Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
im not a baby


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di negara tujuan. Sebuah negara kecil namun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat, Singapura.


Begitu sampai di panthouse tempat dimana mereka akan menginap selama berada di Singapura, Marcus memilih merebahkan diri di atas ranjangnya, rasanya sangat lemas sekali, apalagi setelah diterjang mual muntah selama perjalanan.


"Biar Ana pijat mas."


Dengan lemah, laki-laki itu menggeleng. "Tidak perlu, sayang. Kamu juga pasti lelah setelah mengurus mas dan anak-anak selama di perjalanan."


"Tidak. Ana baik-baik saja, mas. Mas tidur saja, biar Ana yang pijitin."


"Anak-anak bagaimana?"


"Mereka sedang diluar. Mallfin bisa menjaga Maurin. Mas tenang saja."


Baru mengatupkan mulutnya, pintu kamar terbuka, menampilkan si kecil Maurin dan si kecil Mallfin yang kini berangsur mendekati ranjang.


"Mommy, daddy uwek-uwek egin?" Seru Maurin dengan wajah penuh khawatir.


"Tidak sayang, daddy hanya ingin istirahat sebentar."


"Sorry my twins. Sepertinya kita harus menunda jalan-jalan kali ini. Daddy lemas sekali. Kalian tidak apa-apa main disini dulu?"


"Tidak apa-apa, daddy. Kita bisa jalan-jalan lain kali. Daddy istirahat saja dulu." Seru Mallfin menimpali.

__ADS_1


"Daddy mau Mollin pidit-pidit? Mollin pandai pidit-pidit loh..." Belum Marcus memberikan persetujuannya, gadis kecil itu sudah naik sendiri ke atas kasur dengan penuh kesusahan. Maklum saja, tubuhnya masih pendek di banding dengan ranjang king size itu.


"Shini daddy, biall Mollin pidit-pidit daddy. Daddy hallush shuttlong biall kita bisha dalan-dalan nanti."


Gadis kecil itu mulai memijit lengan tangan sang daddy, begitu juga dengan si kecil Mallfin yang kini ikut memijit kaki sang daddy dengan tangan kecilnya. Sedang Ana bertugas memijit kepala Marcus karena laki-laki itu mengeluh pusing sejak di dalam pesawat. Hingga tanpa sadar, keluarga kecil itupun perlahan terlelap bersama di atas ranjang.


🍁🍁🍁


"Okey, come on. Wake up twins. Kalian tidak ingin jalan-jalan?"


Suara berat itupun berhasil membangun anak-anak yang sebelumnya terlelap di atas ranjangnya. Sepasang kembaran itu perlahan mengerjap dan mendapatkan daddy nya kini telah kembali segar dengan penampilannya.


"Ayo, apa kalian tidak lapar?"


"Mollin lapall sheukalli daddy. Mollin mau gendong. Mollin eundak beulldaya." Lirih Maurin merentangkan kedua tangannya.


Bocah laki-laki itu menggeleng. "No daddy. I'm not a baby."


"Oh come on boy. Sini, daddy ingin menggendong kalian berdua." Selama mereka bersama, tak pernah Marcus merasakan menggendong mereka berdua bersamaan. Padahal, dulu Ana mungkin harus menggendong mereka bersamaan saat tak ada seorang pun yang membantunya.


Memaksa Mallfin untuk mendekat dan masuk dalam gendongan sang daddy.


"Wowww, daddy shuttlong sheukalli, hihihi. Daddy na Mollin shepeulti shuppel min, ahahaha... ."


Marcus dengan kedua anaknya kemudian melangkah menyusul Ana yang tengah menyiapkan makan siang yang tadi dipesan oleh Marcus.

__ADS_1


"Mommy... ."


Membuat Ana sontak menoleh. "Astaghfirullah, apa yang kalian lakukan. Mas baru sembuh loh."


Buru-buru Ana bergerak mengambil Maurin dari gendongan Marcus. Membuat Marcus sontak menahannya. "Stop sayang. Ingat, Kamu sedang hamil sekarang." Peringat Marcus.


"Yesh, mommy. Nanti kallau Mollin gendong mommy nanti adek bayi oek oek na bisha teullgencit. Kepala na nanti peyang mommy, eundak badush."


"Ya, mommy harus berhati-hati." Seru Mallfin membenarkan sang daddy.


Membuat Ana sontak menghela nafas dalam. Mereka sekarang menjadi satu kubu yang selalu saja menahannya untuk tidak melakukan apa saja.


"Baiklah, sebaiknya kita segera makan siang."


Selepas mereka menyantap makan siangnya, Marcus berniat membawa mereka menuju destinasi pertamanya. Baru saja pintu itu terbuka, Marcus sudah mengernyitkan dahinya kala mendapati sosok itu ada didepannya.


"Mollin... ."


"Mollin... ."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2