
°°°~Happy Reading~°°°
Ctarrr... .
Ctarrr... .
Ctarrr... .
Bertubi-tubi bising itu menggema di teras depan, memaksa mereka untuk menyudahi perbincangan hangat kala itu. Mallfin yang keukeh tak ingin ditinggal pun terpaksa Ana gendong. Tidak mungkin ia membiarkan sang putra berjalan seorang diri dengan keadaannya yang belum pulih sepenuhnya.
Pintu perlahan terbuka, menampilkan segerombol ibu-ibu yang tengah sibuk melempari rumah sederhana itu dengan butiran telur. Bau busuk seketika menyeruak.
"Keluar kau, Pelac*r. Dasar murah*n. Jangan kotori kampung kami dengan perbuatan kalian." Itu suara Prita. Perempuan itu berteriak keras, berusaha mengkomando pasukan yang sudah dibawanya.
"Ya, usir perempuan murah*n itu."
"Dasar Pelac*r murah*n."
"Pembawa sial."
Cukup. Marcus mulai muak. Laki-laki itu menatap tajam pada barisan ibu-ibu yang kini berhasil membuatnya meradang.
"Apa yang kalian lakukan, huh..." Sorot matanya tajam. Suaranya lirih namun penuh intimidasi. Marcus semakin tersulut saat merasakan rengkuhan itu semakin menguat. Maurin ketakutan. Gadis kecil itu bahkan kini terpejam, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher miliknya.
"Daddy, Mollin takut, hiks..." Gadis kecil itu mulai terisak kecil. Maurin benar-benar ketakutan. Tubuhnya bahkan bergetar dengan tangis lirih yang begitu menyayat.
"Tidak apa-apa. It's oke." Tangan besar itu mengusap punggung kecil itu penuh prihatin.
Awas saja. Mereka tidak akan lepas dari genggamannya. Orang-orang yang sudah membuat anak-anaknya ketakutan, tak akan ia lepaskan begitu saja.
"Kalian sebaiknya pergi dari sini. Dasar kalian pembawa si*l." Tidak berhenti, orang-orang tidak tau diri itu malah semakin mencemooh. Membuat tangan itu semakin terkepal kuat.
"Tidak tau malu sekali kau, An. Baru kemarin menggoda laki-laki disini, sudah dapat yang baru kau, dibayar berapa semalam?"
Cukup. Marcus tak dapat membendungnya. "Demi Tuhan, kalian akan mendapatkan balasannya." Sorot matanya semakin tajam.
Sial, jika saja tidak ada Ana juga anak-anaknya, sudah ia robek mulut busuk itu.
"Alah, omong kosong."
Telur itu kembali melayang, mengarah pada sosok Ana yang hanya diam membisu dengan si kecil Mallfin digendongannya. Membuat Marcus berbalik, menyelimuti tubuh itu dengan tubuh jangkungnya. Jas mahal itu seketika ternoda. Bau busuk itu pun menguar kuat.
"Shhhit. Sial*n." Marcus mengumpat lirih. Bukan karena jasnya yang ternoda, tapi karena mereka telah berani mengusik anak-anaknya.
Ana mendongak, menatap wajah kesal itu dengan wajah penuh bersalah.
__ADS_1
"Maaf, apa anda tidak apa-apa?"
Marcus menunduk, menatap dalam pada sorot mata penuh bersalah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tidak."
"Anda kedalam saja bersama anak-anak. Saya akan berbicara dengan mereka dulu."
"Tidak perlu. Aku tidak akan bermurah hati disini." Seru Marcus, menatap ibu-ibu itu dengan tatapan nyalang miliknya.
Tak lama, deru mesin mobil beriringan terhenti di depan kediaman Ana. Sosok berpakaian serba hitam dengan tubuh kekarnya mulai memasuki halaman rumah itu, membuat gerombolan ibu-ibu itu sontak mengernyit takut.
"Ada apa ini?"
"Apa mereka akan menangkap Ana?"
"Cih, rupanya perempuan itu sudah tertangkap sekarang." Prita tersenyum lebar. Merasa menang sebelum berperang.
"Tuan..." Semua orang mendelik tak percaya saat pasukan berpakaian serba hitam itu kini membungkuk serempak pada laki-laki itu.
"Aku tidak mau tau. Hancurkan kawasan ini dan ratakan semua dengan tanah." Seru Marcus dengan lantangnya. Membuat semua orang seketika itu membeliak.
Apa mereka tidak salah dengar?
"Heiii!!! Kau bilang mau menghancurkan kawasan ini? Jangan mimpi, memang siapa kau, huh." Prita berseru sembari berkacak pinggang.
"Kita lihat saja nanti." Smirk menungging di bibirnya. Marcus benar-benar tak sabar melihat orang-orang tidak tau diri itu menjadi terlunta-lunta.
"Apa-apaan kau. Berani kau menghancurkan daerah ini? Akan ku buat kalian mendekam di penjara. Suamiku sendiri yang akan menjebloskan kalian ke penjara." Prita berteriak keras, tak terima dengan Marcus yang seenaknya. Memang siapa dia hingga bisa meratakan kampung ini dengan sekejap.
"Suamimu? Cih, dengar. Tidak lama lagi, dia yang akan mendekam di penjara. Ck, sangat tidak berguna."
Baru mengatupkan mulut, suara sirine polisi terdengar. Mobil polisi itupun berhenti tepat di kediaman Prita yang tak jauh dari rumah milik Ana, hanya berbeda satu rumah dengannya. Membuat semua orang membeliak.
"Apa itu polisi yang akan menjemput pak Irkam?" Bisik-bisik mulai menggaung. Para ibu-ibu mulai berbalik arah menatap sinis pada sosok Prita yang mulai gelagapan.
Apa ucapan laki-laki itu benar adanya?
Tak ingin menunggu lama, Prita berlari meninggalkan kediaman Ana, belum juga ia memasuki kediamannya, terlihat suaminya tengah di gelandang dua orang polisi menuju mobil polisi yang terparkir di depan rumahnya.
"Apa yang kalian lakukan? Mau dibawa kemana suamiku, huh..." Perempuan itu mengamuk di depan rumahnya. Tak terima akan perlakuan polisi didepannya yang menyeret paksa suaminya.
"Suami ibu terbukti menjadi penjual narkoba." Seru polisi itu sembari menunjukkan surat bukti penangkapan.
"Tidak. Kalian jangan asal bicara. Kalian bisa saya tuntut. Kalian tidak tau jika suami saya seorang polisi, huh..." Prita berteriak keras, tak terima akan tuduhan yang dilayangkan.
"Polisi? Dia hanya pengedar narkoba nyonya. Sebaiknya kita selesaikan ini di kantor polisi saja."
__ADS_1
Jelas Prita tak percaya. Perempuan itu tetap keukeh tak ingin suaminya dibawa paksa. Ia bahkan mengamuk tak memperbolehkan polisi-polisi itu membawa pergi suaminya. Namun, seberapa keras usahanya, Prita tetap kalah. Polisi itu pergi membawa suaminya meski ia meraung-raung tak terima.
"Ana. Pasti ini perbuatan perempuan itu."
Prita berlari menuju rumah Ana. Menerobos barisan ibu-ibu yang masih mendiami posisinya semula.
"Awas kamu Ana. Akan ku hancurkan hidupmu." Perempuan itu berteriak keras bagai kesetanan.
Hendak menggapai tubuh Ana, namun usahanya sia-sia saat pengawal Marcus berhasil menghadangnya.
"Lepaskan. Lepaskan."
"Ana sial*n kau. Akan ku bunuh kau." Jeritnya saat pengawal itu membawa paksa tubuh itu menjauh dari kediaman Ana.
Marcus menghela nafas dalam. Sudah cukup. Ia tak ingin lagi membuat kekacauan yang membuat anak-anaknya semakin ketakutan. "Kalian tidak ingin pergi? Atau kalian ingin mendapatkan hal serupa dengan perempuan tadi?" seru Marcus saat barisan ibu-ibu itu tak kunjung bubar dari kediaman Ana.
"M-maaf Ana. Kami pulang dulu." Ibu-ibu itu berlari terbirit meninggalkan kediaman Ana dengan jantung berdebar.
"Sebaiknya kita masuk dulu." Marcus meraih bahu itu, menggiringnya memasuki kediaman itu yang tampak lebih baik dari pada teras rumah yang kini sudah porak poranda akan pecahan telur busuk.
Maurin yang tertidur karena saking takutnya kini direbahkan dulu di ranjangnya. Juga si kecil Mallfin yang kini juga terpejam.
"Maaf, jas anda jadi kotor." Sesak Ana. Merasa bersalah akan kericuhan yang terjadi di rumahnya.
"Tidak apa."
"Lepaskan, biar saya nanti yang akan mencucinya."
"Ana--"
"Maukah kamu pindah ke kediaman ku? Jika kamu menolak, kalian bisa pindah ke rumah orang tuaku. Tidak disini."
Perempuan itu tampak menyibukkan diri, seolah berusaha menghindar dari pembicaraan ini. "Setelah kejadian tadi, mereka tidak akan berani lagi. Anda tidak perlu khawatir." Tolaknya. Ia bahkan belum bicara dengan sang putra. Ia tak ingin menyinggung hati anak laki-lakinya dengan keputusan sepihak nya.
"Ana, kumohon. Jangan egois."
"Saya perlu membicarakan ini dengan Mallfin. Saya mohon, beri saya waktu. Mallfin, dia terluka cukup dalam."
Marcus menghela nafas dalam. "Baiklah."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕