
°°°~Happy Reading~°°°
"Tidak, ini sangat bau. Aku tidak bisa menahannya. Apa kalian tidak mual menciumnya?" Keluh Marcus sembari menutup hidungnya rapat-rapat. Membuat seluruh peserta rapat kali itu dibuat kebingungan. Apakah pimpinan mereka itu tengah melawak atau hanya ingin memancing mereka untuk berbuat kesalahan?
"Uwekkkk... ."
Pekikan itu membuat seluruhnya seketika tersentak. Apa laki-laki itu tidak sedang bercanda sekarang?
Marcus segera bangkit dari duduknya saat rasa mual itu tak lagi dapat tertahankan. Tanpa memperdulikan tatapan-tatapan penuh tanya itu, Marcus segera melenggang keluar dari ruangan rapat dengan tergesa, dibuntuti Felix yang kini ikut berlari mengejar sang atasan yang sudah melesat di depan.
"Uwekkkk... ."
"Uwekkkk... ."
Berkali-kali Marcus mengeluarkan isi perutnya. Laki-laki itu sudah sangat lemas, namun bayang-bayang akan bau menjijikkan itu terus saja hadir dalam pikirannya, membuat laki-laki itu terus saja memekik mual.
"Fell... ."
Lihat, betapa lemahnya laki-laki itu sekarang. Marcus yang memiliki tubuh kekar itu bahkan kini membutuhkan bantuan sang asisten agar bisa memapah dirinya keluar dari kamar mandi untuk menuju ruang istirahatnya.
__ADS_1
"Dokter akan kesini sebentar lagi, tuan. Saya akan mencoba menghubungi istri anda. Anda istirahatlah terlebih dulu."
Angguk Marcus tanda persetujuan. Laki-laki itu benar-benar tak berdaya meski hanya untuk mengeluarkan sepatah kata.
Kedua pasang kaki itu melangkah tergesa memasuki perusahaan Willson Corp. Ana yang tadi mendapatkan informasi jika sang suami mengalami mual di tengah rapatnya seketika panik dibuatnya. Bahkan treatment yang tadi dijalaninya bersama sang mama belum selesai dilakukan, namun perempuan itu lebih memilih meninggalkan itu semua demi bisa menyusul sang suami yang sudah tergolek tak berdaya.
"Dimana suami saya, Fell?" Tanya Ana dengan langkah tergesa.
"Di ruang istirahat, nona. Dokter akan tiba sebentar lagi."
Dengan langkah memburu, perempuan itu memasuki ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Apalagi saat mendapati suaminya itu tengah terbaring dengan wajah memucat nya.
"Mas..." Ana mendekat. Suaranya bergetar menahan tangis, tak sanggup rasanya melihat sang suami kini terbaring lemah di ranjangnya.
Membuat perempuan itu kemudian merengkuh tubuh itu erat. "Harusnya Ana temani mas saja. Maaf--" isak Ana. Entah kemana perempuan tangguh itu berada. Ana kini sudah berubah menjadi sosok yang cengeng.
"Tidak apa-apa. Mas baik-baik saja."
Perlahan Marcus melepaskan rengkuhannya, menatap pada manik mata yang sudah memerah akibat tangis yang tadi luruh di pundaknya.
__ADS_1
"Kenapa menangis, heummm..." Seru laki-laki itu mengusap isak dari wajah sembab sang istri.
"Ana khawatir sama mas. Hiks..." Bukannya mereda, tangis itu malah semakin luruh tak tertahankan. Rasa bersalah itu membuat Ana mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Bukankah mas sudah katakan kalau mas baik-baik saja. Tadi hanya mual sedikit. Sekarang sudah tidak apa-apa..." Seru Marcus setengah berbohong. Padahal ia menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya.
"Maaf, tuan. Dokter sudah tiba."
"Baiklah. Suruh masuk."
Dokter perlahan bergerak memasuki ruangan itu dengan tas kerja ditangannya. Memaksa Ana untuk segera menyingkir, mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa keadaan sang suami yang sedang tidak baik-baik saja.
"Saya akan meresepkan obat anti mual untuk anda. Tapi, sebaiknya kita segera melakukan pemeriksaan di rumah sakit, untuk tuan Marcus juga nona Ana." Putus dokter Wicaksono setelah memeriksa Marcus dengan alat-alat yang tadi dibawanya. Tak lupa ia juga menanyakan ini itu pada Marcus demi memperkuat dugaan klinisnya.
"Kenapa istriku ikut di periksa juga?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕