
°°°~Happy Reading~°°°
"Uncle, shepeulti na kita shudah kallah," bisik Maurin dengan wajah masam menaham ketakutan.
"Tidak apa-apa. Biar uncle yang menghadapi bocah ingusan itu," seru Marcus penuh keberanian bak pahlawan kesiangan, terik kala itu sudah berada tepat di ubun-ubun.
"Heh kau. Babi gempal. Berani-beraninya kau mengganggu anak kecil. Apa kau tidak malu dengan badanmu yang penuh dengan lemak itu, huh... ."
Mendengar hinaan itu, membuat Bobby sontak tersulut. "Kau berani mengataiku seperti babi gempal?! Awas saja, kalian akan habis sama daddy ku!!!" seru Bobby berapi-api.
"Aku tidak akan takut." Balas Marcus, laki-laki itu seperti anak kecil saja yang tak segan meladeni kenakalan anak-anak berusia 5 tahun.
"Kau mau membela gadis pembawa sial itu? Dia bahkan tidak punya daddy. Daddy nya membuangnya. Dia anak yang tidak diinginkan."
Membuat amarah itu semakin tersulut.
"Oh iya? Berani-beraninya kau mengatai putriku seperti itu, huh... Perlu kau tau, aku adalah daddy nya, jadi KAU jangan berani-berani mengatai putriku atau kakimu akan patah olehku."
"Kau pembohong. Apa kau di bayar mereka untuk mengaku sebagai daddy nya?" timpal Bobby tak percaya.
"Ck. Aku sudah punya banyak uang. Aku tidak butuh uang. Dan lagi, apa kau buta? Lihat, kita sangat mirip. Tentu aku adalah daddy nya. Tapi kau tidak akan tau karena mata mu kau letakkan di bokongmu yang penuh lemak itu."
Membuat anak-anak disana sontak tertawa terbahak-bahak, menertawakan Bobby yang kini wajahnya memerah malu juga amarah.
"Awas saja kalian, akan aku laporkan kalian pada daddy ku. Dan kalian akan segera di hukum. Kalian akan tau akibatnya."
Bocah itu langsung meninggalkan taman bermain itu dengan wajah kesalnya karena kalah akan argumennya bersama Marcus, membuat Marcus kini tergelak, ia puas karena bisa membalaskan dendam sang putri tercinta.
"Lihat, uncle berhasil membalaskan dendam mu kan. Dia hanya pecundang, berani pada anak kecil saja. Tapi pada uncle, dia langsung lari terbirit-birit seperti anak sapi kehilangan induknya." ungkapnya penuh kesombongan.
Tak ada balasan, membuat Marcus sontak berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan si kecil Maurin yang hanya diam mematung di tempatnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak senang?"
__ADS_1
Ragu Maurin menaikkan pandangannya, menatap pada Marcus yang kini menatapnya khawatir.
"Uncle beunnal daddy na Mollin?"
Membuat Marcus seketika itu terhenyak. Di tengah emosi yang meluap, ia bahkan tanpa sadar telah menguak rahasia yang seharusnya tak ia ungkap sebelum Ana mengizinkannya.
"I-itu, uncle--"
Kalimatnya tercekat, saat gadis kecil itu menghambur dalam rengkuhannya. "Daddy... ."
Marcus membeliak, tubuhnya mematung di tempat, jantung itu berdebar hebat saat panggilan yang selama ini dinantikannya akhirnya terucap dari bibir itu juga.
Tapi, ini tidak benar. Bagaimana jika Ana tak terima karena dirinya dengan seenak hatinya berbuat semaunya, membuka rahasia yang seharusnya ia jaga sampai Ana mengizinkannya untuk mengungkapkan segalanya.
"Maurin--"
"Mollin sheunang sheukalli kalluna daddy pullang tumui Mollin. Mollin sheunang sheukalli, Daddy. Sheunang banak-banak."
Marcus menghela nafas dalam. Mendengar hal itu, ia menjadi tidak tega jika harus merenggut kebahagiaan sang putri dengan menyangkal semua kebenaran yang ada.
Sruk... .
Gadis kecil itu mengangguk dengan menarik ingus yang hendak meloncat keluar dari hidungnya.
"Bisakah Maurin menyembunyikan ini dari mommy? Maksud daddy, Maurin tidak boleh bilang pada mommy jika Maurin sudah tau kalau daddy adalah daddy nya Maurin."
"Keunnapa?"
"Karena mommy masih marah dengan daddy karena tidak kunjung pulang. Jadi, daddy harus membujuk mommy terlebih dulu untuk memaafkan daddy. Bagaimana, Maurin bisa berjanji?.'
Gadis kecil itu mengangguk pasti. "Iya, Daddy. Mollin dandi. Dandi pinnoyo. Kallau Mollin billang shama mommy, nanti hidung na Mollin pandang shepeulti pinnoyo."
Senyum itu menyungging tipis, putri kecilnya itu memang sangat menggemaskan. Tidak rugi dulu ia membuang benihnya di dalam rahim Anastasia.
__ADS_1
"Baiklah. Putri daddy sangat pintar. Maurin sangat menggemaskan."
"Pulluk Mollin, Daddy."
"Baiklah, come on Girl." Marcus membawa tubuh itu masuk dalam rengkuhannya. Hangat. Marcus merasakan nyaman itu mulai menjalar. Bahagia itu tentu membuncah tanpa bisa dielakkan.
"Maurin sangat merindukan daddy?"
"Ya daddy. Mollin lindu sheukalli shama daddy. Mollin shuka beultana daddy dimana shama mommy, Mollin ingin dumput daddy biall daddy pullang, tapi mommy eundak mau kashih tau Mollin. Mollin jadi sheuball, tapi eundak pappa, Mollin shayang shama mommy, shama daddy duga."
"Kau senang bertemu daddy?"
"Ya, sheunang sheukalli. Sheunang banak-banak."
"Cium daddy girl"
Cup cup cup... .
Gadis kecil itu menghamburkan cium*nnya di wajah Marcus. "Mollin shayang daddy banak-banak."
"Daddy juga sayang Maurin."
'Daddy janji, setelah ini kita akan berkumpul bersama. Daddy akan membahagiakan kalian. Kalian tidak akan lagi mengalami kesakitan yang dulu pernah kalian alami. Daddy janji."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Rupanya othor salah orang, harusnya Rio ya yang nakal, malah nyasar ke Bobby, hihihi
Maafkan othor ya Chingu
Karena sudah terlanjur ya sudah itu saja, ehehehe
__ADS_1
Happy reading all
Saranghaja 💕💕💕