
°°°~Happy Reading~°°°
Khawatir jika kejadian siang itu kembali terulang, Marcus akhirnya memilih tinggal. Si kecil Maurin yang mengetahui perihal sang daddy akan menginap di rumahnya kontan saja girang tak terkira. Bahkan kebahagiaannya kini berhasil menghapuskan trauma akan kejadian siang mencekam itu.
"Nanti kita tidull bullempat shama mommy shama Apin ya daddy..." Gadis kecil yang tengah duduk di pangkuan Marcus itu terlihat merajuk.
Ana juga Marcus sontak dibuat tak percaya. Keduanya menatap bingung satu sama lain.
"Tidak, Sayang." putus Ana. Tidak mungkin mereka tidur bersama, apalagi dengan statusnya yang tak ada ikatan pernikahan dengan ayah dari anak-anaknya.
Gadis kecil itu mengernyit, menatap sang mommy penuh kecewa. "Keunnapa?"
Ana gelagapan. "Kan kasurnya kita kecil sayang, jadi tidak bisa tidur berempat."
Gadis kecil itu melompat dari pangkuan sang daddy, kaki mungilnya mengalun cepat memasuki ruang kamarnya yang telah dihuni oleh si kecil Mallfin.
Apa Maurin marah. Baru saja Ana ingin mengejar, gadis kecil itu sudah kembali dengan sebuah kaleng di tangannya.
"Mollin shudah meunabung banak-banak, mommy. Kita bisha bulli kashull beshall biall bisha bobok shama-shama, hihihi... ."
Dengan bangganya gadis kecil itu memperlihatkan isi kalengnya. Membuat hati sepasang orang tua itu berdenyut nyeri. Apalagi saat menatap kaleng yang hanya berisi uang koin yang tak seberapa itu. Miris rasanya.
Apa begitu inginnya gadis kecil itu untuk memiliki keluarga yang lengkap?
"Sayang..." Ana mendudukkan sang putri dalam pangkuannya. Maurin, harus diberikan pengertian.
"Daddy bisa tidur disini. Tapi kita tidak bisa tidur bersama. Kalau Maurin mau tidur dengan daddy, Maurin bisa tidur berdua dengan daddy."
__ADS_1
Gadis kecil itu terdiam, menyerap semua perkataan sang mommy. "Eundak bisha tidull shama mommy shama Apin duga?"
Angguk Ana menatap sang putri penuh rasa bersalah. Inginnya memberikan keluarga yang lengkap, namun masih ada ganjalan di hati terdalamnya. Sang putra masih belum bisa menerima kehadiran daddy nya.
"Keunnapa?"
"Karena Mallfin masih sakit, Sayang. Kalau kita tidur bersama, Mallfin bisa saja terluka. Maurin tidak mau kan Mallfin sakit lagi?"
Gadis kecil itu menggeleng lemah. "Tapi Mollin mau bobok shama mommy shama daddy, hiks... ." Air mata itu luruh. Menahan rasa untuk memendam keinginannya, rasanya begitu menyesakkan.
Marcus meraih tubuh mungil itu dalam dekapannya. "Shuuut, kenapa menangis, heummm... Nanti jika putri daddy menangis, nanti cantiknya hilang bagaimana?".
Gadis kecil itu diam tak menimpali, Maurin hanya terisak sembari merengkuh kuat sang daddy. Tak rela jika malam ini terlewat begitu saja tanpa rengkuhan dari sang daddy.
"Putri daddy ngambek? Apa Daddy pulang saja?"
"Kalau begitu kamu harus tersenyum, girl. Biar daddy bisa bermimpi indah nanti." seru Marcus penuh perhatian. Tangannya bahkan kini bergerak mengusap helai rambut dalam rengkuhan nya.
"Sudah malam, Girl. Maurin harus tidur."
Gadis kecil itu terlihat enggan melepaskan rengkuhannya. "Daddy eundak bolleh manna-manna."
"Iya, daddy akan disini. Sekarang kamu tidur, sudah malam."
"Mau puk-puk daddy."
Karena tak ingin mengganggu Mallfin yang sudah terlelap di ranjang kamarnya. Terpaksa laki-laki itu menepuk punggung kecil itu sembari menimangnya dalam gendongannya.
__ADS_1
Beberapa menit, gadis kecil itu sudah terlelap nyenyak. Rengkuhan hangat sang daddy benar-benar terasa menenangkan hingga membuatnya terlena dalam mimpi indahnya.
Selepas merebahkan sang putri di kamarnya, Marcus kembali mendudukkan diri di bangku kursi ruang tamu. Laki-laki itu terlihat kebingungan, bagaimana ia akan tidur disini sedang Ana hanya memiliki satu ranjang. Kursi tamu pun hanya kursi kayu sederhana satu dudukan.
"Tuan..." Marcus sontak mendongak menatap pada Ana yang tengah berdiri dihadapannya.
"Saya disini hanya ada satu kamar dan satu ranjang. Anda pulanglah, tidak apa-apa. Anak-anak akan aman bersama saya."
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan keselamatan mereka dengan mata kepalaku sendiri. Cukup kemarin aku kecolongan. Aku bisa tidur di mana saja."
Ana menghela nafas dalam, Marcus benar-benar tak terbantahkan. Laki-laki itu sangat keras kepala. Percuma ia bernegosiasi dengannya. "Baiklah. Saya ambilkan bantal dulu untuk anda."
Ana mengambil sebuah tikar, bantal, juga selimut untuk Marcus. Itu selimut yang biasa ia pakai bersama anak-anak. Tidak ada lagi, nanti ia akan memakai kain seadanya.
"Maaf hanya bisa menyediakan tempat seperti ini. Tapi, jika tidak nyaman. Anda pulanglah. Kami baik-baik saja disini."
Ana lantas kembali ke kamarnya, meninggalkan Marcus yang kini menatap miris pada tempat tidur yang dibuat Ana untuknya.
Sebuah tikar dengan bantal juga selimut di atasnya. Apa ia benar-benar bisa tidur disana? Membayangkannya saja Marcus merasa tak sanggup. Tapi bagaimana lagi. Tak ada pilihan lain. Sebenarnya tidur di mobil pun bisa. Tapi ia benar-benar ingin berada di sisi anak-anaknya. Berada di mobil akan terlalu jauh dari jangkauan anak-anak yang mungkin membutuhkan bantuannya.
Mau tak mau Marcus akhirnya merebahkan tubuhnya. Punggung kekarnya seketika bertubrukan dengan lantai yang dingin. Keras, ia merasakan rasa tak nyaman. Tapi bagaimana lagi, ini adalah konsekuensi dari pilihannya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕