Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Kok Masih Kecil?


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Malam semakin larut, anak-anak baru saja terlelap setelah seharian ini lelah berjalan-jalan di pusat kota Singapura. Ana baru saja mengistirahatkan tubuhnya, lelah juga ternyata. Padahal selama jalan-jalan tadi, ia banyak duduk dengan Hanna yang juga tengah mengandung. Meski tidak mengalami gejala kehamilan, tapi Ana akui ia jadi mudah lelah dan mengantuk.


"Anak-anak sudah tidur?" Marcus yang baru saja menerima telepon dari asistennya kini mendekat pada Ana yang tengah menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya yang masih mengenakan kimono mandinya.


"Sudah, mas. Ini mas ganti baju dulu. Takutnya nanti mas malah masuk angin." Peringat Ana, khawatir jika suaminya itu sampai masuk angin karena selama menelpon tadi suaminya hanya mengenakan kimono mandinya bahkan dengan jendela yang dibiarkan terbuka lebar dengan angin malam yang terasa menusuk tulang.


"Sepertinya tidak perlu." Seru Marcus singkat. Membuat Ana sontak mengernyit, menatap bingung pada Marcus yang kini perlahan mendekat ke arahnya.


"Mas tidak kedinginan?"


Laki-laki itu hanya menggeleng dan segera merengkuh istrinya yang terlihat kebingungan.


"Capek ya?" Seru Marcus setelah melepaskan rengkuhannya.


"Iya, sedikit mas. Padahal tadi Ana cuma duduk-duduk aja ya. Tapi berasa capeknya. Mungkin efek hamil jadi gampang capek. Ana juga gampang ngantuk sekarang." Adu Ana tanpa sungkan.


"Dia tidak ngerepotin kamu kan, Sayang?" Seru Marcus sembari mengusap perut rata sang istri.


"Tidak, mas. Adek kan anak pintar, iya kan dek?" Timpal Ana ikut mengusap perutnya.

__ADS_1


"Kok masih kecil aja ya sayang. Kapan gedenya sih?" Keluh Marcus tak sabar menanti kelahiran sang calon bayi.


"Kan baru 9 minggu, mas. Jadi ya masih belum kelihatan perubahannya." Jemarinya bergerak mengusap rahang tegas itu. Wajah Marcus yang sedikit cemberut membuat wajah itu terlihat sangat menggemaskan.


"Katanya, bayi di dalam perut bisa menendang ya Sayang?" Lihat saja wajah polos itu, terlihat sangat menggemaskan.


"Iya, mas. Kalau usia kehamilan sudah memasuki 4 atau lima bulan, adek mulai aktif menendang."


"Masih lama dong." Seru Marcus mencebikkan bibirnya. Padahal ia sudah tidak sabar ingin merasakan tendangan pertama dari calon bayinya.


"Mas udah ngga sabar ya ngerasain tendangan adek?"


Membuat Ana seketika itu terbahak. "Mas ini ada-ada aja sih. Ya ngga bisa lah mas. Adek aja sekarang mungkin baru sebesar buah anggur."


"Kecil banget ya." Keluhnya. "Kapan kamu menendang baby." Seru Marcus sembari menciumi perut sang istri.


"Mas tau, dulu waktu Ana hamil anak-anak, tendangannya hampir setiap saat Ana rasakan. Ana kira dulu Mallfin yang aktif menendang, karena setau Ana anak laki-laki memang selalu aktif saat dikandungan. Tapi rupanya Ana salah. Saat Ana periksa USG, Ana baru tahu ternyata yang selama ini aktif menendang adalah Maurin, Mallfin malah lebih banyak diam dan anteng selama di kandungan. Dan semua itu terbawa hingga mereka sebesar sekarang."


"Kamu sudah melewati begitu banyak hal yang berat, Sayang. Pasti itu tidak mudah untuk kamu lalui seorang diri. Terkadang mas menyesal, mengapa mas tidak mencari kamu dari dulu."


"Mas... Ana tidak sendiri. Mas lupa, ada anak-anak yang setia menemani Ana kemana-mana. Mereka sangat penurut dan tidak pernah membuat Ana kerepotan."

__ADS_1


"Meski mas tidak bisa menebus waktu lima tahun yang telah terbuang, mas akan berusaha membahagiakan kamu dan anak-anak. Mas akan berusaha menjadi suami dan ayah yang sempurna untuk kalian. Tetaplah di sisiku, karena tanpa kalian mas tidak akan bisa hidup."


Laki-laki itu mendekatkan wajahnya, perlahan bibir itupun menyatu, keduanya berciuman dengan begitu mesra di bawah terang sinar rembulan yang menyorot dari kaca jendela yang dibiarkan terbuka.


Tiba-tiba Ana menghentikan aksi keduanya.


"Kenapa sayang?"


"Mas tutup jendelanya dulu. Malu kalau ada yang lihat."


Membuat Marcus seketika itu menghela nafas dalam. Setengah malas laki-laki itu menyaut remote di atas nakas dan di detik selanjutnya jendela itu tertutup secata otomatis.


"Bisa kita melanjutkannya, Sayang?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2