Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mari Kita Menikah


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Sayang, Maurin disini sebentar ya. Mommy ada yang harus di bicarakan dengan uncle itu," pamit Ana seusai memakaikan baju sang putri.


"Mollin bolleh ikut? Mollin kangen sheukalli shama uncle Hillo myh... Uncle Hillo baik sheukalli shama Mollin. Mollin shuka uncle Hillo."


Dada itu mengernyit sakit. Putrinya bahkan kini menyukai laki-laki itu tanpa tahu jika dialah daddy yang selama ini dinanti. Lalu, bagaimana jika Maurin sampai tau jika laki-laki itu adalah ayah kandungnya. Apa gadis kecil itu akan berpaling darinya?


Tidak.


Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Tidak sayang. Maurin disini saja, jagain Mallfin. Kasihan nanti Mallfin sendirian."


Gadis kecil itu menunduk lesu, padahal dirinya ingin sekali bermain dengan uncle Hiro nya. "Baiklah mommy, tapi mommy eundak bolleh lamma-lamma," putus Maurin setengah hati.


"Baiklah. Hanya sebentar, mommy janji."


Ana kemudian beralih pada sang putra. "Maaf sayang. Mommy harus keluar sebentar. Mallfin tunggu disini ya sama Maurin."


Bocah laki-laki itu tak banyak mengeluarkan kata, tangannya kini mengulur menggenggam tangan Ana seolah menunjukkan sebuah penolakan.


"Tidak apa sayang, mommy hanya sebentar saja. Mommy akan segera kembali. Mommy janji. Heummm..." Dikecupnya tangan mungil itu. Ia tau Mallfin khawatir. Bocah laki-laki itu terlalu peka, dan sungguh Ana menyayangkannya, membuat ia tak bisa menyembunyikan semua luka.


Langkah itu mengalun pasti, Ana harus menyelesaikan masalah ini. Ia harus membuat laki-laki itu mengerti dan tak mengusik hidupnya lagi.


"Maaf nyonya, anda harus melihat hal memalukan seperti ini. Saya harap anda tetap mau menemui putri saya, Maurin sangat menyukai anda."


Ana masih tak menyadari jika sosok didepannya ini adalah sosok ibu dari laki-laki yang pernah menorehkan luka dihatinya. Dikiranya, mama Elena hanya ingin menemui sang putri yang memang suka berteman dengan siapa saja.

__ADS_1


"Ana..." Digenggamnya tangan itu, lidahnya terasa kelu, bagaimana ia harus mengatakan hal yang sebenarnya, fakta yang jelas akan melukai Ana, ibu dari cucu-cucunya.


"Mom, give me a chance to explain it," seru Marcus menahan ucapan mama Elena.


(Mom, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya.)


"Baiklah, kalian bicarakan terlebih dulu. Mama akan menemani anak-anak di dalam."


Ucapan mama Elena jelas terdengar ambigu. Namun Ana masih tak bisa menerka, kemana arah pembicaraan ini akan bermuara.


"Saya jelas tidak mengetahui ini sebelumnya. Karena itu, selama ini saya tidak mencari keberadaan kamu," seru Marcus mengawali pembicaraan. Keduanya kini tengah duduk berdua di kursi tunggu dimana tak ada seorangpun yang berlalu lalang.


"Saya tidak akan memberikan anak-anak saya pada anda. Anak-anak hanya milik saya. Saya yang membesarkan mereka, mereka milik saya, anda tidak berhak mengambilnya dari saya," timpal Ana mengira Marcus akan meminta hak asuh anak-anaknya.


"Saya tidak sekejam itu, Ana." Geram Marcus.


Membuat Marcus sontak berdecak, Ana benar-benar sangat cerewet. Dia perempuan yang sangat menyebalkan. Bagaimana nanti jika ia menikah dengan perempuan itu? Pasti hidupnya tak akan tenang nantinya.


"Orang tua saya menginginkan pertanggungjawaban saya terhadap kamu. Mari kita menikah."


Membuat Ana sontak mendelik, menatap pada manik biru yang kini menatap lurus ke arahnya. "Tidak, saya tidak membutuhkan pertanggungjawaban apapun dari anda. Biarkan kami pergi, dan jangan pernah mengusik kami lagi. Itu saja sudah cukup bagi saya."


"Jangan egois, Ana."


"Egois? Atas dasar apa anda mengatakan saya egois."


"Jelas kamu egois disini. Kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri, bagaimana dengan anak-anak?"


"Anak-anak biar menjadi urusan saya sendiri. Saya ibunya."

__ADS_1


"Dan saya adalah ayahnya. Saya berhak atas mereka."


"Ya. Anda memang ayah biologisnya. Tapi itu tidak akan merubah kenyataan. Selama ini saya yang merawatnya sendiri. Anda tidak berhak atas mereka."


"Jangan keras kepala, Ana. Apa kamu bisa menghidupi mereka nanti? Apa kamu bisa memberikan mereka makan dan tempat tinggal yang layak setelah semua ini? Mallfin sakit dan kamu ingin membuatnya semakin sakit dengan keterbatasanmu itu?"


Membuat hati Ana seketika itu mengernyit sakit. Laki-laki itu telah mengatakan kelemahannya tanpa sedikitpun rasa sungkan. Bagaimana dirinya dulu harus banting tulang untuk menghidupi kedua anak-anaknya. Sungguh itu bukan waktu yang mudah untuk dilalui.


Ana bangkit tanpa menimpali, membuat Marcus melakukan hal yang sama.


"Ana--" manik matanya menyapu punggung yang bergetar itu.


"Jangan pernah ikut campur atas hidup saya."


Ana menghempaskan setitik air mata yang tak sengaja runtuh. Meski berusaha kuat, ibu mana yang akan sanggup melihat anak-anaknya ikut menderita bersamanya. Namun melepaskannya?


Maaf, Ana tak sekuat itu.


Pintu dibuka, menampilkan sosok mama Elena. Membuat Ana buru-buru menghempaskan isak dari wajahnya.


"Apa Maurin menangis, nyonya?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2