Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Same Story


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Di tengah lampu yang temaram, sosok itu tengah menikmati wine ditangannya. Teguk demi teguk itu ia nikmati seorang diri hingga sebotol wine kini telah tandas dari tempatnya.


Marcus meletakkan gelasnya dengan kasar hingga menimbulkan suara nyaring di tengah hening malam. Sorot matanya jelas menunjukkan kegundahan. Dua minggu berusaha mendekatkan diri pada sang putra, namun bocah laki-laki itu selalu saja menolak kehadirannya.


Marcus seolah kehabisan akal. Ia bahkan sosok yang tak pernah berhadapan dengan anak kecil dan kini di paksa untuk bisa meluluhkan anak kandungnya sendiri.


"Kau masih tak bisa melupakan dia?!"


Suara berat itu berhasil membuat Marcus menoleh. "Rupanya kau," sapanya tak ramah. Langkah kakinya mengalun mendekati pada sosok itu dengan gelas dan botol wine yang ada ditangannya.


"Ya, siapa lagi yang akan datang menemui orang gila selain aku."


Membuat Marcus sontak berdecak, tak rela dianggap gila oleh teman sekaligus saudara jauhnya itu.


"Apa dia secantik itu sampai membuatmu seperti ini?" cibir sosok itu.


"Carilah calon istri dan hiduplah bahagia. Buktikan jika kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia," saran sosok itu peduli.


"Teressa. Dia sangat murah*n. Ku dengar kini dia berpacaran dengan produsernya sendiri demi bisa memerankan satu projekc film. Ck, benar-benar memuakkan."


Membuat tangan itu seketika mengepal. Urat-urat tangannya terlihat menonjol menunjukkan amarah membuncah.


"Kau masih meminum itu? Apa itu yang membuatmu gila sekarang?" Tunjuk sosok itu pada botol-botol wine yang berserakan di atas meja.


"Apa kau mau menjadi gila denganku?" Ajak Marcus tanpa pikir panjang.


"Ck. Aku akan di usir dari kamar oleh istriku kalau dia sampai tau."

__ADS_1


"Kau menjadi tidak seru sekarang." Sembari menenggak wine yang ada ditangannya dengan sekali tegukan.


"Tapi hidupku lebih bahagia sekarang. Aku tidak pernah menyesal meninggalkan itu semua," ucap sosok itu sok bijak sembari membuka botol soda.


Marcus mengusap rambutnya frustasi. "Vell... ."


"Heummm... ."


"Aku--memiliki anak."


Uhukkk uhukk... .


Membuat Marvell seketika itu tersedak. Perih ia rasa saat air soda itu menyakiti tenggorokannya.


"Shhhht. Kau membuat lelucon hanya untuk menyiksaku?!" Kesal Marvell mengusap mulutnya dengan jengkel.


"I'm serious."


"Heummm. I have twins."


"What!!! Twins?! Are you crazy?"


"Kau-- kapan kau menikah huh... Kau diam-diam menikah dibelakang ku?! Tanpa memberi kabar?!"


"We have same story."


(Kita memiliki kisah yang sama.)


Membuat dahi itu mengernyit bingung "What--"

__ADS_1


Mata tajam itu seketika melebar. "Oh God. Kau memperkosa perempuan?!" Sentak Marvell setelah mengerti maksud ucapan Marcus sebenarnya.


Tangan itu mengusap wajah frustasi. "Yes. I did it."


"Saat itu, aku melihat Teressa. Aku marah dan meminta seseorang mengirim perempuan ke kamarku. Ku pikir dia memang seorang pelac*r, aku salah sangka. She's still virgin."


"Oh, shiiit. Kau harus membuat perhitungan pada seseorang yang telah mengirim perempuan itu ke kamarmu, Marc." Saran Marvell setelah melewati pengalaman serupa.


"Lalu, apa kau sudah bertemu dengan anak-anakmu?"


"Heummm. Tapi-- putraku sepertinya tidak mudah didekati. Dia selalu menolakku dan selama dua minggu ini dia selalu menghindar."


"Sama halnya dengan putraku. Dulu dia bahkan sangat memusuhiku karena dia pikir ibunya selalu menangis karena diriku. Sampai suatu saat aku menolongnya saat dia hampir tenggelam, dia mulai melunak."


"Apa aku harus menabrakkan diri di jalan raya?!"


Membuat tawa itu seketika menggelegar. "Ahhahaha, kau sepertinya benar-benar gila."


"Shiiit. Kau kepar*t."


"Vell. Please tell me. What should I do."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Masih inget dengan Marvell suami Anelis?


Happy reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2