
°°°~Happy Reading~°°°
"Ashshamikum shemua na. Mollin kambekkk, ahahaha... ."
*kambekkk : kembali
Setelah melarikan diri bersama dengan sang granny, akhirnya gadis kecil itu kembali juga. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena lemotnya otak kecil miliknya, membuat mama Elena langsung menyeret tubuh kecilnya pergi meninggalkan kekacauan yang dibuat sendiri oleh mama Elena. Pergi keluar membeli banyak es krim kesukaannya, kini wajahnya tampak berseri indah.
"Bisa-bisanya mama kabur setelah membuat aku dalam masalah tadi?" Perempuan itu menatap sang mama penuh tak percaya. "Steevy ngambek." Cebiknya.
"Jangan gitu dong cantik. Maafin mama ya. Tadi Maurin kebelet pipis." Seru Mama Elena penuh alasan, membuat sang terdakwa sontak ambil suara.
"Eundak glanny. Mollin eundak bellet pipish kok. Glanny dangan tuduh-tuduh. Tadi glanny ajak Mollin peullgi beulli ekim. Mollin eundak beullbohong kok... ."
Membuat mama Elena sontak menghela nafas dalam. Maurin benar-benar tidak bisa diandalkan. Padahal tadi mereka sudah sepakat jika alasan mereka keluar tidak lain karena Maurin ingin membuang air kecil dengan imbalan eskrim sebagai sogokannya. Tapi sekarang, gadis kecil itu malah berkhianat dengan seenak jidatnya.
"Mama jahat. Steevy balik aja lagi ke Paris sekalian." Sungut Stephanie berapi-api.
__ADS_1
"Jangan gitu dong sayang. Cantiknya mama kok ngambek. Ini, mama belikan banyak es krim buat kamu, heummm... ."
"Steevy bukan anak kecil lagi, mam..." Gerutu Stephanie. Gadis itu benar-benar kesal dengan kelakuan sang mama yang terkadang diluar ekspektasi.
"Onty eundak shuka ekim? Inni ennak sheukalli onty. Onty hallush tullay. Hallush poko na. Kallau eundak, nanti onty sheshall-sheshall loh... ."
*tullay : try / mencoba
"Inni ekim tokullat ennak sheukalli, onty. Shuka Mollin..." Tambah Maurin sembari menyodorkan es krim yang ia rekomendasi.
"Beunnal kan Mollin shuppik-shuppik na, onty? Ekim tokullat itu lunjat sheukalli... ."
"Iya, ini enak." Timpal Stephanie. Perempuan itu kemudian beralih menatap pada Ana yang kini duduk di samping sang suami. Rupanya Marcus memilih ikut bergabung dengan keluarganya di banding melanjutkan pekerjaannya. Ia masih lemas efek mual tadi. Apalagi dengan kekacauan yang dibuat sang adik.
"Mba Ana. By the way, ini Maurin kok bicaranya jadi agak aneh. Perasaan dulu Steevy masih bisa memahaminya. Sekarang Steevy harus agak mikir buat mencernanya. Apa Steevy yang agak lemot?"
"Iya, sebenarnya mba juga terkadang tidak terlalu paham. Semenjak dia sekolah, Maurin kerap memakai bahasa inggris. Tapi karena masih belum fasih berbicara, ya jadinya begitu. Susah dicerna. Tapi ya sepintar-pintarnya kita aja bagaimana menjawabnya." Seru Ana menimpali.
__ADS_1
"Kok bisa begitu ya mba... Sekolahnya harus di tuntut itu mba. Ngajarin yang ngga bener sama muridnya." Protes Stephanie.
"Bukan sekolahnya yang harus di tuntut Steevy, tapi Arshi." Timpal Mama Elena, membuat Stephanie sontak mengernyit bingung.
"Kok jadi bawa-bawa Arshi sih mam? Apa hubungannya?"
"Iya, karena dia yang ngajarin bahasa planet itu ke Maurin, jadi Maurin sekarang agak lain bicaranya. Gadis itu benar-benar pembawa virus. Suka banget nyebar-nyebar ajaran sesat. Untung sesatnya membawa berkah, ahahaha." Gelak mama Elena, mengerti akan perihal adek bayi yang diminta Maurin pada kedua orangtuanya.
"Mollin? Mollin keunnapa glanny? Keunnapa glanny tawa-tawa?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1