
°°°~Happy Reading~°°°
"Tadi mommy bellum dawab Mollin. Peushanan na Mollin manna mommy... Kan keumallin Mollin dah billang mau mommy shama daddy buatin peushanan Mollin teupat-teupat..." Sungut gadis kecil itu berapi-api.
"Pesan apa sih An memangnya?"
"Emmm, itu ma--" Seketika Ana menjadi kikuk sendiri.
"Kalau memang ngga sempat buat, mending beli aja, biar kalian ngga repot-repot buat segala." Tambah mama Elena.
Marcus menghela nafas berat. "Pesanannya Maurin tidak bisa dibeli dan tidak bisa langsung jadi seketika itu juga, mam..." Seru Marcus menimpali. Membuat Mama Elena sontak saja dibuat mengernyitkan dahi.
"Huh? tidak bisa dibeli? Memang apa yang tidak bisa dibeli di dunia ini, Marc... Kan jaman sudah canggih. Tinggal klik handphone, barangnya nanti bisa dateng sendiri, kan?"
Marcus kembali menghela nafas berat. Sungguh pemintaan sang putri membuatnya pusing sendiri. "Masalahnya, pesanannya Maurin itu baby, mam... ."
__ADS_1
Membuat Mama Elena seketika itu mendelik. "A-apa?! Baby? Maksudnya bayi hidup?"
"Iya lah ma, kalau bayi boneka sudah Marcus belikan sejak kemarin, kalau perlu sama pabriknya sekalian biar puas dianya." Dengus Marcus.
Mendapati dirinya diacuhkan membuat gadis kecil itu seketika kesal sendiri. "Mommy... Peushanan Mollin..." Rengek Maurin sembari menghentakkan kaki, jengkel sekali karena ketiga orang itu malah sibuk berdebat sendiri.
"Iya sayang, iya..." Ana dibuat pusing sendiri dengan permintaan sang putri. Ana bingung, harus bagaimana ia menjelaskan pada gadis kecil itu.
"Dangan-dangan, mommy shama daddy bullum buatin dedek bayi oek-oek buat Mollin. Keumallin daddy dah plomish, eundak bolleh ingkall!!!" Seru gadis kecil itu berapi-api.
"Iya, Girl. Daddy sama mommy sudah buatin kok..." Seru Marcus seenak jidatnya. Membuat Ana seketika itu bersemu. Laki-laki itu sama sekali tidak memikirkan betapa malu perempuan itu saat ini. Apalagi saat mama Elena menatapnya dengan tatapan tak biasa.
Membuat Ana seketika itu menghela nafas dalam. Ia harus segera menjelaskannya pada sang putri atau gadis kecil aka marah dan semakin sulit dihadapi.
"Sayang, dengerin mommy. Kalau Maurin minta adik bayi, Maurin harus rajin berdoa sama Allah, biar Allah cepat kabulkan keinginan Maurin. Kalau sudah ada adek bayi di perut mommy, Maurin juga harus sabar menunggu. Tidak bisa langsung keluar adek bayinya. Adek bayinya harus belajar dulu di perut mommy, seperti Maurin belajar di sekolah Maurin. Putri mommy mengerti sekarang?" Jelas Ana panjang lebar. Jika tidak seperti ini, mungkin gadis kecil itu akan merajuk saben hari.
__ADS_1
"Bellapa halli Mollin hallush tunggu-tunggu?" Seru Maurin to the point.
"Eummm, tidak terlalu lama. Tapi kalau Maurin bersabar, pasti akan terasa sangat cepat." Timpal Ana. Jika ia menjawab dengan kisaran hari yang ditanyakan, yakin gadis kecil itu akan langsung menangis sejadinya.
"Tapi Mollin dah pengen beullmain shama adek bayi oek-oek, mommy..." Tunduk Maurin, wajahnya menekuk, kecewa sekali karena tak mendapatkan adek bayi pesanannya.
"Bagaimana kalau daddy belikan Maurin boneka bayi? Sebelum bermain dengan adek bayi sungguhan, Maurin harus berlatih dulu dengan boneka mainan."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Siapa yang nungguin si gemoy Mollin nih, hehehe
Maaf ya kemarin off dulu, kalian ngga jadi jemuran kering kan, ahahaha
__ADS_1
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕