa saat Bian menunggu Alexa menangis akhirnya kini gadis itu kembali tenang dan tertidur di dalam pelukan Bian.
Sekertaris Bian datang ke sana karena Bian yang menelponnya tadi, Bian tanpa ragu langsung menyuruh sekertarisnya untuk membawa dua pria c4bul itu ke kantor polisi.
Bian kini mengendong Alexa ala bridal style keluar dari sekolah.
Lampu sekolah langsung di matikan oleh sekertarisnya Bian setelah mereka keluar dari sana.
“Hikss.. hikss..” Alexa masih sesenggukan sesekali padahal dia sedang tertidur dan memejamkan matanya.
Bian merasa benar-benar kasihan dengan keadaan Alexa, dia sudah punya tebakan bahwa ini semua pasti adalah rencana orang yang tak suka dengan Alexa.
Bian membawa Alexa ke rumah sakit untuk mengobati luka Alexa dan mengobati alergi Alexa.
Bian tahu jika Alexa seperti itu karena alergi.
“Masih ada yang kurang nyaman?”. Tanya dokter itu kepada Alexa yang tengah duduk bersandar di kasur pasien.
Alexa menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kepada dokter itu. “Gak ada, makasih dok”. Jawab Alexa lalu mengucapkan terima kasih nya untuk dokter yang sudah mengobati dirinya.
Dokter itu membalas senyuman Alexa lalu pergi dari sana setelah berpamitan.
Setelah dokter keluar Alexa menatap Bian yang juga menatapnya dari sofa yang jaraknya tak jauh.
“Kakak gak sibuk?”. Tanya Alexa karena setahunya Bian adalah orang yang sibuk.
“Sibuk sih”. Jawab Bian.
“Btw, kok jadi kak Bian sih yang dateng? kan aku bilang kabarin sama kak Andre atau Andrean tadi, tuh lagian kakak lagi sibuk”. Oceh Alexa.
Bian hanya tersenyum kecil lalu mendekati Alexa, dia mengelus kepala Alexa pelan.
“Kamu lupa ya? kan aku cuman punya nomor kamu”. Ucap Bian sambil tersenyum.
Alexa akhirnya baru tersadar akan hal itu, dia mendapatkan nomor Bian karena Alexa yang memintanya saat itu tanpa sepengetahuan keluarga Domani.
“Anyway.. kenapa kakak bisa sampai sini? bukannya repot banget yah?”. Tanya Alexa sembari menyeka tangan Bian yang ada di atas kepalanya.
__ADS_1
“Hmm.. kan mau menyelamatkan kamu, aku nih pahlawan kamu loh, masa lupa sih”. Jawab Bian dengan nada candaan, tapi kata-katanya bukan sebuah candaan.
Bian tinggal di kota tetangga dan sekarang dia datang ke sini hanya untuk menyelamatkan Alexa? dia benar-benar pahlawan tak terduga.
Pria itu datang ke sana mengunakan jet pribadinya agar cepat sampai karena jarak kota mereka benar-benar berpecah jauh.
Alexa kenal dengan Bian setelah dia dan Kenzo berpisah beberapa tahu lalu.
Alexa hanya diam saja lalu kembali menatap tangan dan kakinya yang di penuhi dengan bekas-bekas kukunya.
“Kak, Udha boleh pulang belom?”. Tanya Alexa, dia terus khawatir jika nantinya semua orang sibuk mencari dirinya.
“Hmm.. kayaknya sih udah, tinggal ngambil obat salep nya aja di resepsionis nanti”. Jawab Bian.
Alexa berdeoh lalu tersenyum ke arah Bian. “Kak~ anterin aku pulang ya, yah”. Pinta Alexa dengan wajah memelas nya.
Bian tentu menganggukan kepalanya sembari menjawab ya, tapi tiba-tiba saja ponselnya berdering karena ada seseorang yang menelponnya.
Bian melihat nama kontak lelah mengangkat ponsel nya dan berbicara.
“Ya? ada apa?”. Tanya Bian.
Bian tersenyum kecil lalu menjawab pertanyaan wanita itu. “Kamu tenang aja, bentar lagi aku pulang kok”. Jawab Bian.
[Tapi kamu ke mana? jangan buat khawatir ih]
“Aku ada di luar kota sekarang, kamu tunggu aku pulang okay?”. Ucap Bian.
Wanita itu terdengar menghela nafas panjang. “Okay gak nih?” Tanya Bian lagi.
[Okay, wel aku tunggu, tapi janji bakal ceritain semuanya yah] jawab wanita itu.
Bian kembali tersenyum lagi, tapi kali ini senyumnya semakin lebar. “Okay, sampai ketemu nanti sayang”. Ucap Bian lalu sambungan mereka terputus.
Itu adalah istri Bian, istrinya mungkin mendapat kabar dari temanya yang bekerja di perusahaan Bian.
Kenapa Bian menolong Alexa? itu karena janji mereka, Bian akan selalu melindungi Alexa seperti adiknya sendiri untuk selamanya.
__ADS_1
Istri Bian tahu tentang Alexa? yah, dia tahu. Bian menceritakan semua yang terjadi di masa mudanya kepada istrinya karena istrinya yang bertanya.
Setelah beberapa saat kini akhirnya Alexa dan Bian sudah berada di dalam mobil, mereka langsung pergi dari rumah sakit menuju ke tempat yang Alexa tunjukkan kepada Bian.
Itu adalah apartemen Maudy.
“Maaf aku buru-buru dan harus pergi sekarang”. Pamit Bian setelah mereka sampai di depan gedung apartemen dan setelah Alexa turun dari mobilnya.
Alexa tersenyum ke arah Bian. “Makasih yah kak, nanti kapan-kapan aku bales deh”. Ucap Alexa.
Bian tersenyum tipis. “Udah, udah.. mending buruan masuk sana, ini udah malem”. Ujar Bian.
Alexa hanya mengangguk kecil dan memutar badannya, dia langsung berjalan memasuki gedung apartemen sementara Bian langsung pergi dari sana.
Alexa kini berada di depan pintu apartemen Maudy, dia memanggil maudy dengan di iringi sembari menekan tombol bel.
Tak lama setelahnya pintu apartemen terbuka dan terlihat Maudy yang berdiri sembari memegang telpon.
Maudy menatap Alexa sayup seperti manusia tanpa jiwa, setelah itu dia langsung menyuruh Alexa masuk dan langsung menutup pintu apartemen.
Alexa hendak berjalan ke kamarnya untuk mandi.
“Duduk dulu di sofa”. Ucap Maudy dan Alexa hanya diam saja tapi mengikuti perkataan Maudy, dia kini punya firasat jika Maudy akan menginterogasinya habis-habisan.
Alexa duduk di sofa dan Maudy juga duduk di sofa yang bersebrangan dengan Alexa.
“Dari mana? kenapa malam gini baru pulang? kamu gak tau mama tuh khawatir banget sama kamu”. Ucap Maudy dengan nada lemas, Maudy melihat ke arah tubuh Alexa yang di penuhi dengan luka cakar. “Itu, kenapa tangan sama kaki kamu gitu? trus sampai leher lagi itu”. Tanya Maudy.
“Tadi gak sengaja di senggol kucing, mangkanya jadi begini”. Jawab Alexa.
Maudy menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban Alexa, entah kenapa tapi Maudy terlihat sangat lemas dan di bawah kelopak matanya terlihat membengkak.
“Mama.. ada apa? mama mau bilang sesuatu? ada apa?”. Tanya Alexa, dia mempunyai firasat jika Maudy ingin mengatakan sesuatu kepadanya tapi Maudy ragu untuk mengatakan hal itu. “Ada apa mah?”. Tanya Alexa lagi.
Tak biasanya Maudy seperti ini, apa terjadi sesuatu yang mengerikan hingga membuat Maudy seperti ini?
“Lexa, kamu harus kuat mendengar ini”. Ucap Maudy dengan nada gemetar dan menggenggam ponselnya kuat, Alexa mengangguk lalu menatapnya bingung dan penasaran. “B-Bunda.. kamu Megan dia.. dia.. dia kecelakaan”. Ucap Maudy lirih dengan nada ragu.
__ADS_1
Seketika Alexa kaget seperti petir yang menyambar di dirinya.