
Evan tak bisa mengejar Alexa, karena tak bisa menemukanya dia langsung pergi ke tempat ruang pengumuman dan cctv.
Dia juga langsung mengabari hal ini kepada Andre dan Andrean setelah dia tak sengaja berpapasan dengan mereka berdua.
Kini Evan dan triple a berada di ruang cctv untuk melihat di mana keberadaan Alexa sekarang dan sekalian mengabari dari loudspeaker menyebutkan ciri-ciri Alexa untuk siapa saja yang melihat Alexa langsung membawa Alexa ke ruang cctv agar mereka semakin cepat bisa menemukan Alexa.
Setelah melihat seluruh cctv ternyata Alexa berada di satu ruangan yang sepetinya itu ruang UGD.
Entah bagiamana tapi Alexa bisa masuk ke dalam sana dan dia malah mendekat dengan seseorang yang sedang terbaring dengan begitu banyak selang di sekelilingnya.
Evan memperhatikan di mana ruangan itu dan akhirnya tak butuh waktu lama dia tahu ruang itu berada di mana.
“Gawat!!”. Teriak Evan dan langsung berlari keluar dari ruang cctv meninggalkan triple a beserta security yang ada di sana.
Triple a juga mengikuti Evan yang berlari karena mereka penasaran.
Tak butuh waktu lama Evan dan triple a sampai di sana karena mereka yang berlari secepat mungkin.
Di sana sudah ada beberapa dokter dan suster yang berusaha menarik Alexa agar keluar dari sana dan menjauh dari orang yang sedang kritis itu.
“Lexa!”. Ketiga bujangan itu langsung berlari ke arah Lexa setelah berteriak kaget.
“Siapa kalian?”. Seseorang menggalang jalan mereka, dia adalah dokter.
“Minggir!”. Evan tak memperdulikan dokter itu dan langsung menerobos begitu saja, akibat itu triple a juga sama menerobos saja.
Evan langsung mendekat Alexa dan berusaha menarik Alexa yang terus-menerus mengguncang tubuh orang yang sedang kritis itu.
“Sin! bangun sin! Sinta!!”. Alexa terus berteriak seperti itu dan berusaha membangunkan orang yang sedang tertidur itu.
Alexa mengira jika orang itu adalah Sinta. demi apapun, wajah mereka memang terlihat hampir mirip. Hanya saja, dia laki-laki dan Sinta perempuan.
“Sa! dia bukan Sinta! kamu tenang dulu, liat mukanya baik-baik okay, dia bukan Sinta!”. Evan tak mau menyerah untuk menarik Alexa yang terus saja berontak padahal Evan dan triple a sudah berusaha keras menariknya.
“Sa, dia orang sa! dia bukan Sinta!”. Ucap Andre.
__ADS_1
Alexa menyentak tangannya dan hal itu membuat Evan dan triple a kaget sekaligus melepaskan lengan mereka dari tangan Alexa.
“Dia Sinta! dia Sinta!!”. Teriak Alexa yang matanya sudah berkaca-kaca. “Sin bangun sin! Sinta!!”. Dia kembali mengguncang tubuh orang itu.
Evan tak bisa membiarkan itu terjadi, dan dia terpaksa harus menarik paksa Alexa dari pria itu.
“Lepas Van! aku mau sama sinta! lepas Van!!!”. Teriak Alexa dan berusaha memukul tubuh Evan yang sedang memeluknya erat agar dia tak bisa kemana-mana.
Beberapa dokter masuk ke sana karena penasaran mengapa ruangan itu begitu berisik.
“Ada apa ini?”. Tanya dokter itu lalu melihat ke arah Alexa yang masih terus berontak dan teriak.
“Lepas!!”.
“Lexa! dia bukan Sinta, dia Ivan!”. Evan menaikkan suaranya agar Alexa bisa mengerti dengan apa yang dia katakan, tapi Alexa tak mau mengerti dan terus berkata jika itu adalah Sinta.
‘Ivan? ’ Andrean merasa seperti pernah mendengar nama itu, tapi itu mungkin orang lain karena tidak mungkin orang itu ada di sini.
“Lepa-”. Tiba-tiba suara Alexa terhenti di saat melihat ada pergerakkan di kasur pasien tersebut. “Sinta!". Alexa berusaha melepas Evan yang memeluknya dan hendak berlari ke arah orang itu, tapi tak bisa.
“Lepas!! Sinta bangun!!”. Teriak Alexa.
“Bising...” Tiba-tiba terdengar suara lirih dari orang tersebut, hal itu membuat seisi ruangan menjadi shock terutama Evan.
‘Gak, cuman halusinasi 'kan? ’ Evan tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Tapi kini dia percaya karena orang itu mengangkat tangannya dan memegang kepalanya perlahan dengan gerakkan lemas.
“Ughh..” Gumamnya lagi sembari mengeryitkan alisnya.
“Sinta!”. Karena Evan yang tercengang, Alexa akhirnya bisa lepas dan berlari ke orang yang Evan panggil Ivan itu.
Alexa Langsung memeluk orang itu tampa ragu-ragu, dia memeluk Ivan dengan sangat erat.
“Sinta hikss.. akhirnya kamu hikss.. bangun”. Air mata Sinta mengalir di saat dia memeluk Ivan.
__ADS_1
Ivan membuka matanya perlahan, melihat alexa yang ada di depan wajahnya dengan air mata yang terus saja mengalir melewati pipinya bahkan kini air mata Alexa jatuh ke badan Ivan.
Ivan merasa bingung, dia kini melihat sekelilingnya dan tampak ada begitu banyak orang di sekitarnya.
“Ughh.. kenapa rame?”. Lirih Ivan. “Siapa Lo?”. Tanya Ivan kepada Alexa.
“Huaaahhhhhh hikss.. Sinta ini aku hikss..” Alexa semakin menjadi-jadi nangis nya dan kembali memeluk tubuh Ivan semakin erat.
“Sinta..?” Ivan tak tahu siapa itu Sinta, tapi dia tahu satu hal. Sinta lagi sangat dekat dengan orang yang sedang memeluknya itu.
“Ee.. a...” Evan baru mengeluarkan suara, tapi dia bingung harus berkata apa karena dia berada benar-benar shock.
Ivan mendengar suara Evan, dia kandung melihat ke arah Evan yang berada tak jauh dari ranjangnya.
“Evan?”. Ivan terkejut di saat melihat Evan yang menangis.
‘S-Sadar? ini serius? dia sadar? ’ Evan masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Ivan siapa?
Ivan, dia adalah Ivan Anggara. Dia kakak kandung Evan yang sudah lama kritis di ruang UGD tersebut.
Tapi, kenapa tiba-tiba dia bisa bangun? apa tuhan sudah mendatangkan berkah kepada keluarga Anggara? apa tuhan sudah menerima semua doa yang Evan selama ini kirim?
Entah lah, tapi yang pasti kini Evan benar-benar senang, tidak. Rasa yang ada di dalam dirinya campur aduk.
Kekasih nya kini salah mengira siapa itu Ivan, dan dia tak mau kekasihnya terus mengira Ivan adalah Sinta.
Tapi kini giliran Ivan yang terkejut, dia terkejut di saat melirik ke arah Andrean yang berada di dekat pintu keluar.
Walau jaraknya lumayan jauh, tapi Ivan benar-benar bisa melihat siapa itu dan dia bahkan masih ingat wajah Andrean dengan jelas.
“A-Andrean.. Lo..” Ivan tak tahu harus mengatakan apa karena melihat wajah yang selama ini sudah tak pernah dia lihat akhirnya dia bisa melihat wajah itu lagi, tapi tentu dia juga senang di saat melihat wajah Evan.
Andrean tercengang mendengar suara Ivan yang memanggil namanya, entah mengapa tiba-tiba air matanya mengalir melewati pipinya begitu saja.
__ADS_1
“Rean?! Lo kenapa?!”. Andre menyadari hal itu dan langsung memandang Andrean yang sedang menangis tersedu-sedu.
Andrean tak sanggup mengeluarkan suara, dia mengusap air matanya kasar dan keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka semua.