
°°°~Happy Reading~°°°
"Kalian mencurinya?"
Laki-laki itu gelagapan. "T-tidak nyonya. Kami sudah minta izin tadi."
"Minta izin sama pohonnya aja." Batin laki-laki itu tak berani terucap. Bisa berabe kalau sampai nyonya mudanya itu tau jika yang digenggamnya kini adalah mangga hasil curian.
"Beneran? Kamu tidak sedang berbohong kan?" Selidik Ana.
"B-benar nyonya. Saya tadi mengambilnya dengan Hollan. Anda bisa menanyakannya sendiri." Laki-laki itu menyikut teman di sampingnya. Memberikan kode agar mengikuti permainannya saja dari pada harus dipenggal disana.
"Benar, Hollan?" Tanya Ana to the point.
"B-benar, nyonya. Apa anda perlu bukti dengan mengecek CC TV?" Seru Hollan setengah ragu. Ini bagai permainan kartu. Jika Ana percaya, mereka akan selamat. Jika Ana tak percaya dan meminta bukti rekaman CC TV, tamat sudah riwayat mereka.
"Sudahlah sayang. Tunggu apalagi. Kupas mangga nya sekarang. Mas sudah pengen banget nih..." Rengek Marcus menatap buah mangga itu penuh minat.
"Sabar dong mas, mas nih ngga sabaran banget kaya Maurin." Keluh Ana. Membuat si kecil Maurin yang kini menjadi tertuduh pun dibuat tak terima.
"No no mommy, Mollin pashien kok. Mollin kan anak baik lajin meunabung, hallush pashien. Beunnal kan glanny?" Seru Maurin meminta pembelaan.
* pashien : patient / sabar
__ADS_1
"Good girl."
"Deungall mommy, kata glanny Mollin googel. Hihihi... ."
"Sabar apanya. Bukankah setiap pagi kamu teriak-teriak karena menunggu daddy mual-mual dulu?" Seru Mallfin setelah sekian lama. Membuat si kecil Maurin sontak menatap laki-laki itu dengan tatapan sengit.
"Itu kalluna daddy long-long sheukalli Apin. Nanti kallau kita teullambat peullgi shekull na gimana? Apin mau dawab tanggung?"
"Sudah sudah. Kok malah jadi pada berantem begini, sih..." Seru mama Elena berusaha melerai.
"Itu glanny, Apin shuka bikin galla-galla shama Mollin. Mollin eundak teullima." Protes Maurin.
"Sudah sudah. Nanti adek bayinya terganggu karena kalian berisik seperti ini."
"Oh iya." Sentak Maurin baru ingat jika ada adek bayi di perut sang mommy.
"Tidak sayang. Tidak apa-apa. Adek bayinya masih nyenyak tidurnya."
Membuat gadis kecil itu menghembuskan nafas lega. "Syukull-syukull. Mollin takut sheukalli mommy. Hihihi... .'
"Tidak apa-apa sayang."
Kupas kupas kupas, akhirnya rujak mangga itu akhirnya jadi juga. Marcus yang sudah tak sabar untuk mencicipi buah itu seketika menggigitnya. Gigitan pertama Marcus tampak memejam.
__ADS_1
"Kenapa mas, asam ya?"
Membuka matanya, laki-laki itu menggeleng. "Ini enak banget sayang. Serius deh. Kamu ngga mau coba, heummm... ."
"Ngga, mas aja deh." Ana menelan ludah kasar. Tidak bisa dibayangkan akan se-asam apa buah mangga muda itu jika di makan.
"Mollin mau Mollin mau... Kashih Mollin shatu, mommy."
Tau jika sang putri tak akan bisa dicegah bagaimanapun caranya, Ana terpaksa memberikan sepotong kecil buah mangga muda itu pada sang putri, membuat gadis kecil itu melahapnya dengan cepat. Dan--
"Hweeee... ."
Kan, benar. Gadis kecil itu bahkan langsung meludahkannya saat itu juga. Karena tak mungkin Maurin akan tahan dengan buah yang asam-asam. "Mommy, lasha na eundak ennak sheukalli. Wleee, lidah Mollin mati lashaaa... Eundak ennak. Mollin eundak shuka. Mommy buang dauh-dauh itu na."
"Benarkah? Ini enak sekali girl. Lihat daddy." Laki-laki itu memasukkan dua potong mangga muda itu ke dalam mulutnya. "Eummm, enak sekali, girl."
"Iya, sayang. Mungkin tadi mangganya busuk jadi tidak enak. Coba yang ini, pasti enak." Mama Elena menyodorkan sepotong mangga yang lain. Maurin yang percaya akan perkataan sang granny pun mencoba memakannya kembali. Dan kejadian yang sama terulang kembali, gadis kecil itu melepehkan isi mulutnya saat rasa asam itu begitu mendominasi lidahnya.
"Wleeee, eundak enak glanny. Glanny beullbohong shama Mollin ya. Glanny beulldosha..." Seru Maurin tak terima.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕