Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mas Bisa Jelaskan


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Woahhhh. Ketemu."


Marcus terlonjak kaget saat si kecil Maurin akhirnya datang dengan menampilkan wajah sumringah.


"Tamat riwayat mu, Marcus." Batin Marcus bergidik ngeri membayangkan nasibnya sendiri.


"Mollin tadi cari daddy sama Apin sana-sini endak ada. Ternyata sini, hihihi..." Gadis kecil itu terkikik tanpa beban. Berbeda sekali dengan Marcus yang sudah panas dingin memikirkan kemarahan Ana yang mungkin akan meledak karena telah membuat putranya cemong tak karuan.


"K-kau sudah kembali, girl?"


Pertanyaan ambigu itu membuat si kecil Maurin mengernyit. "Yes daddy. Daddy tidak melihat Mollin disini? Mollin endak hantu."


Marcus garuk-garuk kepala. "Eummm, dimana mommy mu."


"Mommy masih di bawah, daddy. Mollin duluan sini."


Marcus bernafas lega. Baiklah. Sepertinya ia memiliki beberapa waktu untuk mengurus putra bungsunya yang masih cemong itu.

__ADS_1


"Woahhhh, adek Acell lucu sekali. Seperti badut. Ahahaha." Seru Maurin begitu melihat sang adik sudah cemong tak karuan. Gadis kecil itupun mendekat dan mencubiti pipi chubby Marcell dengan gemas.


"Kalian disini?"


Suara lembut yang mengalun itu membuat Marcus terlonjak kaget. Laki-laki itu mendelik tak percaya menatap pada sang istri yang sudah berdiri menjulang di ambang pintu. Bukankah Maurin baru saja berkata jika Ana masih di lantai bawah.


Ahhh. Sial. Ia bahkan belum sempat menghilangkan noda-noda itu dari wajah sang putra.


"Apa yang kalian lak--" Ana dibuat tercengang mendapati sang putra dengan wajah cemongnya. Perempuan itu tertegun. Bagaimana bisa bayi laki-laki itu berakhir mengenaskan seperti itu.


"Dadadadadada..."


Si kecil Marcell tampak antusias saat mendapati sang mommy telah kembali. Kedua tangannya itu merentang, ingin segera di gendong oleh Ana.


"Kenapa adek jadi cemong seperti ini, heummm?" Seru Ana menjembel pipi chubby itu dengan gemas.


"Dadadadadada..." Celoteh Marcell menimpali ucapan sang mommy. Meskipun bayi laki-laki itu lebih dekat dengan Ana, namun entah mengapa Marcell lebih fasih jika memanggil nama sang daddy.


"Mommy, adek Acell gemoyi sekali ya myh. Seperti badut, hihihi." Seru Maurin mengompori. Membuat Marcus semakin terpojok saja jika sudah begini.

__ADS_1


"I-itu sayang. T-tadi, baby aku tinggal sebentar karena ingin buang air kecil. Sekembalinya dari kamar mandi, baby malah sudah jadi seperti ini. Ternyata selai yang tadi di makan Maurin tidak di tutup rapat. M-mas tidak tau sayang. Suer. Mas ngga sengaja."


Ana menghela nafas dalam. Membuat Marcus semakin kalang kabut. Apa ia akan segera mendapat penalti yang akan mengancam masa depannya.


"S-sayang, Please. Jangan marah ya. Mas kan ngga sengaja. Ya... ."


Wajahnya sudah memelas bak seorang anak yang meminta permen pada ibunya. Auranya benar-benar berbeda, berbanding terbalik dengan aura kejam yang biasa ia tampilkan di muka umum.


"Sayang... ."


"Mas... ."


Jantungnya semakin berdebar. Bisa gawat kalau ia mendapat kartu merah dari sang istri. Masa depannya bisa terancam kalau begini.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Bagaimana kabarnya nih Chingu kesayangannya othor. Masih semangat ngga nih bacanya, hehehe. Maaf ya kalau othor suka nyangkut nggak jelas, hehehe. Harap dimaklumi ya chingu

__ADS_1


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2