Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Genius


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Ini ruangan daddy, twins." Seru Marcus sesampainya di ruang kerja miliknya. Ruangan megah dengan rak-rak besar di sisi kiri dan kanan, juga jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota berhasil membius kedua pasang mata sepasang kembaran itu.


"Woahhh, daddy. Beushall sheukalli. Bisha main keudall-keudall shini, hihihi... ."


"Kalian bermainlah sesuka kalian. Tapi syaratnya, harus berhati-hati, mengerti twins?" Peringat Marcus, khawatir akan sang putri yang selalu ceroboh dan tak berhati-hati.


Tak lama, terlihat bawahan Marcus memasuki ruangan membawakan mainan-mainan milik si kecil Maurin yang dibawa langsung dari rumah agar putri kecilnya itu tak bosan berada disini. Sedang Mallfin, jangan khawatir. disini bahkan banyak mainan untuknya. Buku-buku yang berjejer di rak itu bahkan berhasil membuat wajah itu berbinar, tak sabar menghampirinya.


"Apa Mallfin boleh membaca buku-buku itu, daddy?"


"Ouhhh... Of course, boy. Kamu boleh melihatnya sepuas yang kamu inginkan." Tangannya mengulur membelai kepala sang putra, sedikit banyak Marcus kini tau, sang putra gemar sekali membaca.


"Apa aku hanya boleh melihatnya, tidak boleh membacanya?" Tanya Mallfin dengan polosnya.


"Eummm, ya. Kamu boleh membacanya. Tapi, mungkin itu akan sedikit sulit untuk kamu mengerti, boy."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Semua buku itu hanya diperuntukkan untuk orang dewasa, boy. Kamu mungkin belum cukup umur untuk mengerti apa isinya. Lain kali akan daddy belikan banyak buku yang sesuai dengan usiamu."


Bocah laki-laki itu terlihat menimbang. "Apa buku-buku itu sama seperti buku yang ada di ruang kerja daddy di rumah?"


Angguk Marcus. "Ya. Semuanya tentang bisnis."


"Kalau begitu Mallfin pasti bisa mengerti daddy. Buku yang Mallfin pinjam kemarin, Mallfin menyukainya. Buku itu berbeda dengan buku yang dibelikan mommy yang hanya berisi dongeng anak-anak. Itu sangat membosankan."


Marcus mengernyit, jujur ia ragu akan pengakuan sang putra kali ini. "Benarkah? Kalau daddy boleh tau, apa yang kamu dapatkan dari buku yang kemarin kamu baca."


"Eummm, Mallfin tidak mengingat semuanya. Mallfin hanya ingat jika kita harus bisa mengambil resiko jika ingin mendapatkan sesuatu yang baik."


Dahi itu mengernyit. "Coba jelaskan pada daddy, apa maksud kalimat itu, boy."


Membuat Marcus seketika itu ternganga. Apa putranya sosok yang jenius? Bahkan buku yang kemarin di pinjam oleh sang putra, ia pikir sang putra hanya akan melihat-lihat isinya, bukan untuk membacanya. Namun, di luar dugaan, bocah laki-laki itu membacanya, bahkan mengerti sebagian kecil isinya.


"Eummm, tapi buku kemarin memang sangat sulit, daddy. Mallfin harus membacanya berulang-ulang untuk bisa mengerti maksudnya."


Marcus mengangguk-angguk. Sudah seperti ini pun, ia sudah sangat bangga akan pencapaian sang putra. Tidak diragukan lagi, Mallfin benar-benar jenius di usianya yang masih belia.

__ADS_1


"Nanti daddy akan membelikan buku-buku yang lebih mudah untuk kamu baca, boy. Jadi kamu tidak akan sulit untuk memahaminya."


"Tapi jangan buku dongeng, daddy. Mallfin tidak menyukainya." Pinta Mallfin. Ia sangat tidak suka dengan cerita dongeng yang sangat kekanak-kanakan itu.


"Baiklah. Akan daddy belikan kamu buku tentang si kancil saja."


Membuat bola mata itu seketika mendelik. "Daddy..." Rengek Mallfin.


"Ahahaha, baiklah. Jangan memasang wajah kesal seperti itu. Kamu akan terlihat semakin tampan, heummm... ."


"Daddy daddy... Lihat Mollin!!!"


Pekikan itu berhasil membuat Marcus juga Mallfin menoleh menatap pada sumber suara. Saat menatap pada gadis kecil itu, kedua pasang mata itu seketika membeliak.


"G-girl, apa yang kamu lakukan?!"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu

__ADS_1


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2