Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mollin Si anak lajin


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Riuh menggema di balik ruangan mewah itu. Ketenangan yang biasa Marcus lewati, kini seolah lenyap terganti oleh celotehan dari si kecil Maurin.


"Daddy daddy, Mollin tantik sheukalli kan?" Seru Maurin meminta simpati sang daddy yang tengah sibuk memasangkan dasi di lehernya sendiri.


"Ouhhh, of course. My little girl always pretty every moments."


Membuat gadis kecil itu memberengut sebal. "Daddy bicalla Linggish lagi. Mollin eundah mengeullti." Cebiknya, menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Oh, sorry, girl. Daddy kelepasan." Timpal Marcus penuh alasan. Pasalnya, ia memang terbiasa berbahasa inggris. Baik di kantor ataupun di rumah.


"Jangan ullang-ullang. Mollin pushing-pushing."


"Baiklah."


Selesai memasang dasi, laki-laki itu bergerak membawa sang putri dalam pangkuannya.

__ADS_1


"Daddy na Mollin tampan sheukalli. Kita mau keummana? Mau peullgi jallan-jallan?" Gadis kecil itu mendusel dalam rengkuhan sang daddy. Sangat manja seperti anak kucing.


Marcus menggeleng. "Sorry girl. Hari ini Daddy harus bekerja. Akhir pekan nanti bagaimana. Daddy akan ajak Maurin dan Mallfin pergi jalan-jalan."


Gadis kecil itu mencebik tanpa menimpali. Maurin tengah merajuk pada sang daddy yang mulai disibukkan dengan pekerjaannya kembali.


"Kalau nanti Daddy pulang bekerja, bagaimana kalau daddy bawakan mainan?" Tawar Marcus tak tega akan sang putri.


Maurin menggeleng. Ia tidak tertarik lagi. Mainannya sudah sangat banyak. Ia hanya ingin pegi liburan bersama. "Mollin mau ikut daddy bekeullja shaja, bolleh?"


Baru Marcus akan mempertimbangkannya, suara Ana sudah mengudara. Perempuan itu terlihat keluar dari ruang walk in closet bersama dengan sang putra yang kini telah rapih dengan penampilannya. "Tidak sayang. Maurin di rumah saja sama Mallfin sama mommy, bagaimana." Tawar Ana.


"Tapi Mollin mau lihat tumpat keullja na daddy, myh. Nanti Mollin bantu-bantu daddy bekeullja eundak pappa. Dullu Mollin duga bantuin mommy cuci badju banak-banak. Mollin anak lajin shuka bantu-bantu." Seru Maurin memuji diri sendiri.


Selain bekerja di toko bunga, Ana juga sering menerima jasa cuci baju. Ia akan menyelesaikan cuciannya saat malam hari, sedang paginya ia akan bekerja di toko bunga milik madam Roselina. Perempuan itu sudah terbiasa memiliki dua pekerjaan setelah melahirkan kedua buah hatinya. Tuntutan ekonomi memaksanya untuk terus bekerja meski terasa amat melelahkan.


Marcus menghela nafas dalam. Lagi-lagi, ungkapan sang putri mampu memporak-porandakan perasaannya. Kenyataan akan pahit getir kehidupan yang harus Ana rasakan demi bisa menghidupi kedua buah hatinya, kembali menyadarkannya akan kewajibannya untuk dapat membahagiakan keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Baiklah. Kalian ikut daddy bekerja." Putus Marcus tak ingin membuat sang putri kembali kecewa untuk kesekian kalinya.


"Yeay... Ashik ashik ashik. Ikut daddy bekeullja."


"Mas, apa tidak apa-apa? Anak-anak pasti akan merepotkan mas nanti saat mas bekerja." Seru Ana mengungkapkan kekhawatirannya.


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak ada meeting di luar nanti. Mereka bisa bermain di dalam ruanganku nanti. Ada Felix juga. Kamu tenang saja."


Ana mengangguk patuh. Jika suaminya saja sudah bilang tidak apa-apa, mau bagaimana lagi. Pun dengan sang putri yang pastinya akan sulit di bujuk nanti.


"Mallfin di rumah saja bersama mommy, Daddy."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2