Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Menemui Suami


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Dering telepon menggema, memaksa Marcus menjeda pekerjaannya sejenak. Dari telepon rumah. Ada apa gerangan hingga membuat kepala pelayan sampai repot-repot meneleponnya.


"Ya. Ada apa?"


"Mas..." Suara lembut itu berhasil membuat sebelah alis itu terangkat. Ternyata Ana, istrinya.


"Ana? Ada apa?" Suaranya melemah, tak sedingin sebelumnya.


"Apa anak-anak menganggu pekerjaan mas? Ana khawatir mereka akan membuat mas kerepotan."


"Tidak, Ana. Mereka sedang sibuk bermain. Mereka sama sekali tidak merepotkan." Ya, walaupun sang putri sedikit membuat onar. Tapi itu masih bisa dimaklumi.


"Eummm, ini sudah mendekati waktu makan siang. Bagaimana makan siang kalian nanti. Apa disana ada kantinnya?"


"Aku bisa memesannya dari luar."


"Atau kamu mau membawakannya kesini sembari memeriksa keadaan anak-anak?" Lanjut Marcus.


"Kebetulan Ana baru saja selesai memasak. Tapi, apa tidak apa-apa?" Lapor Ana.


"Kalau begitu, antarkan saja kesini. Minta supir mengantarkan mu."


"Apa tidak apa-apa kalau Ana kesana? Bagaimana kalau bos nya mas nanti marah?"

__ADS_1


Marcus mengernyit. Bos? Bos yang mana? Bukankah ia yang memiliki pangkat tertinggi disini? Atau jangan-jangan, istrinya itu masih belum mengerti jika dialah pemilik perusahaan ini? "Jangan khawatir. Tidak ada yang bisa memarahiku disini."


Ana menghela nafas dalam. Mustahil jika bos suaminya itu tak memiliki kuasa untuk menegur atau bahkan memarahi bawahannya. "Jika bos mas nanti sampai memarahi mas, lebih baik Ana tidak usah kesana saja. Kasihan mas nanti kalau sampai kena marah."


"Tidak Ana. Nanti saja aku menjelaskannya. Yang penting kamu kesini saja. Aku tunggu. Eummm maksudnya anak-anak menunggumu. Mereka sudah lapar katanya."


Sambungan telepon tertutup. Membuat Ana menatap gagang telepon itu dengan dahi mengernyit bingung.


Mobil mewah itu menghentikan lajunya tepat di pelataran perusahaan dimana sang suami mengais rezeki. Ragu Ana mulai memasuki bangunan pencakar langit itu. Menatap ke sekeliling, tatapannya tertuju pada meja resepsionis dimana tiga orang perempuan tengah berjaga disana.


"Permisi."


Membuat ketiga resepsionis itu sontak mengalihkan atensinya. "Ada yang bisa kami bantu, nona?" Sapa salah satunya, ramah.


"Eummm, bisa saya bertemu dengan suami saya, namanya mas Marcus."


"Kalau boleh saya tau dari divisi mana, nona?"


Ana mengusap tengkuknya ragu. "Saya kurang tau suami saya dari divisi mana. Eummm, tapi saya tau nama panjangnya. Apa anda bisa mencarikannya?"


"Baiklah, tolong sebutkan saja nona."


"Marcus Alldric Willson."


Membuat ketiganya sontak saling pandang dengan dahi mengernyit. Apa mereka tidak salah dengar? Perempuan itu menyebut CEO perusahaan itu sebagai suaminya?

__ADS_1


"Maaf, nona. Disini kami tidak untuk membuat lelucon. Sebaiknya anda segera keluar dari sini sebelum kami memanggilkan security." Geram, sosok resepsionis berwajah culas itu tak segan menegur Ana yang menurutnya sangat lancang.


"Lelucon? Saya tidak sedang membuat lelucon. Saya disini hendak menemui suami saya." Ana masih bersabar, bahkan suaranya tak meninggi atas hinaan yang dilayangkan kepadanya.


Sosok itu tertawa sinis. "Maaf ya nona, kami tidak akan percaya jika pemilik perusahaan ini akan menikahi perempuan seperti anda. Apa anda tidak berkaca terlebih dulu sebelum membuat lelucon seperti tadi? Bahkan model secantik apapun tak akan bisa membuat tuan Marcus luluh dan menikahinya. Apalagi perempuan itu seperti anda ini. Cih."


"Res..." Kedua resepsionis itu menyikut temannya yang sepertinya sudah kelewat batas. Maklum, perempuan itu memiliki paras lumayan. Mungkin hal itu membuatnya sedikit angkuh dan sok berkuasa.


Sedangkan Ana, perempuan itu kini mematung di tempatnya. Suaminya, pemilik perusahaan ini? Kalimat itu berhasil membuat perempuan itu sontak kebingungan. Bukankah suaminya hanya salah satu karyawan biasa disini?


"Mohon maaf nona, jika untuk menemui tuan Marcus harus melakukan janji temu terlebih dulu. Apa anda sudah melakukan janji temu sebelumnya?"


"Eummm, ya. Sebelum kesini saya sudah meneleponnya."


"Baik, kalau begitu saya akan informasikan hal ini kepada sekretaris tuan Marcus lebih dulu."


Baru sambungan telepon itu terhubung, terdengar pekikan keras dari arah sebrang.


"Mommy... ."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Ngga terasa udah triple up hari ini, hihihi

__ADS_1


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2