
°°°~Happy Reading~°°°
Izin terbang telah dikantongi Ana. Keluarga kecil itu pun telah siap untuk memulai perjalanannya. Perjalanan pertama setelah mereka resmi menjadi keluarga kecil yang sempurna.
"Woahhh, daddy. Itu bullung shawat na?" Seru Maurin, menatap penuh binar pada pesawat pribadi sang daddy yang kini telah siap di lintasannya.
"Yes, girl. Apa kamu menyukainya?"
"Yesh daddy. Bullung shawat na beushall sheukalli. Mollin jadi keutcill sheukalli. Mollin eundak teullihat, ahahaha..." Kikiknya menertawai ucapannya sendiri.
"Okey. Come on, kita harus segera naik. Tapi kalian harus ha--"
Belum juga mulutnya terkatup, gadis kecil itu sudah lebih dulu berlari terbirit mendekati badan pesawat. Membuat Marcus sontak memekik. "Boy, jaga adikmu. Dia berbahaya." Titah Marcus. Tidak mungkin ia berlari mengejar sang putri dan meninggalkan istrinya yang tengah mengandung.
Membuat Mallfin mau tak mau akhirnya mengejar langkah cepat gadis kecil itu, mencekal pergelangan tangannya agar gadis kecil itu menghentikan langkah kakinya. "Apin... Keunnapa? Kummon, daddy shulluh teupat-teupat." Seru Maurin dengan wajah polos tanpa dosanya.
"Hati-hati, Maurin. Tidak perlu berlari. Disini berbahaya. Kau bisa terjatuh dan berguling. Apa kamu ingin liburannya gagal karena kamu terluka?"
"Eundak mau Apin. Mollin mau beullshenang-shenang. Eundak mau shakit. Ayo kita beullhati-hati shaja."
__ADS_1
"Baiklah, pegang tanganku." Seru Mallfin kemudian menuntun sang kembaran untuk perlahan menaiki jajaran anak tangga. Terlihat sangat manis, apalagi saat Mallfin berkali-kali memperingati si kecil Maurin untuk berhati-hati dengan langkah kakinya.
"Putraku benar-benar bisa diandalkannya." Seru Marcus bangga akan sang putra.
"Mereka terlihat sangat manis ya, mas..." Celetuk Ana menatap haru pada kedua anaknya yang saling berpegangan tangan.
"Ya, andai saja ini menjadi pemandangan setiap hari di rumah. Tapi, sepertinya itu akan mustahil. Maurin terlalu aktif dan Mallfin benar-benar membenci itu. Mereka seperti dua orang terasing."
"Ya, mereka sangat bertolak belakang." Timpal Ana membenarkan.
"Oh iya, ini pengalaman pertamamu terbang?"
"Tidak apa-apa. Ada mas kan disini. Kalau takut, peluk mas saja, heummm... ."
"Itu mas aja yang cari kesempatan." Celetuk Ana.
"Tidak masalah kan kalau cari kesempatan pada istri sendiri? Toh kita sudah halal."
"Ya, suka-sukanya mas aja deh." Canda Ana. Membuat keduanya seketika tertawa. Obrolan seperti ini sudah menjadi hal biasa bagi keduanya. Tidak seperti dulu di awal pernikahan, mereka bagai orang terasing yang tak saling mengenal.
__ADS_1
Sesampainya di dalam pesawat, keduanya dikejutkan dengan bangku pesawat yang tampak kosong. Padahal anak-anak sudah masuk lebih dulu sejak tadi. Lalu, dimana mereka saat ini.
"Anak-anak dimana, mas?" Tanya Ana, siapa tau di dalam pesawat itu ada ruang rahasia seperti di kantor milik sang suami.
"Mas juga tidak tau. Coba mas tanya dulu--"
"Nona, tolong. Jangan menyentuh itu." Pekikan itu membuat keduanya menoleh menatap pada bagian kokpit pesawat. Keduanya kemudian menatap satu sama lain. Sepertinya ada yang tidak beres.
Membuat keduanya segera melesat menuju bagian kokpit pesawat yang kini tampak riuh oleh si kecil Maurin yang mulai menggerayangi bagian-bagian penting pesawat jet itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1