Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Kalluna Mommy Tewek


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Mollin mau lihat adek bayi oek-oek shudang beullmain mashak-mashak onty, hihihi... ."


"Masak-masak? Jadi adik bayimu perempuan?" Seru Stephanie penuh keterkejutan, padahal baru kemarin sang mama memberitahukannya jika jenis kelamin calon bayi Marcus sampai saat itu belum juga diketahui.


"Yesh onty. Adek bayi oek-oek na Mollin tantik sheukalli lohhh... Millip shepeulti kakak Mollin shama mommy. Hihihi... ."


"Dari mana kamu tau kalau adik bayimu perempuan?" Tanya Stephanie serius. Kenapa ia ketinggalan informasi disini. Apa ia telah dicampakkan oleh keluarganya sendiri.


"Kalluna mommy kan tewek, jadi adik bayi oek-oek na pashti tewek duga. Kallau yang meungandung daddy, ballu adek bayi oek-oek na towok onty, hihihi... Mollin pintall sheukalli kan onty, ahahaha..." Kekeh Maurin memuji kepintarannya yang hanya sebesar biji kacang.


Membuat Stephanie menghela nafas dalam. Serius sekali ia mendengarkan, ternyata yang ia dapatkan hanya bualan si kecil Maurin yang sedikitpun tak berdasarkan medis.


"Ya, kamu sangat pintar sekali hingga hampir membuat orang lain tersesat, Maurin. Good job." Stephanie memberikan dua jempolnya pada Maurin karena gadis kecil itu telah berhasil membuatnya tertipu oleh bocah kecil.


"Tolong maafkan dia Steevy. Kamu tau sendiri Maurin ingin sekali memiliki adik perempuan." Seru Ana.


"Tidak apa-apa mba. Lagi pula aku sepertinya yang terlalu bodoh sampai-sampai percaya saja pada ucapan Maurin yang suka menghalu kesana-kemari." Menjembel pipi chubby itu gemas. Membuat Maurin memekik.


"No shentuk-shentuh onty." Protes Maurin.


"Jadi mba kesini mau periksa kandungan?"

__ADS_1


"Iya. Rencananya kami akan periksa kandungan sekaligus melihat jenis kelaminnya. Karena sebelum-sebelumnya adek selalu memunggungi dokter saat sedang diperiksa." Tambah Ana.


"Woahhh... jail ya. Dari masih di perut aja sudah buat pusing dokter disini, apalagi kalau sudah keluar nanti. Kakak sebaiknya hati-hati, kalau kakak dapat bayi model Maurin begini, auto bikin tambah pusing, ahahaha... ."


"Ya, nanti kau yang akan bertugas mengasuhnya."


Membuat Stephanie merutuk. "Kok aku?"


"Bukankah dia keponakanmu?"


"Tapi kakak kan daddy nya."


"Kamu tidak ingin mengajak keponakanmu sendiri bermain?"


"Sudah mas. Kalian ini kalau bertemu sukanya berdebat saja."


"Iya mommy, daddy shama onty millip Shepeulti kuting shama tikush ya myh. Shuka libut mulullu bikin palla pushing."


"Emang kamu pernah lihat tikus dan kucing bertengkar?" Seri Mallfin setelah sedari tadi hanya diam membisu.


"Peullnah. Di tipi."


"Itu hanya kartun, Maurin. Yang kutanyakan di dunia asli."

__ADS_1


"Ya pokok na kan Mollin peullnah look-look. Dalli pada Apin look-look buku daddy shehalli-halli, nanti buat mata shakit."


"Sudah sudah. Sebaiknya kita segera periksa. Dokter pasti sudah menunggu sejak tadi." Putus Marcus. Jika tidak seperti ini bisa seharian mereka melihat sepasang kembaran itu saling ejek satu sama lain.


"Ayo ikut onty." Ajak Maurin.


Sampai di ruangan dokter, Ana diperiksa seperti biasa. Hingga tiba di bagian USG, mereka tampak tak sabar mendengarkan penuturan dokter perihal jenis kelamin bayinya.


"Ini baby nya masih malu-malu ya." Celetuk sang dokter.


"Apa masih belum kelihatan dok?" Timpal Ana.


"Iya nyonya. Sepertinya baby nya masih malu-malu ini. Yang kelihatan hanya punggungnya saja."


"Tapi kupikir, bukankah itu seorang laki-laki?" Seloroh Stephanie. Membuat Maurin sontak saja memekik tak suka.


"No onty. No. Mollin mau tewek shaja biall kita bisha main mashak-mashak shama-shama. Adek towok eundak shellu, eundak bisha ajak main shepeulti Apin. Boshan boshan boshan."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2