
°°°~Happy Reading~°°°
Manik mata itu menatap kosong pada sepasang kembaran yang masih terlelap nyenyak dalam tidurnya. Hela nafas terdengar berat. Ana sungguh dilema. Tiga hari berlalu, namun sampai saat itu, ia masih tak dapat menentukan pilihannya.
Ingin memilih pergi saja, namun bagaimana dengan kedua anaknya. Ia bahkan tak dapat menjamin kehidupan mereka akan lebih baik dari pada sebelumnya.
Namun untuk menikah. Sungguh Ana tak bisa. Rasa sakit itu masih membekas. Trauma itu sulit untuk dilupakan.
Ana dilema. Kedua pilihan itu nyatanya membuat ia sama tersiksa.
"Mommyh..." Gadis kecil itu menggeliat kecil. Maurin akhirnya terbangun setelah tertidur pulas di atas ranjang barunya. Ranjang tambahan yang Marcus persiapan untuk gadis kecilnya.
"Putri cantik mommy sudah bangun?" Tangannya mengulur, mengusap helai rambut sang putri yang tampak acak-acakan.
"Mollin mau mandi myh. Mollin bau digong." Gadis kecil yang dulu enggan menyentuh air kini nampak bersemangat membersihkan diri. Entah apa yang membuat gadis kecil itu tampak bersemangat pagi ini.
"Baiklah, mommy siapkan airnya dulu."
Satu jam berlalu, si kecil Maurin telah siap dengan penampilannya, dan Mallfin pun telah bangun dari tidurnya.
Tak lama pintu terdengar dibuka, menampilkan sosok jangkung yang sejak pagi sudah di nantikan oleh si kecil Maurin. Membuat gadis kecil itu sontak melompat, berlari merengkuh sosok yang beberapa hari ini selalu datang mengunjunginya.
"Uncle datang... Uncle datang... ."
__ADS_1
Mendapat serangan mendadak dari gadis kecil itu, membuat Marcus refleks merengkuhnya, menggendongnya dengan kasih sayang yang kian membuncah dada.
"Uncle Hillo. Mollin dah mandi loh... Mollin tantik kan..." Gadis kecil itu mengerling manja.
"Yah. Kamu cantik, girl."
"Tadi Mollin banun sheundilli, eundak banunin mommyh. Apin kallah. Apin banun shiang-shiang. Itu ballu mandiin mommy, hihihi..." Tunjuk Maurin pada Ana yang tengah membersihkan tubuh sang putra dengan sehelai kain basah.
"Baiklah. Kau pemenangnya." Gemas, Marcus pun menoel hidung kecil sang putri.
Marcus perlahan mendekat pada sang putra yang sudah selesai dibersihkan. Laki-laki itu pun duduk di kursi sebelah sang putra dengan Maurin yang bertengger di pangkuannya, manik matanya yang tajam kini tak lepas dari bocah laki-laki didepannya.
"Sudah lebih baik?"
Mallfin mengangguk, kemudian melengos begitu saja. Membuat Marcus kembali dibuat kecewa. Mallfin benar-benar tidak mudah untuk dihadapi. Dia tidak mudah didekati, dan selalu saja menghindar dari semua perhatian yang ia beri.
"Mallfin tidak suka kamu disini!"
Kalimat itu membuat Ana juga Marcus tersentak hebat, tiga hari Marcus selalu berkunjung, bocah laki-laki itu bahkan tak pernah mengeluarkan kata. Dan kini, seolah telah muak dengan segalanya, Mallfin akhirnya membuka suara.
"Mommy Mallfin tidak mau dia disini, hiks..." Mallfin terisak, membuat Ana terkesiap.
"Sayang, tidak apa. Uncle hanya ingin berkunjung."
__ADS_1
Kebenaran akan Marcus adalah ayah dari kedua anaknya, Ana belum berani membuka. Ana ingin memberikan mereka waktu untuk dekat dan saling menerima satu sama lain. Apalagi Mallfin, bocah laki-laki itu sangat sulit untuk di luluhkan.
"Orang itu pergi saja. Mallfin tidak mau. Mallfin tidak mau mommy menangis lagi, hiks..." Raung Mallfin, tangannya mengulur menggenggam tangan Ana seolah ingin melindungi.
"Tidak sayang. Tidak apa. Uncle hanya berkunjung sebentar." Ana mencoba menenangkan sang putra, tangannya bergerak lembut mengusap wajah sang putra yang basah akan isaknya.
"Tidak mau. Dia selalu membuat mommy menangis. Mallfin tidak mau."
Isak itu semakin deras mengalir membasahi wajah Mallfin yang perlahan memucat, selang infus yang menempel di tangannya perlahan berubah warna. Tangannya yang bergerak bebas menggenggam tangan sang mommy, membuat darah itu perlahan naik.
Membuat Ana sontak dibuat panik tak tertahankan.
"Sayang, Mallfin tenang dulu. Tidak apa. Mommy baik-baik saja." Perempuan itu merengkuh sang putra, menenangkannya sembari menunggu dokter datang setelah menekan tombol darurat.
Tak sampai lima menit, dokter berbondong-bondong memasuki kamar VVIP itu. Mengganti selang infus Mallfin yang sudah tercemar oleh darahnya. Dan memeriksa keadaan Mallfin yang kini tak baik-baik saja.
"Uncle, Apin keunnapa? Apin tatit lagi?" Tanya Maurin, keduanya memilih keluar ruangan. Sedang Ana menemani sang putra yang masih diperiksa didalam.
"It's ok. Mallfin baik-baik saja, girl."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
__ADS_1
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕