Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Sumber Kebahagiaan


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Ana ngga marah kok, mas. Mas pasti juga capek jaga adek sendirian. Maaf ya, Ana tadi lama."


Angin segar itu berhembus. Detik itu juga Marcus dapat bernafas lega. Dikiranya Ana akan marah karena telah membuat putranya menjadi badut seperti ini. Ternyata itu hanya sebuah prasangka. Ana bahkan meminta maaf padanya. Membuat hatinya seketika itu berbunga. Beruntung sekali laki-laki itu mendapatkan Ana yang penuh dengan kesabaran mengurus anak-anak juga dirinya yang jauh lebih kekanakan.


"Makasih ya sayang... ."


Laki-laki itu merengkuh Ana. Perasaannya menghangat. Pernikahan yang dulu ia kira akan menjadi sumber penderitaannya, nyatanya menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan. Pernikahan yang dulu ia kira akan berakhir dengan kata perceraian, nyatanya menjadi satu hal yang mungkin tak akan pernah ia lepaskan begitu saja.


Marcus bersyukur. Pertemuannya dengan Ana adalah takdir terindah yang Tuhan gariskan. Bersamanya Marcus merasa lebih hidup, lebih bermakna, dan jauh lebih bahagia.


Marcus beruntung, sangat beruntung memiliki keluarga kecilnya. Keluarga yang mungkin banyak diimpikan oleh sebagian orang yang mungkin saja tidak seberuntung dirinya.


"Mas kenapa?"


Ana berbalik, menatap Marcus yang sudah berkaca-kaca.


"Mas tadi di nakalin sama adek?" Jelas perempuan itu dibuat bingung oleh sikap suaminya yang mendadak mellow. Tidak ada angin tidak ada hujan, laki-laki itu tiba-tiba saja sudah hampir terisak.


"Tidak apa-apa, mas hanya beruntung bisa memiliki kamu dan juga anak-anak. Mas bahagia sayang. Terimakasih sudah ada di samping mas selama ini. Terimakasih sudah sabar menghadapi mas dan anak-anak. Pasti ini tidak mudah untuk kamu."


"Ana jauh lebih beruntung punya mas dan anak-anak." Perempuan itu mengusap kepala suaminya yang sudah meringkuk di atas pundaknya. Marcus adalah definisi bayi besar yang ulahnya lebih astaghfirullah dari anak-anaknya.


"Jadi, apa kamu bahagia memiliki anak-anak yang lucu, sayang?"


Ana mengernyit. "Ya, tentu saja mas. Mereka adalah sumber kebahagiaan Ana. Mas juga kan?"


Marcus mengangguk antusias."Ya, tentu saja sayang." Senyum smirk itu menyungging di bibirnya. "Jadi, kalau begitu, bukankah lebih baik kita menambah satu baby lagi, sayang? Bukankah semakin banyak anak, rumah akan semakin ramai?"

__ADS_1


Situasi romantis itu seketika berubah mencekam kala Ana melebarkan mata penuh ancaman. "Kamu jangan coba-coba mas."


Menciptakan tawa dari bibir Marcus. Wajah sang istri yang tengah mengaum itu benar-benar menggemaskan. Membuat ia semakin cinta saja dengan perempuan itu.


"Jangan marah dong sayang, nanti cantiknya nambah loh. Kan mas jadi makin cinta."


Ck. Makin kesini, makin kesana. Makin tua bukannya makin tobat, malah semakin menggombal yang bukan-bukan.


"Mas sih, bikin gara-gara sama Ana. Pakai acara mau nambah anak lagi. Ini nambah satu aja jadi gini nasibnya si adek."


"Ahahaha, dadadadadada..." Timpal Marcell seolah mengerti.


"Ampun sayang. Nggak lagi-lagi deh mas minta tambah anak. Minta tambah jatah boleh?"


Membuat Ana sontak mendelik. "Mas--"


"Oke, kita berdamai. Mas nggak akan macam-macam kok."


"No no, mommy." Timpal Maurin tak terima. Rupanya sedari tadi ia tengah asik bermain dengan mainan milik adiknya.


"Kenapa sayang?"


"Kita mandi samma-samma saja ya myh, biar seru. hihihi... ."


"Tapi sayang, nanti kalian sakit gi--" belum selesai Ana berseru, gadis kecil itu sudah memainkan hand shower ditangannya. Membuat air itu sontak berhamburan membasahi tubuh semua orang di dalamnya. Gadis kecil itu sontak memekik girang.


"Woahhhh... seru sekali kan myh. Hihihi... ."


"Maurin, kamu membasahi bajuku!!!" Seru Mallfin tak terima. Padahal ia harus segera ke ruang kerja sang daddy, hendak mengambil buku incarannya.

__ADS_1


"Tidak sengaja Apin, Hihihi... ."


Mallfin hanya mendengus tanpa berniat membalas kelakuan si kecil Maurin. Membuat Maurin semakin tertantang mengganggu bocah dingin itu. Dengan sengaja air itu ia arahkan pada wajah Mallfin. Membuat Mallfin semakin basah kuyup. Aura permusuhan itupun menguar hebat.


"Awas kau Maurin!"


Bocah laki-laki itupun mengejar si kecil Maurin untuk ia beri pelajaran. Maurin benar-benar menyebalkan. Semakin besar bukannya semakin menyenangkan, malah semakin menjengkelkan.


"Kabur... Ada beruang ngamuk. Ahahaha... ."


Maurin memekik girang. Kedua bocah itupun saling berkejaran di tengah tawa Marcus dan Ana yang saling melontarkan tawa bahagia. Begitu juga baby Marcell yang kini memekik girang menatap kedua kakaknya yang masih saling berkejaran dengan tubuh basah kuyup.


END


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Akhirnya novel Secret Baby Twins CEO ini mencapai akhir cerita


Terimakasih atas setiap dukungan kalian


Terimakasih pada kalian yang selalu memberikan support pada othor yang bandel karena suka lupa update, hehehe


Jangan bosen sama othor kalau kita ketemu di cerita lain ya, hehehe


Btw, mau dibuatin cerita apa nih, hehehe


Happy reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2