Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Saya Tidak Bisa


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Apa Maurin menangis, nyonya?" seru Ana khawatir. Maurin gadis yang manja, gadis kecil itu tak akan nyaman jika ia tinggal terlalu lama.


"Tidak. Maurin baik. Mereka sedang bermain dengan suamiku sekarang."


"Maaf karena saya kembali merepotkan anda, Nyonya."


Mama Elena menyaut tangan itu, menggenggamnya erat penuh permohonan. "Bisakah kita bicara sebentar, Ana?"


Ana mengangguk menyanggupi. Kedua perempuan itupun mendudukkan diri di kursi. Sedang Marcus, laki-laki itu memilih tetap berdiri.


"Ana, aku tahu perlakuan putraku padamu sangat keterlaluan. Tapi kita juga harus memikirkan anak-anak."


Ana mengernyit bingung. "Maaf nyonya. Sebenarnya, apa yang tengah anda perbincangkan sekarang. Putra anda yang mana yang menyakiti saya. Saya bahkan baru mengenal nyonya kemarin."


Mama Elena memejam. "Marcus. Dia putraku."


Membuat Ana seketika itu membeliak. Laki-laki itu-- Jadi, laki-laki itu adalah putra dari sosok yang kini ada dihadapannya? Sosok yang tiba-tiba menyayangi sang putri tanpa satu alasan yang jelas?


Lalu, kedatangan mereka kesini, apa mereka ingin merampas kedua buah hatinya?


Tidak.


Ana merem*s jemari tangannya. Kepalanya menunduk dalam. "Apa anda ingin mengambil anak-anak dari saya?"

__ADS_1


Ketakutan itu menjadi berlipat ganda. Ana sadar, ia tak ada apa-apanya dengan mereka. Ia hanya seorang yang miskin, sedang mereka memiliki segalanya.


Jika mereka sampai menuntut ke pengadilan untuk mendapatkan hak asuh kedua anaknya, maka sudah dipastikan ia tak akan mampu mempertahankannya.


Ia terlalu miskin. Ia perempuan yang tak berguna. Ia lemah. Ia bahkan tak sanggup menghidupi kedua anaknya dengan kehidupan yang layak.


Tapi, jika harus kehilangan keduanya. Ia tidak bisa.


Tidak. Jangan. Bagaimanapun ia tak akan bisa hidup tanpa kedua malaikat kecilnya.


"Ana--"


Hingga kedua lutut itu bersimpuh di kaki mama Elena. Tidak apa jika ia merendahkan dirinya sekali lagi. Ia memang seorang perempuan rendahan yang bahkan tak bisa berbuat apa-apa untuk kedua anaknya.


"Tolong jangan ambil mereka dari saya, Nyonya. Saya mohon. Saya tidak memiliki apapun lagi di dunia ini. Hanya mereka yang saya memiliki. Mereka hidup saya. Saya rela melakukan apapun untuk anda. Apapun. Asal anda tak mengambil anak-anak saya. Saya mohon nyonya. Saya mohon, Nyonya."


"Ana... Tidak. Tolong jangan seperti ini."


Mama Elena membangkitkan Ana dari simpuhannya. Kembali mendudukkan perempuan itu di kursinya dengan hati berdenyut nyeri merasakan sesak. Bagaimanapun ia seorang ibu, ia tahu betul apa yang kini tengah Ana rasakan.


"Tolong Nyonya jangan mengambil anak-anak dari saya, saya mohon," pinta Ana penuh permohonan. Perempuan itu hampir saja berputus asa. Ia takut, ia benar-benar takut jika perempuan didepannya kini benar-benar akan mengambil kedua anaknya.


"Tidak Ana. Saya janji, saya tidak akan melakukannya. Saya juga seorang ibu."


"Tapi, saya mohon. Menikahlah dengan Marcus. Bagaimanapun, anak-anak membutuhkan figur seorang ayah."

__ADS_1


Ana merem*s jemari tangannya. "S-saya tidak bisa. Maaf." Tunduk Ana. Menikah dengan laki-laki itu, bagaikan membuka luka lama yang masih menganga. Sakit, perih, membuatnya begitu tersiksa. Meski ia telah memaafkan laki-laki itu, tapi ia pun tak dapat membohongi hatinya. Luka itu membuatnya trauma.


"Kamu pikirkan lebih dulu, Ana. Jangan gegabah. Timbang semua baik buruknya. Saya tau putra saya mungkin telah banyak melukai kamu, tapi anak-anak pun membutuhkannya. Tolong pikirkan baik-baik Ana."


"Saya tidak bisa."


Tangis itu kembali luruh. Isak itu tak lagi dapat dibendung. Hati itu masih merasakan nyeri saat mengingat masa lalu yang begitu menyesakkan dada.


Sungguh Ana tak ingin terikat dengan sosok yang pernah menorehkannya luka.


Namun Ana pun tak mau munafik. Anak-anak butuh sosok sang ayah. Apalagi kini keadaan Mallfin masih butuh perawatan intensif. Biayanya menipis, ia pun tak dapat mengurus keduanya hanya dengan dua tangannya yang ringkih.


Ana lelah.


Tapi tak ada pundak yang mampu menopang semua beban yang bertumpu di pundaknya.


Ana sakit. Begitu sakit hingga membuatnya sulit mengambil nafas sejenak.


Hingga rengkuhan itu terasa hangat menjalar tubuhnya, tangis semakin luruh membasahi wajahnya. Dekapan hangat sang ibu yang sudah lama tak dapat ia rasakan, kini seolah merengkuhnya hangat.


"Tidak apa. Menangislah. Saya tau ini tidak mudah untukmu, Ana."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu

__ADS_1


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2