
°°°~Happy Reading~°°°
Siang itu, Ana bersama dengan kedua buah hatinya tengah menikmati makan siang bersama. Seperti semalam, mereka kembali mendapat kiriman makanan dari orang suruhan Marcus, membuat mereka kembali menikmati sajian mewah ala kalangan berduit.
Tok tok tok... .
Tok tok tok... .
Di tengah ritual makan siang itu, terdengar gedoran pintu yang tak henti menggaung, memaksa Ana berdiri dari duduknya, melangkah ke depan, membukakan pintu pada sosok tamu yang bertandang ke rumahnya dengan tidak sopannya.
"Hehhh orang miskin, mana anakmu itu. Berani-beraninya dia cari gara-gara dengan anakku. Kau tidak tau kalau suamiku seorang polisi, mau aku penjarakan kalian semua, huhhh..." Sosok itu merutuk dengan kerasnya hingga membuat beberapa warga yang tak sengaja melintas akhirnya mulai mendekat.
"Maaf mba Prita, apa maksud mba?" Dalam situasi itupun Ana masih bisa menimpali dengan santainya.
"Maksudku? Kau bertanya apa maksudku? Dengar! Putrimu itu dengan tidak tau malunya mengganggu anak kesayanganku. Dia sampai demam dan menangis karena kenakalan putrimu itu."
"Maaf mba. Putriku tidak pernah berlaku seperti itu. Mungkin ini hanya kesalahpahaman saja."
Ana tau, Maurin tidak seperti itu. Dia gadis kecil yang bahkan tak berani merebut mainannya sendiri dari teman-teman yang meminjamnya.
Apa lagi dengan Bobby. Maurin bahkan sering pulang dalam keadaan menangis karena ulah Bobby yang selalu saja mengusiknya. Mengatai gadis kecil itu sebagai anak haram hingga Maurin kecil akhirnya menangis dan merengek mencari daddy nya.
__ADS_1
"Cih, dasar. Kau saja yang tidak tau bagaimana buasnya anak haram mu itu."
Membuat Ana sontak tersulut. "Mba boleh saja merendahkan saya, tapi tidak dengan anak-anak saya mba. Tidak ada anak haram di dunia ini. Semua anak dilahirkan sama."
"Lalu apa sebutan anak yang lahir diluar pernikahan huh... Anak sial*n? Atau anak pelac*r?"
"Cukup mba. Lebih baik mba pulang dulu dan dinginkan pikiran mba. Baru setelah ini kita bicarakan lagi. Putra saya baru saja sembuh dan saya harus merawatnya."
Ana hendak mendorong pintunya, sebelum akhirnya perempuan itu mendekat kemudian menampar keras pipi kirinya.
Plakkk... .
"Itu karena kau sudah berani mengusirku."
Plakkk... .
"Karena putrimu telah membuat putraku celaka. Setelah ini kalian tidak akan bisa hidup tenang. Akan aku pastikan kalian hidup sengsara dan segera enyah dari kampung ini. Camkan itu baik-baik."
Perempuan itu berbalik pergi meninggalkan Ana yang masih mematung di tempatnya. Sebelah pipinya bahkan kini memerah saat tamparan keras itu melayang disana. Sakit dan perih kini tak sebanding dengan umpatan cemoohan yang terus saja menghujam. Juga tatapan merendahkan dari beberapa pasang mata yang menatapnya penuh hina.
Ana menghembuskan nafas kasar. Tidak ada gunanya juga meladeni mereka. Memberikan penjelasan pun rasanya juga percuma. Lebih baik ia melanjutkan makan siangnya bersama anak-anaknya.
__ADS_1
"Mommy, hiks..."
Baru saja Ana menutup pintu dan berbalik, terlihat gadis kecil itu berdiri di balik tembok dengan isak yang kini meluruh dari wajahnya. Memaksa Ana untuk segera mendekat pada putri kecilnya.
"Maurin kenapa sayang... ."
"Mommy, Mollin beullshallah, hiks..." isak Maurin terbata.
"Tidak sayang. Maurin tidak bersalah. Kenapa Maurin menangis?" Diusapnya isak itu dari wajah sang putri. Sepertinya Maurin telah melihat pertengkarannya dengan Prita, sosok yang selalu saja menghina juga merendahkannya karena dulu suaminya pernah berusaha mendekatinya.
"Keumallin Mollin peullgi ballash dundam shama daddy, Mollin beullshallah myh. Kalluna Mollin, Bobby sheuball tullush lapoll shama nene shihill itu, hiks... ."
"Apa nanti daddy na Bobby hukum mommy? Mollin eundak mau mommy hukum-hukum. Mollin eundak mau, hiks... ."
"Tidak sayang, tidak apa-apa. Tidak ada yang bisa menghukum kita."
"Ayo kita shampellin daddy shaja myh. Biall daddy hukum melleka kalluna shudah pukull mommy banak-banak, hiks... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕