
°°°~Happy Reading~°°°
Tanpa terasa kandungan Ana kini sudah memasuki minggu-minggu terakhir. Perut yang membuncit itupun terkadang menyulitkan Ana saat tengah beraktivitas, begitu juga saat terlelap di malam hari.
"Kenapa, sayang? Apa terasa tidak nyaman?" Laki-laki itu mengusap helai rambut Ana yang tampak berserakan. Matanya tampak sayu, sepertinya perempuan itu sangat mengantuk. Namun entah mengapa perempuan itu tak kunjung memejam dan hanya menatap dirinya sayu.
"Tidak apa-apa, mas. Ana hanya belum mengantuk saja." Seru Ana setengah berbohong. Padahal nyatanya janin yang ada di dalam perutnya kini tengah berdisko, menendang perutnya tanpa henti hingga menyulitkan dirinya untuk terlelap.
"Kenapa? Apa baby di dalam sana sangat berisik?" Tangan itu bergerak mengusap perut buncit itu. Membuat Ana meringis kala tendangan kuat itu ia dapatkan dari sang calon bayi.
"Kalau mas usap-usap begitu adek nanti semakin menendang, mas." Ringis Ana.
"Padahal mas mau menenangkannya, kenapa dia semakin ngereog?"
"Soalnya adek suka kalau mas usap-usap kaya gitu, jadi makin ada aja tingkahnya mas." Seru Ana frustasi. Ia benar-benar mengantuk saat ini. Tapi saat hendak terpejam, ada saja tendangan maut yang ia dapatkan dari calon bayinya.
"Terus ini mau mas usap-usap nggak nih?"
"Mau, tapi jangan buat adek nendang lagi, Ana udah ngantuk banget ini, mas." Rengek Ana.
"Iya iya, sini."
Perlahan, laki-laki itu bergerak mengusap perut buncit itu. Dan tendangan besar itu kembali Ana dapatkan, membuat perempuan itu sontak saja meringis. Ngilu-ngilu sedap rasanya.
__ADS_1
"Oh, come on baby. Kenapa kamu menendang perut mommy terus, heummm? Apa kamu sedang bermain bola di dalam sana?"
Tendangan-tendangan kecil itu masih terasa di telapak tangan Marcus. Membuat Marcus menghela nafas dalam. "Kalau kamu masih menendang perut mommy, nanti daddy tidak mau lagi menengok kamu, boy?" Ancamnya. Membuat tendangan-tendangan itu perlahan berkurang. Ana yang merasakan nyaman akan usapan Marcus perlahan terpejam. Wajahnya terlihat tenang saat terlelap di dekapan suaminya. Nyaman sekali rasanya. Percayalah, baginya, tidur ternyaman adalah tidur dipelukan suaminya.
"Good night honey."
Cup... .
Marcus mengeratkan rengkuhannya, meresapi setiap kehangatan yang ia rasakan bersama istrinya.
🍁🍁🍁
"Mommy mommy, baby gull na Mollin shudang apa dallam shana? Apa shudang main shallon-shallon shepeulti Mollin?" Seru Maurin ingin tahu. Akhir pekan itu, Maurin hanya menghabiskan harinya di dalam mansion. Bermain apa saja yang ia inginkan dengan ditemani Ana tentunya. Sedang Mallfin, bocah laki-laki itu meminta ditemani Marcus ke ruang kerja milik Marcus untuk mencari buku-buku incarannya.
Gadis kecil itupun mendekat. "Baby gull, baby gull shudang apa dallam shana? Shudang mashak-mashak apa shallon-shallon shepeulti kaka Mollin?" Gadis kecil itu kemudian menempelkan telinganya di perut buncit sang mommy.
"Kata baby gull, baby gull shudang shallon-shallon mommy. Hihihi... Baby gull shuka sheukalli main shepeulti kaka Mollin ya... Hihihi... ."
"Sayang, mommy ingin bertanya sesuatu."
"Yesh mommy?"
"Jika adek bayinya nanti cowok, Maurin tidak apa-apa kan sayang?"
__ADS_1
Membuat gadis kecil itu sontak mengernyit. "No mommy, baby gull na Mollin kan tewek. Mollin eundak mau baby boyi. Mellepotkan shepeulti adek Acell shama adek Lucin."
"Sayang, dengarkan mommy. Cewek ataupun cowok, itu sama saja. kakak Maurin nanti akan tetap sayang sama adek kan?"
"Ya, kaka Mollin kan kaka baik lajin meunabung, hallush shayang shama adek bayi oek-oek, mommy."
"Baiklah. Jika nanti adek bayinya Maurin cowok, Maurin mau berjanji pada mommy, Maurin sayang sama adik?"
"Kallau Mollin beulldandi, mommy sheunang?"
"Ya, tentu saja sayang. Mommy akan sangat senang jika anak-anak mommy saling menyayangi satu sama lain."
"Baiklah mommy. Mollin beulldandi." Putus Maurin.
"Tapi, kallau nanti adek bayi oek-oek na Mollin towok, mommy hallush beulldandi buatin Mollin dedek bayi egin yang gull."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1