
°°°~Happy Reading~°°°
"Mommy, peushanan Mollin dah jadi?"
Membuat Ana seketika itu mengernyit tak mengerti. "Pesanan apa sayang? Maurin tidak pesan apa-apa sama mommy."
"Mollin dah peushan shama daddy keumallin. Daddy eundak kashih tau mommy ya?" Seru gadis kecil itu bersungut-sungut.
"Sudah, girl. Daddy sudah sampaikan pada mommy. Mommy aja yang lupa." Seru Marcus tak ingin disalahkan sendiri. Bahkan disini ia yang paling bekerja keras hanya demi bisa memenuhi keinginan sang putri.
"Memang Maurin pesan apa, sayang."
"Dedek bayi oek-oek, mommyyy..." Jawab Maurin geregetan sendiri. padahal ia sudah ingin sekali bermain dengan adik bayinya, tapi mommy dan daddy nya itu malah tidak ikut serta membawa sang adik bayi.
Ana yang mendengar penuturan sang putri seketika itu mendelik. Jadi perihal adik bayi, suaminya itu tidak berbohong sama sekali?
Namun, meski begitu, apa putri kecilnya itu menagih adik bayinya saat ini juga? Mereka bahkan baru melakukannya dua hari yang lalu, bagaimana langsung bisa jadi bayi dalam waktu sesingkat itu?
"Kalian sudah datang? Kenapa tidak langsung masuk? Ayo ayo, masuk An."
__ADS_1
Mama Elena kemudian menggiring Ana untuk segera memasuki kediaman mewahnya, meninggalkan Marcus yang kini sudah seperti anak tiri yang telah dicampakkan. Lihat saja, wajahnya terlihat sangat kesal. Laki-laki itu bahkan tak henti berdecak saat ia seolah tak di anggap dan malah di anggurkan.
"Maurin, giliranmu." Seru Mallfin tak sabar karena Maurin terlalu lama meninggalkan permainan mereka. Membuat gadis kecil itupun kembali bergabung dengan Mallfin juga tuan Regar yang kini menjadi bulan-bulanan si kembar. Wajahnya penuh akan bedak karena sedari tadi kalah bertanding dengan cucu-cucunya.
Ana yang mendapati sang mertua sudah seperti kue putri salju itu seketika memekik. Pandangannya seketika terarah pada Mallfin yang kini tampak menyengir.
"Sayang, apa yang kalian lakukan pada grandpa?"
"Tidak tidak, jangan salahkan mereka. Aku kalah jadi aku mendapatkan hukuman." Seru tuan Regar tak ingin sang cucu di salahkan.
"Maaf kalau anak-anak sudah keterlaluan ya pa..." Sesal Ana.
"Tidak apa-apa. Kamu berbincanglah dengan mama. Biar kami bisa melanjutkan permainannya lagi." Pinta tuan Regar tak sabar kembali melanjutkan permainannya.
"Shhht... Diam kau. Jangan mengganggu kesenanganku." Sungut tuan Regar.
"Ayo Fin, sekarang giliranmu." Seru tuan Regar meminta permainan kembali dilanjutkan.
Dan ketiganya kembali larut dalam permainan mereka sendiri tanpa memperdulikan Ana juga Marcus yang kini kebingungan menatap aksi ketiganya.
__ADS_1
"Ya begitulah kelakuan mereka dua hari ini, An. Kalau udah main itu, mama udah dicuekin sendiri." Keluh mama Elena.
Ana menyengir. "Maaf ya ma, kalau anak-anak ngerepotin mama sama papa jadinya... ."
"Nggak kok An, mereka ngga ngerepotin sama sekali. Rumah mama jadi rame malah. Apalagi sama si Maurin, rumah mama jadi kayak pasar, rame banget meskipun mulutnya cuman satu. Ahahaha... ."
"Nanti kapan-kapan, biar mereka menginap disini saja kalau akhir pekan. Biar kalian juga bisa berduaan. Ngga direcoki terus sama dua buntut itu. Buatin mama cucu lagi biar rumahnya mama makin rame ya, hehehe..." Tambah mama Elena.
Membuat Ana menelan ludahnya. Lagi-lagi perihal momongan. Mereka baru menikah beberapa Minggu lalu dan baru dua hari lalu berhubungan badan, belum tentu juga langsung jadi, tapi request memintanya segera hamil gencar sekali diutarakan orang-orang disekelilingnya.
"Mommy mommy..." Gadis kecil yang tadi sibuk bermain kini mendadak berlari mendekati Ana dengan wajahnya yang menekuk.
"Ada apa, sayang..." Melihat wajah memberengut sang putri, Ana mulai menebak jika mungkin sang putri telah kalah bermain. Tapi, apa iya? Wajahnya bahkan tidak terkena noda bedak sedikitpun.
"Tadi mommy bellum dawab Mollin. Peushanan na Mollin manna mommy... Kan keumallin Mollin dah billang mau mommy shama daddy buatin peushanan Mollin teupat-teupat... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕